Tuesday, February 22, 2011

Jodoh Itu Di Tangan Siapa?

Menurut agama yang saya yakini, ada tiga hal yang menjadi rahasia Tuhan bagi hamba-Nya, yaitu; jodoh, rejeki, dan ajal. Ketiga hal itu adalah misteri bagi ciptaan-Nya. Tak ada satu pun manusia yang bisa dengan tepat mengetahui kapan ajal menjemput. Sekarang saya bisa saja dengan lancar membicarakan topik ini, tapi setelah tulisan ini selesai, siapa yang tahu kalau ternyata saya mati. Begitu juga dengan rejeki. Terkadang saya sudah mumet memikirkan dana hidup dari orangtua yang menipis, tapi begitu saya ikhlas dengan rejeki yang ada saat itu, tiba-tiba bisa saja saya mendapat kabar bahwa royalti penjualan buku saya akan dicairkan hari esoknya. Atau, kakak saya malah memberi uang saku tambahan. Rejeki itu memang diusahakan, tapi siapa yang tahu datangnya dari mana. Demikian pula halnya dengan jodoh. Sudah lazim sekali kita dengar bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Apa iya?

Alkisah, ada seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis. Tapi, gadis ini sudah berpengalaman patah hati oleh kekasih sebelumnya. Gadis ini sebenarnya tidak mau hubungannya dengan mantannya berakhir. Ia percaya bahwa ia berjodoh dengan mantannya karena ia sudah kepalang cinta. Namun, mantannya berpikiran lain, ia berkata memang mencintai gadis itu akan tetapi dengan kendala yang menghalangi restu hubungan mereka , mantan si gadis pun akhirnya memutuskan jalinan kasih itu. Si mantan pun berkata, kalau jodoh tak bakal ke mana. Ia percaya bahwa jodoh memang di tangan Tuhan. Si gadis tentu tak terima diputuskan. Ia patah hati. Di saat itulah datang pemuda itu.

Si gadis sangat terbuka tentang masa lalunya. Hingga membuat pemuda itu berkeyakinan bahwa jodoh itu diusahakan. Ketika ia mencintai seseorang, ia akan sekuat tenaga mengusahakan hubungan itu terjaga. Ia berprinsip jodoh itu bukan di tangan Tuhan, tapi di tangan manusia itu sendiri. Apakah ia mau mengusahakan yang terbaik untuk pasangannya, apakah ia yakin dengan pilihannya, lalu mempertahankan hubungan itu. Karena itulah, akhirnya si gadis mau membuka hati untuk pemuda itu. Si gadis berpikir jika pemuda itu memang mencintainya dan mau mengusahakan hubungan itu, ia tak akan lagi disia-siakan seperti sebelumnya.

Monday, February 21, 2011

Buku: Aku dan Hujan

"Aku dan Hujan di Bulan November" oleh Vira Cla

Hujan tak pernah datang tiba-tiba di bulan November. Ia selalu memberi pertanda sebelum turun menghunjam bumi. Setidaknya itu yang kuperhatikan sebulan ini. Seringkali kulihat lewat jendela kamar langit dipenuhi awan berat kelabu pekat, menghiasi langit pagi, siang, ataupun sore. Pertanda yang memberi isyarat. Isyarat hujan 'kan datang. Tak hanya awan, ada juga gemuruh yang bertalu-talu. Seperti berlomba saling adu kencang. Memekakkan yang kadang mengejutkan, membuat jantungku berdetak lebih kencang saking kagetnya. Aku awas, hujan pasti 'kan lebat. Aku bersiap jadikan rumah tempat berteduh yang nyaman.

Lalu, kau datang, ketika langit muram dan tetes-tetes air mulai berjatuhan dari awan. Tak ada berita sama sekali kau 'kan mengunjungiku di rumah ini. 'Tiba-tiba' sepertinya sudah jadi kebiasaanmu. Sungguh berbeda dengan hujan yang kuperhatikan di bulan November ini.

SELANJUTNYA...

Baca di Buku Kumpulan Cerita Pendek "AKU DAN HUJAN" persembahan Cubiculum Notatum (www.jejakubikel.com). 



1299471085498838559
Sampul depan Aku dan Hujan
"Aku dan Hujan"
LiniKala Publishing

Ada 50 cerita pendek yang melukiskan hubungan pribadi antara aku dan hujan dari 50 penulis yang terus mengeksplorasi khasanah sastranya melalui jejakubikel.com



Setiap menjadi biru, kubuka kenangan ungu akanmu. Ketika rindu belum mengenal sendu. Kau dan aku, meramu tawa dalam puisi sambil lalu.
- Aku dan Hujan yang Menjadikannya Biru oleh Meliana Indie, Kompasianer.


Selalu, satu tanganku memegang gagang payung dan satu lainnya dalam kekuasaan jari jemarimu yang begitu erat menggenggam.
- Aku, Kamu dan Hujan oleh Erdian Aji, vokalis band Drive.


Akulah dia. Lelaki kecil yang sejak hari berhujan itu berjanji tak mau mati sebelum sepayung denganmu. Meski di mimpi.
- Hujan dan Payung Hadiah Ulang Tahun oleh Aan Mansyur, penyair.



MILIKI SEGERA
AKU DAN HUJAN

Rp. 40.000,-

Pemesanan: email ke linikala@gmail.com



"Nikmatilah rinai-rinai hujannya, dalam kecintaan maupun kebencianmu pada hujan."
Daniel Prasatyo, Editor Aku dan Hujan.

Friday, February 18, 2011

Balon Mengacaukan Pembunuh Badut

Tema : Balon
Judul : "Balon Pengacau"

Meletus balon hijau. Dor! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Sesungguhnya, balonku tak berjumlah empat, apalagi yang berwarna-warni.

Ketika masih kecil, aku tak pernah bermain balon. Mainanku hanya asap knalpot. Recehan di sakuku adalah bonusnya. Kadang aku nyanyikan lagu ‘balonku’ kala mengamen. Aku suka lagu itu yang seketika bisa kuhapal saat tak sengaja mendengarnya di sebuah TK di pinggiran Jakarta.

Dahulu, aku berharap bisa memiliki lima balon sebagai penghiburku. Sekarang, keseharianku adalah balon-balon. Tapi, bukan balon berwarna-warni yang melayang di angkasa. Payudaraku telah disumpal dengan silikon hingga terbuai seperti balon. Menggoda lelaki yang menyarungkan penisnya dengan kondom yang bisa disulap menjadi balon.

Jalan nasibku belum berubah. Hatiku bertambah kacau.
**************************************************************************************************************

Tema : Badut
Judul : "Badut Pembunuh"

Aku tak pernah suka badut. Bermuka sangat putih, berhidung bulat besar merah, mulut berseringai lebar yang juga merah. Rambut kribo menjijikan! Aku tak pernah suka badut!

Cekikikan kanak-kanak. Celoteh mulut mereka yang nyinyir. Kelakuan mereka yang tak sopan. Muka badut dilempar dengan sepotong kue tart. Badut tetap menyeringai. Malah tertawa membahana. Si badut bodoh! Aku tak pernah suka badut.

“Anda ditahan!” demikian kata seorang polisi sambil memborgol tanganku. Mata-mata tertuju padaku. Pesta bahkan belum berakhir. Aku menyeret paksa langkahku. Penyamaranku terbongkar. Mayat tetangga sebelah telah ditemukan. Tetanggaku itu berprofesi sebagai badut di karnaval kota. Aku telah merobek mulutnya menjadi lebih lebar. Kepalanya kupenggal.

Kau tahu kenapa? Aku tak pernah suka badut.
**********************************************************************************

Dua cerita 111Kata Januari Emosi di Jejakubikel.com

Tuesday, February 15, 2011

Novel Tentang Perempuan

Ada beberapa novel tentang perempuan yang saya suka. Ketika saya berada di toko buku, saya memang mudah tertarik pada novel-novel yang bercerita tentang perempuan ataupun yang bersudut pandang dari perempuan. Mungkin karena saya sendiri adalah perempuan, sosok perempuan yang masih mencari tahu tentang perempuan yang katanya sulit dimengerti padahal perempuan maunya dimengerti. Semenjak saya menyukai sastra (kurang lebih 2 tahun yang lalu), saya baru membaca sedikit novel tentang perempuan. Saya mencoba mengulasnya, siapa tahu, walaupun cuma novel, kita bisa belajar tentang perempuan.

Perempuan di Titik Nol

Novel lawas dari Nawal El-Saadawi ini sudah terkenal mendunia. Penulisnya dikenal sebagai tokoh feminis dari negeri gurun, Mesir. Perempuan di Titik Nol diterjemahkan dari Women at Point Zero yag terbit pada tahun 1983, yaitu 10 tahun kemudian setelah Nawal berprofesi sebagai psikolog bagi perempuan di penjara wanita. Dari risetnya di panjara itu, Nawal menuliskan novel ini. Di sana ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Firdaus yang divonis hukuman gantung karena telah membunuh seorang pria yang menjadi germonya. Ya, Firdaus adalah pelacur perempuan yang menolak dijajah pria. Perempuan yang lebih memilih menjadi pelacur daripada istri yang diperbudak suami. Berikut ini kutipannya:
“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Sang perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.”
Bukankah kutipan itu sangat menohok para perempuan? Saya sendiri tak sepakat dengan Firdaus yang mengatakan perempuan adalah pelacur, walau dalam bentuk apapun. Bukankah perempuan berasal dari kata ‘empu’ yang berarti penuh kehormatan dan kesaktian? Tapi, demikianlah pemikiran Firdaus, seorang perempuan timur tengah yang hidup dalam lingkungan yang merendahkan derajat perempuan. Tak salah ia menyerang dengan kata-katanya yang tajam itu. Latar belakang ketidakadilan yang ia terima semasa hidupnya telah menjadikan ia pelacur yang anggun dan cerdas. Dengan membaca kisahnya, setidaknya membuka mata kita bagaimana sebenarnya kedudukan kita sebagai perempuan. Perempuan tidaklah berada di bawah pria. Ia juga tidak berada di atas pria. Tapi perempuan dan pria tentu hidup berdampingan.

Saturday, February 12, 2011

Go International!

Saya tak muluk-muluk ingin menjadi penulis dunia. Setidaknya dalam waktu singkat hal itupun mustahil terjadi. Namun, ada satu kesenangan yang saya rasakan ketika seseorang yang berasal dari luar negeri berani memesan buku pertama saya, kumpulan cerpen Lajang Jalang. Luar negeri yang lumayan jauh, yaitu Jepang, negeri Sakura yang belum pernah saya kunjungi. Hm, belum pernah. Mungkin suatu saat nanti saya akan berkunjung ke sana, seperti si Lajang Jalang, "anak" saya.

Beberapa hari yang lalu, seorang Indonesia yang tinggal di Jepang, mengontak saya lewat Facebook. Saya tidak kenal dengan orang tersebut. Ia mengirim saya pesan bahwa ia ingin membeli buku saya. Ia pun meminta add friend. Sebelumnya saya balas dulu pesannya, baru kemudian ia menunjukkan keseriusan membeli buku saya, saya pun mengiyakan pertemanan di Facebook itu. Saya juga menanyakan tahu darimana tentang buku saya. Ia pun menjawab tahu dari kompas online dan seorang temannya di Jababeka. Kompas online? Oh, ternyata lumayan berhasil juga 'ngiklan' di oase kompas lewat cerpen saya yang tayang di sana. Hahaha... Atau, kompas online yang ia maksud adalah kompasiana. Ah, sama saja! Hehehe...

Tak lama setelah saya tahu biaya ongkos kirim ke Jepang dan total biaya yang harus ia transfer ke rekening BNI saya, saya pun kembali mengirim pesan padanya. Lalu, ia membalas segera mentransfer sejumlah uang itu. Sesaat kemudian ia mengirim pesan lagi memberi tahu transfernya berhasil. Saya langsung cek SMS Banking, dan ya, berhasil! Saya senang bukan main! Bagaimana tidak?! "Buku Lajang Jalang siap dikirim ke Jepang! My book goes international! Hahaha..." Demikian kicauan saya di twitter seketika itu juga!

Tuesday, February 8, 2011

Suntik!

Malam ini, saya hanya ingin menulis, entah tentang apa, entah tentang siapa! Jadi, biarkanlah jemari ini mengalunkan geraknya di atas keyboard semaunya. Biarkan otak dalam batok kepala saya merangsang si jemari untuk mengetikkan kata-kata yang mungkin tak akan saya duga. Tak selamanya sebuah cerita harus berawal dari pemikiran matang. Sebuah cerita bisa saja mengalir dengan sendirinya, bahkan menjadi sebuah kisah hebat yang lahir ketika sang penulis mengalami trans. Ah, pernahkah saya mengalami fase seperti itu? Seketika tubuh saya mematung, kepala saya tegak dengan mata yang terus melotot ke layar laptop, jemari saya lincah menari. Seketika fase itu berakhir dengan hadirnya sebuah kisah yang membuat decak kagum pembacanya. Pernahkah? Hmm, entahlah!

Baiklah, saya harus menentukan topik biar tulisan saya tak melindur. Apa yang menarik saat ini untuk dibicarakan? Kericuhan beragama di Indonesia? Sebaiknya tak usah saya menceracau mengenai hal sensitif itu. Mari cari topik lain! Bagaimana jika saya menulis tentang berat badan? Ah, ini juga hal yang sensitif bagi sebagian orang, bahkan bagi saya. Hahaha... Ok, sepertinya cukup menarik. Kebetulan hari ini di kampus, saya ketemu teman yang ikut terapi pengurangan berat badan dengan cara injeksi alias suntik.

Apa benar dengan terapi suntik bisa mengurangi berat badan dan membuat langsing? Dari pengalaman beberapa teman yang sudah mencoba, sih, katanya ngaruh! Mungkin karena itu, Miss D juga bertekad mengurangi berat badannya dengan cara suntik. Menurut Miss D, terapi suntik itu dilakukan minimal 1x seminggu. Tiap kunjungan, pasien (boleh saya sebut pasien, kan?! yang nyuntik kan dokter! hehehe) akan menerima dosis suntikan 1 ampul berisi vitamin C yang akan dibagi rata ke berbagai bagian tubuh yang berlemak. Takaran 1 ampul itu sama dengan 2,5 cc atau 2,5 ml, tiap bagian yang disuntik biasanya menerima setidaknya 0,1 cc. Jadi, hitung sendiri, paling banyak berapa kali suntikan yang akan diterima pasien?! Euh, ngeri juga ya harus disuntik berkali-kali dalam 1 kali kunjungan. Katanya, nggak sakit! Jarumnya halus, kok! Well, saya mungkin berpikir berkali-kali sebelum memutuskan ikut terapi itu. Jujur saja saya memang tertarik untuk mengurangi berat badan. Cerita Miss D, ia sudah turun 5,5 kg setelah 2 atau 3 minggu ya? Duh, lupa! Pokoknya, ya dalam waktu singkat, bisa turun berat badan beberapa kilogram. Apalagi, biayanya juga nggak mahal! Katanya cuma 60 ribuan untuk 1 kali kunjungan, tapi belum termasuk obat. Pasien akan diberi obat pagi untuk menekan nafsu makan, dan obat malam untuk membantu pencernaan mengeluarkan feses cair.