Monday, January 24, 2011

Dimensi Tanpa Waktu

Hari terakhir. Saya berharap ini benar-benar hari terakhir. Tiada lagi esok. Tiada lagi terbitnya mentari di pagi hari. Tiada lagi asa yang akan dinanti. Hari terakhir. Sayang, hari terakhir ini bukanlah benar-benar hari terakhir. Hanya tertanggal 31 Desember 2010. Nanti malam pergantian tahun. Dan, ya, sekarang hari terakhir. Terakhir di tahun ini.  Detik bergulir, dari menit ke menit, tinggal beberapa jam lagi, hari terakhir ini kian berakhir. Bisakah berhenti sebentar? Sebentar saja saya memohon. Ada yang tertinggal di belakang. Bisakah saya menjemputnya lalu saya bawa berlari ke hari ini, hari terakhir? Bukan! Bukan menjemputnya! Saya tak akan membawanya sampai ke sini. Saya hanya perlu kembali ke belakang. Ada yang tertinggal, memang, tapi untuk memperbaikinya. Biar tak ada penyesalan menggunung yang saya rasa ketika hari terakhir ini berakhir. Bisakah? Bisakah, Tuhan?

Ah, ini masalah saya dan waktu. Bukan masalah saya dengan Tuhan. Tapi, bukankah Tuhan pemberi waktu? Lupakan! Saya hanya ketakutan. Pantas saja saya memohon pada-Nya. Ketakutan bahwa saya manusia berlumpur salah. Hari terakhir ini, kesalahan itu kian menghantui, di saat hari terakhir semakin berakhir. Beberapa jam lagi. Tak ada yang berubah. Kesalahan itu kian menyesak dada saya. Tak ingin begini. Jadi, bolehkah saya berharap ini benar-benar hari terakhir? Musnahkan segalanya. Waktu terpakai percuma. Tak ada yang akan berubah lagi. Hanya kesalahan yang mengubah saya, menjadi saya tanpa asa. Hari ini hari terakhir. Jika saya tak bisa kembali ke waktu itu, jika waktu tak bisa berhenti sebentar, jika sesuatu yang di belakang itu kian membenamkan saya ke dalam penyesalan, maka biarkanlah saya jadikan hari ini benar-benar hari terakhir. Bukan bagi siapa-siapa, cuma bagi saya.

Hari ini hari terakhir, di tahun ini. Esok tiada yang tahu. Mungkin hari ini benar-benar hari terakhir. Tiada esok. Harapan-harapan sirna. Esok memang tiada yang tahu. Percuma saja segala asa. Saya tak akan berubah. Tak ada yang akan berubah. Sesuatu yang di belakang telah mengubah segalanya menjadi tak berubah. Hari ini hari terakhir. Benar-benar terakhir bagi saya. Selamat tinggal. 

*** 

Saya terbangun. Di suatu tempat penuh cahaya. Menerangi, pun menyilaukan. Tercium wangi semerbak. Alunan kepak sayap kupu-kupu. Mengitari bunga yang terkembang. Kabut-kabut di sekitar saya, tak ada penampakan apa-apa, selain cahaya yang benderang dan seekor kupu-kupu bertengger di kelopak bunga yang entah apa namanya. Di mana saya? Kupu-kupu berwarna putih, pernahkah kau lihat? Ia terbang mengelilingi kepala saya. Saya menolehkan kepala ke mana pun ia terbang. Memperhatikan kupu-kupu berwarna putih. Ingin saya bertanya, di mana saya? "Kau tak di mana-mana," suara lembut entah dari mana. Suara yang tak asing. Siapa yang bicara. Kupu-kupu itu masih terbang ke sana ke mari mengitari kepala saya. Suara iakah? Kupu-kupu bicara bersuara?  Suara hati saya terdengarkah olehnya, siapa pun yang menjawab itu? "Siapa kau?" tanya saya penasaran.  "Kenapa kau datang ke sini, anak muda?"

Benar kupu-kupu itukah yang bicara? Bodoh sekali pertanyaannya. Saya bahkan tak tahu tempat macam apa ini. Tanah yang saya pijak terasa dingin. Kabut-kabut putih menyelimuti. Hanya saya, sekuntum bunga berwarna putih yang menjulur dari dalam tanah merah, seekor kupu-kupu yang juga berwarna putih yang terus mengepakkan sayapnya.

"Kau kebingungan? Tidak usah bingung, anak muda. Kau sedang berada di satu dimensi yang tak akan dikunjungi siapa pun. Hanya kau. Dalam mimpimu, dalam dimensi tanpa waktu." 

"Oh, saya hanya sampai ke dunia mimpi? Dimensi tanpa waktu? Hahaha... Saya gila. Kau juga sudah gila, kau siapa pun yang berbicara." Saya memendarkan tatapan ke mana-mana. Berharap sosok yang berbicara itu muncul, bukan kupu-kupu itu. "Aku sudah dari tadi di sini, di dekatmu. Kau tak perlu mencari-cari lagi siapa yang bicara padamu. Perhatikan kepala mungilku, anak muda! Tak bisakah kau lihat ada yang bergerak-gerak di bawah mataku?" 

"Suaramu seperti suara ibu saya! Tak mungkin seekor kupu-kupu menyamai suara ibu." 

"Suaraku memang begini,” dalih si kupu-kupu. “Anak muda, kau sudah sampai di sini. Kau tak akan ke mana-mana lagi. Di sinilah akhirmu, bersamaku, di sini, tempat yang dingin ini. Tak ada kehangatan. Kecuali..." Memang ia, kupu-kupu yang berbicara. Ia bertengger di mahkota bunga. Saya perhatikan kepalanya, ada yang bergerak-gerak di bawah matanya ketika suara-suara itu terdengar di kuping saya. "Kecuali apa?" tanya saya. Berada di tempat yang entah apa, tak akan membuat saya lebih berbahagia daripada hari yang lalu di sana, dunia nyata. Saya ingin segera keluar dari sini, walau suara seperti Ibu yang saya rindukan terdengar begitu merdu lewat kupu-kupu itu. Atau saya tak perlu pergi dari sini? Akankah beberapa saat lagi kupu-kupu itu menjelma ibu? Saya memang rindu ibu. "Kupu-kupu putih yang manis, saya rasa saya akan betah di sini. Jadi, biarlah jika memang ini tempat terakhir saya," saya sumringah. Kupu-kupu itu langsung terbang gesit tepat ke depan hidung saya, hinggap di ujung hidung mancung turunan dari ibu. "Kau bodoh, anak muda! Aku tahu kau hilang arah, kau tersesat di belantara kegelisahanmu. Kesalahan yang terus membayangimu. Kesalahanmu itu memang kebodohanmu. Dan kau semakin bertambah bodoh bila kau pikir kau tak bisa berubah! Camkan, anak muda! Anak muda sepertimu adalah kegelisahan, namun derap langkahmu adalah perubahan.*"

Emosi saya bergejolak. Kupu-kupu apa yang bicara menggelegar seperti itu? Seperti ibu saya yang bijak ketika marah, berbicara dengan tegas, namun suaranya tetap menyamankan. Antara marah, antara rela diceramahi oleh seekor kupu-kupu. "Kau yakin ingin berakhir di sini, dalam dimensi tanpa waktu, tanpa apa pun selain aku si kupu-kupu? Hanya berada di dunia mimpi?" tanya kupu-kupu itu begitu lirih. Seakan memaksa saya menjawab tidak. Saya pandangi berkeliling, tak ada apa-apa, tiada sesiapa. Apa ujung dari dimensi tanpa waktu ini?

Bukankah saya ingin waktu berhenti? Permohonan saya dikabulkan Tuhan? Tapi, tak seperti ini yang saya inginkan. Saya ingin kembali ke masa itu, ketika saya mendengar kata ibu. Mata saya terasa panas, akan ada yang pecah. Sebuah tangisan. Saya terisak. “Anak muda, bergeraklah! Biarkan kesalahanmu mendewasakanmu. Lenyapkan kegelisahanmu dengan melangkah maju. Jangan kau tenggelamkan dirimu dalam penyesalan, anak muda. Ia di sana sudah baik-baik saja.” 

“Ia? Siapa?” selidik saya terpancing kata-katanya. “Ibumu,” jawab kupu-kupu. Saya tak percaya. Bagaimana kupu-kupu itu tahu? “Anak muda, maafkanlah kesalahan yang dulu. Ibumu tak ingin kau berhenti, ataupun kembali ke masa sebelum kesalahan itu terjadi. Ibumu pun tak ingin kau ada di sini. Ibumu tak ingin kau berharap aku akan menjelma jadi ibumu. Ibumu ingin kau pergi dari dimensi tanpa waktu ini.” 

“Ibu.. kaukah yang berbicara? Kenapa kau menjadi kupu-kupu, ibu?” 

“Sudahlah, anak muda, kau sudah berakhir di sini jika benar kau menginginkan ini. Tapi kau masih bisa pergi, asalkan kau berjanji...” 

“Tidak! Saya tak ingin pergi. Saya ingin di sini. Saya percaya, saya akan bertemu ibu di tempat ini. Saya hanya perlu menunggu, ‘kan?”

Kupu-kupu kembali hinggap di atas mahkota bunga. Sepertinya ia kelelahan meladeni omongan saya. Biarlah. Saya hanya menunggu beberapa saat lagi sampai kupu-kupu itu menjelma menjadi ibu. Ya, entah berapa detik, menit, bahkan berhari-hari. Saya akan menunggu itu.

“Ingat, anak muda, kau sekarang berada di dalam dimensi tanpa waktu!” Suara kupu-kupu itu lagi. “Aku adalah kupu-kupu istimewa. Aku bukan jelmaan si ulat dan kepompong. Aku hanya tercipta begini. Aku pun nanti tak akan menjelma ibumu.” Ia mendengar kata batin saya. Benar ia kupu-kupu istimewa.

“Begitu juga bunga ini. Ia tak berasal dari benih apa pun. Ia tak akan layu lalu bertumbuh bunga yang baru. Tanah yang kau pijak akan selalu dingin dan merah, ia tak akan kekeringan atau menjadi terlalu lembab. Kabut-kabut putih akan terus menyelimutimu, walau mungkin cahaya-cahaya akan semakin benderang. Dan cahaya-cahaya memang tak akan menjadi lebih terang. Hanya begini saja. Tak akan ada perubahan. Kau dalam dimensi tanpa waktu...” 

Saya tercekat. 

***

“Bapak.. Bapak,” teriakan adik. Mata saya terpejam. Berat terbuka. Ada kesakitan di pergelangan tangan saya. Sebelah kiri sepertinya. Ada apa ini? Mana kupu-kupu tadi? “Pak, jari-jari kakak tadi bergerak. Kakak mulai siuman, Pak?” Ada derap langkah yang bergegas mendekati saya. Bapakkah itu? Tolong, tolonglah, Tuhan, saya ingin membuka mata. Saya ingin melihat bapak, adik... Ya, iya, saya berjanji. Kupu-kupu di mana pun sekarang kau berada, saya akan mengingat kata-katamu. Biarkan saya pergi dari sini. Saya berjanji akan berubah. Lepaskan saya dari dimensi tanpa waktu, kupu-kupu. Saya menggeliat, mengerang, berharap mata itu terbuka. “Maafkan kesalahan itu, anakku. Ibu tak ingin kau hidup dalam penyesalan dan kegelisahan yang begitu dalam. Belajarlah dari kesalahan itu, nak. Melangkahlah.. Kau masih muda! Pijakanmu masih kuat. Ibu tetap menyayangimu apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi nanti. Ibu akan menemanimu tumbuh bersama waktu, tanpa henti.” Ibu... “Nak, sang waktu tak akan pernah berhenti... untuk mengubahmu.”

Mata saya terbuka sedikit demi sedikit. Saya rasakan tangan saya dalam genggaman adik. Bapak yang tak henti mengusap rambut saya. Saya rasakan kehangatan. Saya telah kembali. Saya berhasil keluar dari dimensi tanpa waktu. “Kakak...” suara adik saya memanggil. “Kamu melewatkan malam pergantian tahun! Ah, kamu pengacau acaraku, kak!” adik saya memonyongkan bibirnya, ia manyun, tapi kemudian tersenyum. “Selamat tahun baru, kakak! Aku menyayangimu,” ucap adik yang membuat saya sangat terharu. “Selamat tahun baru, nak.” Bapak, matanya berkaca-kaca. Saya rasakan bahagia. Oh, maafkan saya, Pak. “Selamat tahun baru, pak, dik...” ucapan pertama saya di hari pertama di tahun yang baru. Hari terakhir kemarin memang benar-benar telah berakhir, berganti dengan hari yang baru. 

*** 

Seminggu setelah kejadian saya memotong urat nadi di pergelangan tangan kiri, saya mengunjungi makam ibu, sendiri saja. Saya telah ceroboh menabrak ibu sendiri di depan garasi rumah. Sangat ceroboh. Dan sangat bersalah tak mendengar kata ibu untuk tidak datang ke acara malam tahun baru itu. Ibu sudah curiga hanya akan ada pesta penuh minuman keras dan seks bebas. Saya teledor membiarkan diri dicecoki minuman keras. Saya pulang dalam keadaan mabuk. Ibu menunggu saya, tak bisa tidur. Mobil tetap saya lajukan kencang walau sudah sampai depan rumah. Andaikan ibu tak berdiri di sana... Andaikan saya mendengarkan ibu... Andaikan saya bisa menjaga diri... Andaikan... Semua telah terlambat. Saya hidup dalam penyesalan. Tak ada yang berubah. Kesalahan demi kesalahan mengubah saya menjadi manusia tanpa perubahan. Ah, betapa bodohnya saya biarkan itu terjadi. Saya larut dalam detik yang terus bergulir, entah menjadi apa. Hingga kejadian dalam dimensi tanpa waktu menyadarkan saya. 

“Maafkan saya, Bu. Maafkan...” 

“Sang waktu tak akan pernah berhenti... untuk mengubahmu, nak.” Suara ibu yang terus menggema dalam relung hati saya.

-tamat- 

Jakarta, 31 Desember 2010

*’Anak muda adalah kegelisahan, derap langkahnya adalah perubahan.’ Es Ito, Negara Kelima

terbit di oase kompas.com Selasa, 18 Januari 2011

No comments:

Post a Comment