Monday, December 26, 2011

Unclear Social Media Topic

I feel like I'm bored of Social Media (Socmed) and I wanna talk about it. Here's the types of socmed I know and use regularly; Twitter and Facebook. Facebook as the elder one than Twitter is somehow unexchangeable. It has connected me to the people from schools and college, the well-known, even to the people whom I don't recognize at all. Facebook also gives me an access to know how my friend's feeling at some time, an access to explore some people's lives, and an access to stalk someone. It become usual to know what is going on with others. Nevertheless, I also let people know what kind of life I live. For a couple years, It had been common to update my status on Facebook. I didn't care whether it's appropriate or not. At that time, I just wanted to express what I felt and thought, what I had done, what the cool things I wore or ate. Aha.. Facebook helps us to show-off!

Then, Facebook became boring when Twitter was born. There is a limited space to write our status. Oops, it's not called 'update status', but 'tweet'. I tweet, you tweet, they tweet, everybody tweets! Anyway, we aren't bird, are we?

Angry Bird


Sunday, December 18, 2011

Hadiah Menulis Cerpen

Vira, Ria, Indah

Sabtu, 17 Desember 2011, saya terburu-buru berjalan kaki dari halte busway Ratu Plaza ke Plaza Senayan. Jaraknya lumayan membuat saya ngos-ngosan dan mengucurkan keringat. Betapa tidak, saya sudah terlambat banyak, hampir 45 menit dari jadwal yang dijanjikan yaitu jam 12. Hanya saya yang ditunggu-tunggu, pemenang lomba post event Workshop Kampung Fiksi telah datang tepat waktu, begitu juga dengan dua orang panitia yang akan memberikan hadiah. Pemenang? Hadiah? Ya, saya menang, walau saat itu saya belum tahu juara ke berapa, yang pasti termasuk tiga pemenang utama. Alhamdulillah... Saya bisa dapat hadiah karena menulis sebuah cerpen "Obrolanku dengan Tuhan" yang pernah saya posting di blog ini. Iya, itu cerpen diikutsertakan lomba, makanya ada logo Indosat di dalamnya sebagai sponsor.

Tiba di foodcourt Plaza Senayan, semuanya telah menunggu, mungkin mereka sangat kesal dengan keterlambatan saya yang kelewatan. Huhu, maaf ya?! Ada mbak Ria dan mbak Indah yang akan memberikan hadiah, lalu ada Pak Dian Kelana, seorang kompasianer sekaligus fotografer di acara sederhana itu. Sedangkan pemenang lain, ada mbak Nastiti, mbak Tika dan mbak Okti. Sempat heran juga dengan berlebihnya jumlah pemenang, bukankah seharusnya tiga orang? Apa jangan-jangan itu pemenang cadangan, andai saja saya tak jadi datang. Jeng jeng..

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, proses penyerahan hadiah dilaksanakan. Pertama memberikan hadiah pada juara ketiga yang ternyata ada dua orang, yaitu mbak Tika dan mbak Okti. Lalu, juara kedua, mbak Nastiti menerima hadiahnya. Wah, barulah saya tahu dan sadar bahwa sayalah juara pertamanya. Asyik! Eh, alhamdulillaah! :)

Kini, hadiah itu ada di tangan saya, sebuah unit Blackberry phone tipe 8520, persis dengan BB yang saya gunakan sekarang. Wah, jadi double gini?! Saya pun memutuskan untuk menjualnya. Setiba di rumah, saya langsung broadcast message iklan jual BB, saya juga 'ngiklan' di twitter. Hehehe.. Mudah-mudahan ada yang mau beli ya. Lumayan, lho, saya jual lebih murah dari harga toko. Semoga hasil penjualannya menjadi berkah buat saya, bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Thursday, December 15, 2011

Nostalgia Facebook di Linimasa Twitter


  1. Lagi nostalgia wall facebook. Awal tahun 2009, wall gw diramein dan :') Lama juga ya kita temenan! :))
  2. 2008 dan 2009 masih rame dgn bday wish. Trus, gw mulai set private hari lahir gw. 2010 dan 2011 jadi wall tersepi utk bday wish. :)
  3. Dgn demikian, gw jadi tahu siapa2 yg benar2 ingat tanggal ulangtahun gw. I was glad for that.
  4. Wall di 2009 juga masih menyimpan wall dari mantan2 HTS-an gw. Hahaha... Gak nyangka mereka pada nikah duluan! Damn! :))
  5. Gw masih berusaha loading menemukan status FB pertama gw. Banyakan wall dari temen2 nih..
  6. Gak penting banget ya kerjaan gw malam ini. :)) 
  7. Yang gw heran di FB klo udah bday wish, orang yang biasanya di dunia nyata klo ketemu gak sahutan, ikut2an ngewall bday wish.
  8. Eh, tapi heran juga sih, kenapa juga gak sahutan bisa temenan di FB. Nah, lo?! :))
  9. Dasar orang Indonesia ya... semuanya dijadiin temen.. Itu teman di FB udah lebih ribuan. Tapi, kemana2 gw tetep sepi2 aja.. :))
  10. Temenan di FB tuh antara beneran temen atau cuma pengen tahu kehidupan orang lain..

Monday, December 12, 2011

Nanti, setelah ini, beberapa waktu yang tak lama lagi..

Happiness

Nanti, setelah ini, beberapa waktu yang tak lama lagi—bila sabar tak berbatas—kau akan mendengar kabar bahagia. Kabar yang menyentak bagi yang tak percaya. Kabar yang mengharu bagi yang selalu berharap. Bahwa ada seorang insan yang berhasil mengejar mimpi. Seorang anak yang membaktikan diri pada orangtua, yang menyenangkan hati keduanya. Kabar itu akan datang. Cepat atau lambat, tiadalah penting. Kau tahu bahwa keteguhan akan berbuah manis. Maka, bersabarlah. Nanti, setelah ini, beberapa waktu yang tak lama lagi—bila sabar tak berbatas—kau akan mendengar kabar bahagia.

Saturday, December 10, 2011

Obrolanku dengan Tuhan


Handphone yang kuletakkan di meja samping tempat tidur berdering. Ada panggilan masuk yang membangunkanku seketika itu. Kulihat layarnya, sebuah private number. Aku benci menjawab panggilan dari nomor yang tak kukenal, apalagi dari nomor rahasia seperti itu. Kututup mukaku dengan bantal seakan ingin menutup diri dari handphone yang terus berdering. Kamarku masih gelap, tak ada cahaya yang mengintip dari gorden jendela yang sedikit terbuka. Sepertinya masih subuh dan masih pantas bagiku untuk melanjutkan tidur setelah begadang semalam.
Aku tertidur hingga menjelang siang. Puting beliung dalam perut ini memaksaku untuk mencari suplai energi. Aku terpaksa bangun, walau mataku masih ingin terpejam. Di dapur, aku menyiapkan sereal dan susu sebagai menu brunch hari ini. Sesaat aku menyuapkan sesendok sereal ke dalam mulut, handphone yang kutinggal di kamar berdering lagi. Tak kuacuhkan. Tak ada hal penting yang harus kulakukan hari ini, jadi aku merasa tak penting untuk dicari oleh sesiapapun hari ini juga, walau hanya lewat panggilan handphone.
Cuaca dalam perut sudah tenang, puting beliung telah berlalu, damai sekali rasanya. Namun, kedamaian ini tak bertahan lama, karena puting beliung itu bergerak ke ususku. Sudah jadi kebiasaan, tak lama aku menghabiskan makanan pertama hari ini, aku harus segera ke kamar mandi, nongkrong di sana berlama-lama membuang hajat sambil memungut ide-ide yang berseliweran di atas kepala. Entah kenapa, suasana syahdu di kamar mandi bisa memicu lahirnya kreatifitas. Mungkin hanya satu yang bisa membuyarkan semua ide kreatif itu. Dering handphone!
Kalau handphone itu ada di dekatku sekarang, pasti segera kubanting biar rusak sekalian! Handphoneku itu memang sudah butut, bukan handphone canggih yang tren saat ini. Layarnya saja masih monokrom, nada deringnya masih polifon, fungsinya cuma bisa SMS dan telepon. Hubungan kami selama tujuh tahun seharusnya memang disudahi saja. Handphone, oh, handphone...
Total panggilan tak terjawab hingga sore berjumlah tujuh. Angka kesukaanku. Seharian di rumah, aku meninggalkan handphone di dalam kamar. Aku tak ingin pekerjaan membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian, serta aktifitas afternoon reading with tea-ku diganggu oleh sebuah panggilan telepon. Aku cukup heran dengan nomor rahasia yang ngotot ingin bicara denganku. Siapa gerangan? Rasa-rasanya aku tak punya penggemar fanatik yang mengincarku. Akhirnya aku penasaran, aku ingin tahu siapa penelepon rahasia itu. Tapi, bagaimana caranya? Aku tak bisa balas menelepon ke nomor rahasia.
***
Halaman di aplikasi microsoft word di depan mataku ini masih putih bersih. Tak satu huruf pun yang bisa kuketik. Seperti ada yang kurang kulakukan seharian ini hingga membuat otakku buntu seketika. Padahal, semua pekerjaan rumah telah kubereskan, tak ada lagi buku-buku yang berantakan, perangkat makan yang kotor, debu-debu di furnitur pun sudah kubersihkan. Apa yang kosong di kepala ini?
Dering yang sama untuk ke sekian kalinya. Otakku tetiba cemerlang. Kegesitan mengangkat panggilan yang akhirnya muncul lagi senja ini. Barangkali panggilan ini yang kutunggu-tunggu supaya otakku bisa diajak bekerja. Segera kutekan tombol berlogo telepon berwarna hijau itu dengan jempolku.
“Halo,” sapaku seperti biasa menjawab telepon masuk.
“Halo,” balasnya. Ia yang entah siapa. Aku tak pernah mendengar suara seindah itu. Aku bahkan tak bisa menentukan apakah itu suara pria atau suara wanita. Suara yang asing, suara yang barangkali tak pernah kau dengar di manapun, suara yang hanya kudengar lewat telepon ini.
“Ya, dengan siapa ini?” tanyaku sedikit gemetar, entah kenapa.
“Tuhanmu, Joanna.” Jawaban tergila yang pernah kudengar. Jujur saja, aku dibuat terperangah. Entah kata apa yang harus kusampaikan pada orang gila itu. Wait! Orang gila? Tuhanku orang gila?
“Maaf. Saya lagi sibuk, tolong hubungi orang lain saja. Saya tak ada waktu melayani lelucon macam ini.” Suaraku kembali normal. Masa bodoh dengan suara terindah itu!
“Aku sedang tidak bergurau, Joanna.” Kedua kalinya ia memanggil namaku. Bagaimana ia tahu? Oh, ya, ia adalah Tuhanku. Temanku yang mana yang ingin menjahiliku kali ini? Segera saja kumatikan telepon dari Tuhan, terserah ia mau marah, aku tak percaya jika benar Ia yang meneleponku.
Aku beringsut mendekati layar laptop. Masih ada jeda antara keterpukauanku pada suara terindah dengan keinginanku untuk berkonsentrasi pada tulisanku. Sementara waktu, biar kunikmati jeda ini.
***
Usahaku gagal malam ini, tak ada kata-kata yang terangkai dengan layak. Musik yang kudengar tak mencairkan kebekuan otakku. Menonton film pendek juga tak memicu ide apapun. Mungkin aku perlu ke luar rumah sebentar, mengirup udara dingin, menyesap keheningan malam. Siapa tahu ide-ide berjatuhan dari langit.
Handphone yang seharian tadi merecokiku masih tergeletak di atas meja. Kubiarkan tinggal di sana, walau ada secuil keinginan untuk menjamahnya. Aku ingin mendengar suara terindah itu lagi.
Kembang anggrek yang kutata di pot gantung menghiasi teras rumahku yang mini. Mereka kadang menjadi pendengar terbaik di rumah ini. Memang tak ada sesiapa lagi yang tinggal bersamaku. Aku menjadi janda setelah menikah sepuluh tahun. Menjadi janda karena suamiku menginginkan anak dari rahim yang tak akan berbuah ini. Kuelus perutku. Mataku telah lama kering. Jadi, tenang saja, tidak akan ada air mata malam ini, dan malam-malam selanjutnya...
Handphone-ku berdering. Mungkinkah dari si penelepon rahasia lagi? Aku menuju kamarku segera. Tak sempat kujawab. Namun, tak lama kemudian, masuk sebuah pesan singkat.
“Joanna, telepon Aku jika kau butuh. Sekarang kau sudah tahu nomorku ini. Tapi, berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa-siapa. Aku bisa kauhubungi tiap saat kapan kau mau. Sincerely, Your God.”
Sepertinya Tuhan baru punya handphone, bagaikan mainan baru, Ia menghubungi setiap umatnya. Ia kesepian di atas sana. Ia menghubungi siapa saja. Dan aku salah satu korban keisengan-Nya. Aku mencoba mengikuti permainan ini. Mungkin Tuhan memilihku karena aku sama kesepian dengan-Nya. Bisa jadi! Kubaca lagi pesan singkat itu. Tak ada yang sanggup kulakukan selain tertawa terbahak.
***
Hingga tengah malam, aku belum bisa tidur. Ada kegelisahan yang menjalar di dada. Entah gelisah karena tulisan belum rampung, entah gelisah karena Tuhan mencoba menghubungiku. Oh, aku mulai percaya benar Tuhan yang meneleponku dan mengirimiku SMS? Hahaha... Gila! Hidupku di dunia fiksi tak lantas menghanyutkanku ke dalam arus imajinasi, bukan? Tentu saja bukan Tuhan yang menghubungiku. Lantas, kenapa aku masih gelisah?
Handphone berwarna hitam buram itu berdiam di meja kecil di sebelah pembaringanku. Bunyi polifoniknya yang nyaring kini kurindukan. Aku berbaring miring menghadap handphone itu. Telah banyak kisah kami bagi bersama. Kisah bahagia ketika ia menjadi hadiah ulangtahun pernikahanku tujuh tahun yang  lalu. Ia juga yang menemani kesepianku ketika berpisah dari suamiku lima tahun setelah itu. Lewatnya kukirim permohonan maaf pada mantan mertuaku. Mantan mertua yang pernah begitu sayang padaku. Sekian tahun, aku masih bertahan dengan handphone jadul itu.
Bingung, gelisah, penasaran, mengaduk-aduk isi kepalaku. Kuraih handphone yang belum juga berdering sejak SMS dari Tuhan tadi. Telepon Aku jika kau butuh. Butuh teman bicarakah aku? Mungkin Tuhan memang sedang mengirimkan seseorang untukku. Tapi, bagaimana jika memang Tuhan yang mencoba menghubungiku?
Kuberanikan menelepon nomor rahasia Tuhan. Nomornya cukup panjang, entah provider mana yang jadi langganan Tuhan ini. Aku tak akan membagi nomornya di sini, tak akan kubiarkan pembacaku mengetahui nomor yang diminta untuk dijaga kerahasiaanya. Apalagi, ini nomor handphone Tuhan, kalau banyak orang yang tahu, bisa-bisa orang tak lagi mengunjungi rumah-Nya. Oh, kapan aku terakhir kali ke gereja?
Nada sambung itu bernyanyi di kuping kananku. Cukup lama menunggu jawaban. Sedang sibukkah Tuhan? Sudah lewat tengah malam. Tuhan tidak tidur, bukan?
Kucoba sekali lagi. Kalau tetap tak ada jawaban, aku akan meyakinkan diriku sepenuh hati bahwa Tuhan memang tak akan membagi nomor handphone-Nya pada siapa pun juga, hingga kapan pun juga. Dan itu juga kalau Tuhan punya handphone. Hmm...
“Halo, Joanna. Aku tahu kau akan menghubungi-Ku,” kalimat yang kudengar itu tak salah lagi dari suara yang sama kala senja tadi. Suara yang tetap menggetarkan kalbu.
“Tuhan?” Aku bingung harus berkata apa! Tanganku gemetar. Suaraku tak tenang. Aku tak ingin orang di seberang sana—Tuhan—mengetahui kegelisahanku kini.
“Bicaralah, Joanna. Jangan ragu.” Keheningan menjalar. “Kau menangis, Joanna?”
Tidak! Siapa kau? Sudah lama aku tak pernah menangis lagi. Aku tak mungkin menangis sekarang hanya karena mendengar suara indah ini. Kuusap pipiku. Basah. Bagaimana mungkin tak terasa?! Siapa kau?
“Joanna, dengar suara hatimu. Kau tahu apa kata hatimu. Kau telah tahu jawabannya, Joanna.”
Tak kuasa lagi. Kumatikan sambungan dengannya...-Nya? Benarkah Kau, Tuhan, yang bicara denganku?
Badan bergetar, berkeringat dingin, sulit tidur, beginikah rasanya ketika nabi menerima wahyu Tuhan? Hei, Joanna! Kau bukan nabi, jangan kausamakan! Ya, aku bukan nabi, dan tidak mungkin aku berbicara langsung dengan Tuhan. Tenangkan dirimu, Joanna!
***
Akhirnya, aku memang menenangkan diri, dengan obat tranquilizer. Setidaknya sebutir tablet diazepam melancarkan kata-kata mengalir dari mulutku ketika berbicara dengan Tuhan. Ya, ketika aku butuh, aku meneleponnya, eh.. Nya. Sepertinya aku harus membiasakan diri menyebut Tuhan dengan huruf kapital. Aku mulai percaya bahwa aku menelepon Tuhan. TUHAN!
“Mungkin kau perlu kencan dengan seseorang, Joanna.”
“Tidak perlu. Bertemu, berkenalan, kencan, menikah, mengharapkan anak. Aku tak akan bisa memberi apa yang lelaki mau, Tuhan.”
“Kamu yakin sekali bakal tidak bisa mengandung?”
“Jadi, Kau bisa menjamin aku bisa hamil? Ya, Kau harus memungkinkan aku untuk hamil! Ayolah, Tuhan, Kau yang menyarankan untuk kencan, lho?!”
“Oke. Tapi, apa nanti kau tak akan menyesal telah bercerai dari Alex?”
Aku terdiam. Malam ini aku melanjutkan menulis novel baruku. Sejak tujuh hari yang lalu, sejak aku menerima SMS dari Tuhan, sejak aku beranikan diri meneleponnya tanpa gemetar, sejak aku bisa mengobrol dengan Tuhan, sarafku seperti bekerja dengan optimal, memungut begitu banyak ide lalu menjalinnya menjadi kerangka cerita yang menakjubkan. Malam ini aku sedang asyik mengirimkan huruf-huruf ke halaman word melalui tarian jemariku di atas keyboard, lalu tiba-tiba buntu, aku pun mengambil handphone dan segera memanggil Tuhan. Tapi, malam ini Tuhan membuatku terdiam. Lagi dan lama.
Bukan Alex yang ingin bercerai. Aku yang minta diceraikan. Aku tahu apa yang diinginkan Alex. Aku mengerti apa yang diharapkan ibu mertuaku pada Alex anak semata wayang pewaris tunggal perusahaan besar. Aku sendiri yang mencarikan calon istri untuk Alex, kupilih yang subur, kuingin Alex memiliki keturunan dari benihnya, yang akan menjelma seorang bocah yang dialiri darah Alex. Dan, aku tak ingin jadi penghalang kebahagiaan mereka. Buat apa istri pertama yang mandul? Aku tak akan bisa bertahan. Aku minta diceraikan. Dua tahun lalu, awan kelabu itu datang, dan hingga kini, tak pernah bergerak dari atap kehidupanku.
“Joanna, kau mengenangnya?”
“Ya, tapi aku tahu Kau bercanda. Pemeriksaan medis lengkap telah menyatakanku infertil. Aku tak akan mungkin hamil.”
“Joanna, aku yang menciptakanmu. Apa yang tak mungkin Kulakukan? Semuanya mungkin, Joanna.”
Sudahlah, Tuhan. Aku mengantuk.
***
“Joanna, pergilah ke gereja.”
“Hmm...”
“Jadi, minggu ini ke gereja?”
“Hmm...”
“Aku tahu jawabanmu. Buat apa? Toh, Aku sudah menyediakan kesempatan khusus untukmu. Kau bisa menghubungi-Ku kapan kau suka. Ya, ‘kan?”
“Ya, tak ada yang bisa kurahasiakan dari-Mu.”
Tuhan yang kuyakini hanya ada dalam hati nuraniku. Ia tak harus kutemui di gereja, lembaga agama bikinan manusia. Tuhanku semestaku, yang hadir tiba-tiba lalu pergi tak terduga.
***
Tidak ada nada sambung. Hanya hening. Berkali-kali aku menelepon nomor rahasia itu. Sehari-semalam, tak hentinya aku mencoba menghubungi Tuhan. Aku sedang butuh Tuhan!
***
Aku seperti bertemu dengan orang asing di sebuah kafe. Orang asing yang mencoba mengajakku berkenalan. Aku menyanggupi pertemanan dengannya karena ia orang yang asyik diajak ngobrol. Lalu, hari berikutnya, aku ke kafe yang sama. Harusnya aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan bila sendiri, tapi aku tak bisa melakukannnya karena aku diam-diam mencari orang yang kemarin aku temui. Beruntung, orang itu ada lagi. Kami pun saling bercerita, berbicara tentang apa saja. Setelah itu, aku sanggup melakukan apa yang harus kulakukan, dengan lancar dan lebih brilian. Sehingga hari-hari berikutnya, aku terus mencari orang yang sama, mengajaknya duduk di mejaku lalu bercerita lagi. Aku tak butuh lagi zat-zat adiktif yang kusugestikan bisa mengalirkan inspirasi. Aku hanya butuh berbicara dengannya. Terus demikian hingga tiga bulan kemudian, orang itu tak lagi muncul di kafe itu, tak lagi ada di hadapanku.
Aku kehilangan fokus melanjutkan pekerjaanku. Aku terus mencari-cari orang asing yang hadir tiba-tiba lalu pergi tak terduga.
Tuhan, Kau kemana??? Aku membanting handphone ke depan cermin kamar.
Handphone dan kaca sama berderai. Hatiku lebih hancur lagi.
***
Tak ada handphone yang berdering nyaring. Tak ada Tuhan yang berbicara lewat handphone. Tuhan, Kau bukan hantu, kan? Kau pasti bisa kutemukan di suatu tempat. Di mana Kau bernaung Tuhan?
Tidak! Aku tak akan ke gereja! Tuhan yang di gereja telah melaknatku karena telah bercerai dari Alex. Tuhan di sana tak akan rela menyediakan waktu ngobrol khusus lewat handphone. Tuhan yang mana kucari ini?! Tuhan, kembalilah!!!
Tubuhku tergeletak lemas di atas ranjang. Pecahan handphone itu telah kusatukan, tapi tak bisa menyala. Tak apa-apa, Tuhan pasti punya cara ajaib supaya handphone itu berfungsi lagi. Aku akan menunggu-Nya.
***
Novelku mentok setelah sembilan bab. Aku butuh satu bab lagi untuk menyelesaikannya. Agen penerbitku mulai menanyakan perkembangannya. Tidakkah dia tahu aku tak akan bisa menamatkan novel ini dengan baik bila tanpa DIA?! Tuhaaan!!!
Email masuk hampir tiap hari, bertanya tentang hal yang sama. Orang-orang kapitalis ini memang tak bisa mengerti. Aku belum bisa memberikan draft novelku! Mengertilah, setan!
Tak ada lagi email bawel. Sepertinya aku dicampakkan.
***
Aku membeli handphone baru. Kuharap aku bisa menghubungi Tuhan lewat handphone ini. Kartu sim telah diaktifkan. Aku mulai memencet keypad.
TUHAAAN!!!
Aku tak menyimpan nomor rahasiamu!
Entah teriakan histerisku terdengar oleh para tetangga. Ah, aku sudah tak peduli. Tubuhku terguncang karena isakan tangis. Aku mencari Tuhanku. Aku ingin berbicara dengan-Nya. Tuhanku semestaku, hatiku telah hancur, masihkah Kau ada dalam hatiku?
Hatiku telah hancur, mungkin Tuhan tidak betah berada dalam hatiku. Mungkin Ia mengungsi ke gereja, mungkin saja, ‘kan?
Tidak! Gereja tak akan membukakan pintunya untukku.
Tunggu!
Tuhan sering menyuruhku ke gereja.
Aku akan menemuinya di sana!
***
Aku merapikan diri. Aku mematut diri depan cermin. Banyak yang berubah, lebih tepatnya berkurang. Aku terlihat pucat. Kulihat lipstick di atas meja rias. Kuusapkan pelan. Tanganku gemetar. Ah, peganganku tak kokoh. Segera kucampakkan lipstick itu, entah ia berguling ke mana. Aku berlari keluar. Terjatuh di depan pintu. Aku berjalan terseok. Terus berjalan menjauhi rumah.
Gereja, di sinilah aku berdiri. Di mana Kau Tuhan? Bicaralah sekarang! Kumohon.
Handphone di saku celanaku berdering. Private number. Hatiku melonjak girang, walau tubuhku sudah begitu lemas.
“Halo, Tuhan...”
“Kau meyakini Aku selalu ada di dalam hatimu. Tapi, kau sendiri tak pernah mendengar suara hatimu. Kau tak pernah mempercayai-Ku, Joanna.”
***
Novelku selesai. Penerbitku sangat senang. Bagaimana tidak? Novel yang menyelipkan pengalaman spiritualku itu menjadi best-selling seantero negeri. Sepertinya novel-novel macam ini memang diburu banyak orang. Orang-orang seakan kehilangan sesuatu yang mendalam di diri mereka. Orang-orang ini membutuhkan penyegaran spiritual. Mereka mencoba mencari Tuhan. Ah, semoga mereka bisa menemui Tuhan dalam hati mereka.
Handphoneku kini makin sering berdering. Tapi aku jarang menerima telepon, lebih banyak SMS yang masuk. Mereka pembaca novelku. Ungkapan kagum dan terimakasih bertubi-tubi kuterima. Tidak, aku tak pantas untuk itu semua. Tuhan yang pantas dikagumi dan disyukuri. Tuhan yang akan selalu bersemayam di dalam hati tiap manusia. Tuhan yang akan selalu berbicara dengan makhluknya yang mau mendengar. Dengarlah suara hatimu, Joanna, kau akan mendengar diri-Ku berbicara, kalimat terakhir Tuhan yang kudengar dari handphoneku.
***


Baca juga cerpen seru lainnya "Pak Bakeri"

Thursday, December 8, 2011

PARIS, JE T'AIME

Paris, je t'aime. Paris, I love you. Paris, aku mencintaimu.

Paris, je t'aime


Entah bagaimana caranya hingga saya begitu mengimpikan Paris. Entah bermula dari mana saya menggilai Paris. Barangkali, diawali dari kakak pertama saya yang pernah membeli buku praktis belajar bahasa Prancis. Ketika itu saya masih sekolah jenjang SMP atau SMA, saya tak terlalu ingat. Tapi saya cukup ingat cerita ibu saya bahwa beliau mengambil kelas bahasa ketika kelas 3 SMA, beliau berkisah pernah belajar bahasa Prancis walau kalau ditanya ibu saya sudah tidak tahu banyak mengeja bahasa tersebut. Katanya, bahasa Prancis itu menyenangkan dengan aksen yang berbelit indah. Saya pun mulai membuka buku praktis bahasa Prancis punya kakak saya itu. Saya tak terlalu cepat belajar bahasa, apalagi otodidak. Akhirnya buku itu hanya sebagai koleksi saja, karena kakak saya itu pun hingga kini tak fasih berbahasa Prancis. 

Kemudian, kakak saya yang lain juga mulai belajar bahasa Prancis, ia khusus mengambil kursus. Sedikit-sedikit saya mendengar ejaan-ejaan Prancis yang rumit ketika ia 'pamer' pada saya. Rumit tapi terdengar sexy. Hmm, entahlah, ketika saya masih SMA apakah saya sudah mengerti arti sexy? Hehehe... Tapi, kakak saya yang ini pun tak bertahan lama dengan kursusnya. Bahasa Prancis yang ia pelajari sebatas pemula dasar. 

Lalu, saya? Jaman sekarang mungkin tak cukup untuk menguasai satu bahasa asing saja. Mungkin karena itu saya akhirnya juga belajar bahasa Prancis di Pusat Kebudayaan Prancis di Salemba, Jakarta. Kenapa Prancis? Ya, mungkin saja pengaruh dari keluarga saya yang entah mengapa juga memilih Prancis. Sekitar 1,5 tahun saya belajar basic bahasa Prancis. Beruntung, saya tak kesulitan dalam pronounciation, sehingga saya sangat menikmati membaca atau berbicara dalam bahasa Prancis tertulis. Saya sadar saya jatuh cinta pada aksennya, tapi sukar sekali bagi saya untuk menguasai tata bahasanya. Terlalu rumit, terlalu banyak hafalan. Begitulah grammar bahasa Prancis. Mungkin karena itu saya tak bertahan lama, walau sebenarnya saat itu saya juga sedang sibuk menyusun skripsi. 

Friday, November 18, 2011

Tugas Terakhir

Dua minggu terakhir belajar menulis cerpen online di Plotpoint bersama Eka Kurniawan, kami para murid sepertinya sama-sama diserang virus "sibuk" atau "sok-sibuk"? Hehehe... Tak seorang pun yang mengumpulkan tugas tepat waktu sesuai deadline. Semuanya molooorrr! Tugas dua minggu terakhir itu adalah tugas ke-4 dimana kami ditugaskan menulis draft cerpen yang dikembangkan dari tugas ke-3 ditambah dengan dua soal tambahan, lalu the very last adalah tugas ke-5 yakni editing. Deadline lewat dan hari pemberian modul mendekat, tetap saja tak satupun dari 7 murid yang mengumpulkan tugas. Saya sebenarnya sudah mewanti-wanti diri saya untuk mengerjakan tugas di kala senggang akhir pekan yang ternyata dipenuhi banyak godaan jalan-jalan. Akhirnya, tugas yang saya kerjakan hanya soal-soal mudah, sedangkan tugas utama menulis draft cerpen tak selesai. Hari ketika seharusnya modul selanjutnya diberikan ke kami pun terlewati tanpa seorang pun yang menerima modul. Sungguh gawat keterlambatan kali ini! Padahal kami selalu diingatkan oleh moderator dan guru untuk segera mengumpulkan tugas. Dengan tekad bulat, saya pun mulai menulis tugas malamnya hingga sampai jam 2 dini hari. Alhamdulillah, selesai! Saya jadi yang pertama mengumpulkan tugas ke-4 itu. Yeay! Saya pun menjadi murid pertama yang menerima modul ke-5. Ihiy!

Tuesday, November 8, 2011

Tanda Tanya


Kadang, aku hanya ingin pergi menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Pergi ke dalam sunyi kesendirian. Tiada kebisingan yang menoreh jejas keangkuhan. Bahkan bisik-bisik pun menyembilu. Selalu ada unjuk ketinggian hati dari tiap suara yang kudengar. Suara-suara yang kuharap bisa masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tapi, nyatanya selalu ada gaung yang tinggal dalam kepala. Menyeret rasa dan akalku untuk mencerna, beginikah dunia?

Monday, November 7, 2011

Email yang Dibalas

Buku "99 Cahaya di Langit Eropa" termasuk salah satu buku terbaik yang saya miliki. Isinya sangat menyentuh saya, terutama ketika membaca epilog, mata saya terus berair a.k.a menangis, baru berhenti ketika kakak saya tiba-tiba masuk ke kamar dan memanggil saya. Hehehe.. Karena itulah, selain menulis reviewnya di blog, saya juga mengirim sebuah email ke penulisnya Hanum Rais tak lama setelah menamatkan buku tersebut. Kebetulan di halaman akhir buku, dicantumkan alamat email kedua penulisnya. Saya mengirim email ke mbak Hanum saja, karena sesama perempuan supaya lebih nyaman, juga sesama kuliah kedokteran gigi walau beda almamater, walau saya belum lulus sedang Hanum sudah lulus. Email yang saya kirim berupa pujian saya tentang buku tersebut, kesan saya membacanya, hingga keingintahuan saya tentang gelar dokter gigi sang penulis. Hanum Rais memang lebih dikenal sebagai jurnalis TV dan penulis buku daripada sebagai dokter gigi. Ia adalah anak dari tokoh politik Amien Rais.

Saya cukup berharap email yang saya kirim itu dibalas oleh mbak Hanum. Beberapa hari saya masih menanti-nanti sampai akhirnya terlupakan. Sampai hari Sabtu yang lalu, kala sore, sebuah email masuk ke perangkat mobile saya. Segera saya cek, tertera nama pengirim dari "Hanum Rais", hati saya langsung berdesir. Ada rasa senang ketika itu. Saya langsung baca cepat saja isinya, benar itu balasan untuk email saya yang saya kirim sekitar 2 minggu sebelumnya. Karena ada urusan mendadak, saya tinggalkan sebentar email tersebut. Terus terang saya belum paham betul isi email dari mbak Hanum itu. Ada keinginan untuk membacanya lagi dengan benar-benar. Nah, berikut ini saya tampilkan screenshot email tersebut.

Wednesday, November 2, 2011

10 Cerita 111 Kata Kelahiran Juni 2011

Lebih Indah dari Senja


Ia berjalan anggun di atas panggung, tak jauh beda dengan caranya menyusuri pantai. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya takjub. Keindahannya mengalahkan pesona senja. Tak ada yang bisa mengalihkanku dari pijar matahari terbenam menjelang tenggelam. Namun, kala itu, momen favoritku terlewat sudah karena keindahan hawa yang tak bisa kulupakan hingga kini ia tampil bak ratu tercantik di dunia.
Lewat layar kaca, tanpa sengaja mengganti saluran televisi, aku bertemu ia lagi. Aduhai! Lenggok-lenggok yang tampak begitu alamiah. Begitu perempuan! Dan, hanya ia yang sangat hangat disambut sorak-sorai penonton yang menyaksikannya langsung.
“Cindy, 22 tahun!” teriak MC penuh semangat.
Akhirnya, kuikuti acara itu sampai selesai. Sesuai dengan keyakinanku, selempang Miss Ladyboy 2011 memang hanya untuknya.
@jejakubikel, 3 Juni 2011

Anakku Bukan Anakmu
“Ryan, aku tidak mencintaimu lagi,” kata Sandra.
It’s okay! Aku siap jadi single-father bagi Alya,” balas Ryan tanpa menoleh pada Sandra. “Kamu tak perlu jemput Alya, tak perlu ketemu anakku lagi!” lanjut Ryan.
“Alya juga anakku, Ryan!” protes Sandra. Mukanya memerah. Matanya berkaca-kaca.
“Tidak lagi! Meninggalkanku berarti kamu juga meninggalkan Alya. Kupikir cekcok kita selama ini hanya hal biasa. Ternyata…”
Sandra terisak. Ia tahu ia salah. Pertemuan tanpa sengaja di sekolah Alya setelah berhari-hari perang dingin di rumah telah membuat mereka bicara banyak . Sandra mengakui perselingkuhannya. Janin dalam rahimnya tak akan mempunyai ayah yang sama dengan Alya, anak tiri yang ia rawat sejak bayi, sejak kepergian istri pertama Ryan ke surga.
@jejakubikel, 5 Juni 2011

Monday, October 31, 2011

Siapa Jodohmu?


Siapa jodohmu? Apakah seseorang yang memenuhi semua kriteriamu? Seseorang yang sempurna di matamu, tanpa kau tahu apakah itu sebenarnya baik untukmu?
Siapa jodohmu? Apakah seseorang yang sama sekali berbeda dari dambaanmu? Seseorang yang kaulihat biasa bahkan kurang, tanpa kau tahu itu sama sekali tak buruk untukmu?

Sunday, October 30, 2011

Review: Nora Bagian 1 Tetralogi Dangdut

Sampul Depan
Kali ini saya mencoba mengupas novel dari Putu Wijaya. Terus terang, ini karya pertamanya yang saya baca. Walaupun sudah mendengar nama yang ternama ini sejak saya kecil, kira-kira SD, saya tak pernah bertemu langsung dengan karya Putu Wijaya di toko-toko buku yang saya kunjungi. Saya pun seperti tak tertarik untuk mencari karya-karya Putu Wijaya. Entah kenapa. Namun, jalan nasib akhirnya mempertemukan saya dengan Novel Nora di bazaar diskon Gramedia Matraman. Melihat cetakannya tahun 2007, wajar jika buku ini dijual murah, mungkin ingin segera menghabiskan stok lama. 

Di sampul depan, judul NORA terpampang cukup mencolok dengan warna merah huruf kapital semua di bagian atas setelah nama penulisnya. Lalu, di bagian bawah ada keterangan bahwa Nora ini merupakan bagian pertama dari Tetralogi Dangdut. Plus, wanti-wanti bacaan khusus dewasa.  Ada juga wajah perempuan yang sangat pribumi berbibir penuh sebagai latar sampul tersebut. Makin lengkaplah sampul itu terkesan "dangdut". Sampul yang lumayan menggoda iman untuk melirik isinya.

Di bab pertama, saya cukup terkejut karena belum apa-apa sudah menceritakan tentang Nora yang tak sengaja mengintip Mala sedang pipis berdiri dan jadi panas dingin melihat penis lelaki dewasa itu. Dari sinilah cerita bermula terus mengalir dan terus membuat saya penasaran.

Thursday, October 27, 2011

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa

Buku Terbaik 2011
Buku "99 Cahaya di Langit Eropa", sebuah novel perjalanan menapak jejak Islam di bumi Eropa, menggambarkan sisi lain Eropa bagi saya, mungkin juga bagi pembaca lainnya. Tapi, bagi saya pribadi, buku ini sangat berkesan. Ditulis oleh anak Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais, seorang lulusan dokter gigi UGM, buku ini tak hanya menceritakan cahaya Islam yang pernah menerangi bumi Eropa, tapi juga memberi secercah cahaya buat saya untuk mau mempelajari lagi agama yang saya peluk sejak lahir, Islam.

"99 Cahaya di Langit Eropa" bukan buku motivasi, tapi seperti novel pada umumnya, dengan bahasa ringan memaparkan kisah yang dialami penulisnya. Kisah tersebut berupa catatan perjalanan penulis di negara-negara Eropa. Ini pun bukan buku traveler biasa, ia tak menjelaskan situs-situs yang wajib dikunjungi, rekomendasi hotel dan tiket perjalanan, atau what do's and what don't's sebuah perjalanan. Di balik perjalanan fisiknya, ada perjalanan spiritual yang tak terelakkan bagi penulis, juga bagi saya sebagai pembaca. Saya seakan dibawa serta oleh Hanum ke tempat-tempat yang dijelajahinya.

Perjalanan dimulai dari Wina, Austria, penulis yang sementara tinggal di sini mengikuti suami sekolah doktoral, meniatkan dirinya untuk menelusuri peradaban Islam di bumi Eropa. Niat ini bermula dari persahabatan dengan warga imigran Austria asal Turki bernama Fatma. Fatma seorang muslimah yang berupaya menjadi agen muslim yang baik di negara sekuler. Ia cukup berpengetahuan tentang sejarah peradaban Islam di Wina. Dengan Fatma-lah, penulis mengunjungi tempat-tempat historis yang bisa dikaitkan dengan peradaban Islam dahulu. Kahlenberg, sebuah bukit di Wina, pertama kali tempat yang mereka kunjungi berdua. Dari bukit ini, tampak sungai Danube yang membelah kota Wina, dan di tepi sungai Danube, ada Vienna Islamic Center, sebuah masjid dan pusat peribadatan muslim Wina. Sayangnya, janji untuk mengunjungi Vienna Islamic Center tak bisa dilaksanakan oleh Fatma untuk Hanum. Fatma keburu meninggalkan Austria tiba-tiba. Perjalanan selanjutnya dilalui Hanum bersama suaminya.

Wednesday, October 26, 2011

Selamat untuk Hidup yang belum Berakhir!


25 menit lagi, malam akan berganti menjadi dini hari. 
Selama menanti pergantian waktu itu, aku hanya akan di kamar ini. Dalam remang lampu tidur dan binar kotak ajaib depan kasur, aku termangu menatap jarum detik yang terus bergerak.
Bagaimana mungkin secepat ini? Padahal aku belum menjadi wujud dalam mimpi. 
Ah, ya! Waktu tak lagi berjalan. Ia tak pula berlari pelan. Waktu kini punya sayap, ia bisa terbang. Sedang aku, yang pernah lesat dengan kepak tiada henti, kini terperosok sudah. Mencoba bangkit. Jatuh bangun hingga ditinggal waktu yang tak mau menunggu. 

Friday, October 7, 2011

Sekolah Menulis? Kenapa tidak?!

No one should go into debt to study creative writing. It’s simply not worth it. This is not medical school. ~ Ann Patchett, the bestselling author of Bel Canto.
Yes, I won't go into debt to study creative writing. Karena, memang sekolah menulis kreatif itu tak semahal sekolah kedokteran. Makanya, ketika sebuah sekolah menulis menawarkan pelatihan menulis--bisa disebut kursus ataupun workshop--saya tertarik untuk bergabung. Buat apa? Memangnya belajar menulis harus sekolah juga? Kalau pertanyaannya demikian, buat apa ada fakultas sastra? Tapi, supaya pandai menulis intinya kan harus rajin membaca rajin pula menulis. Learning by doing kan bisa?! Iya, tak salah memang! Pekerjaan kreatif itu intinya harus mau terus berlatih. Sesuatu yang butuh ketrampilan yang penting rajin diasah kemampuannya, seperti kegiatan menulis kreatif ini. Lantas, kenapa saya mau mengeluarkan uang buat ikut kursus menulis? Jadi, begini...

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya gemar menulis. Mungkin karena memang lagi hits blogging. Mungkin karena saya termasuk "generasi Y" yang suka eksis, terpancing untuk eksis dengan cara blogging. Tapi bukan ini alasan utama saya mulai terjun ke dunia blog. Dulu, saya sempat patah hati, obatnya ya... menulis. Writing is relieving, right?! Nah, kira-kira itulah momen mulainya saya bertualang di blog. Mulai dari multiply, kompasiana, blogspot, tumblr, wordpres, semuanya saya coba. Dari menulis curhat sampai menulis prosa atau cerita fiksi, walau sebenarnya dari SMP saya sudah senang menulis cerpen. Lalu, timbul niat untuk mendalami dunia penulisan, yang mana berawal dari kesempatan untuk mempublikasikan karya fiksi saya dalam bentuk buku, walau secara self-publishing. Since then, I claimed myself as a writer.

Thursday, October 6, 2011

Mimpi Bertemu Westlife

Idola Saya Jaman ABG


Westlife adalah satu-satunya boysband yang menguras perhatian, waktu, tenaga dan uang saya ketika masa ABG dulu. Saat itu saya masih kelas 2 SMP. Saya begitu tergila-gila pada Westlife, khususnya Shane Filan, entah itu karena lagu-lagunya yang memang enak didengar, tampang keren mereka--Shane yang paling cakep tentunya--atau entahlah, saya terpesona hingga berangan-angan bisa bertemu langsung dengan mereka. Bahkan, saking ngefansnya, saya kadang berfantasi macam-macam dengan mereka, apakah itu fantasi saya pacaran sama Shane, fantasi saya berteman baik dengan mereka berlima. Haduh.. Malahan, saya sering terharu kalau melihat mereka tampil di TV, bisa bikin mata saya berkaca-kaca. Untungnya sih nggak sampai nangis. Malu juga, biar masih ABG labil ini. Hehehe...

Lalu, waktu terus bergulir. Saya semakin dewasa, dan semakin mengerti tentang bagaimana harus bersikap terhadap idola. Tak baik bila terlalu memuja, bukan?! Apalagi cuma sama boysband! Nah, album terakhir mereka yang saya beli kalau tak salah Coast to Coast, atau apa ya? Pokoknya setelah Bryan keluar dari Westlife saya tidak lagi jadi fans setia. Saya bahkan tak ambil pusing lagi sama apa-apa yang terjadi dengan Westlife, tidak peduli dengan album terbaru mereka, berita terhangat, pastinya juga tidak lagi mengumpulkan segala macam artikel tentang Westlife yang beredar di media massa. Westlife juga pamornya mulai berkurang, tak sehits jaman saya SMP. Tapi, Westlife tetap eksis hingga kini. Buktinya mereka masih mengeluarkan album baru, dan masih menggelar konser dunia. Dan, mereka, tanggal 5 Oktober 2011 kemarin, mampir ke Jakarta.

Tuesday, October 4, 2011

Review: 4 Fiksi Istimewa Majalah Femina

Edisi 1-7 Oktober 2011 merupakan edisi khusus HUT ke-39 majalah Femina. Salah satu rubrik yang saya incar dari majalah ini adalah cerpen. Kebetulan di edisi istimewanya, Femina menyajikan 4 cerpen sekaligus dari penulis yang barangkali juga istimewa. Nama-nama yang tak asing lagi di dunia literasi Indonesia menghiasi halaman rubrik cerpen Femina kali ini. Ada Sitok Srengenge, Erdian Aji, Fajar Nugroho, dan Salman Aristo. Mungkin karena itu rubrik cerpen di edisi HUT ini diberi nama "4 Fiksi Istimewa". Tapi, apa iya istimewa? Berikut ulasan sekadarnya dari saya sebagai pembaca awam. Sekadar ulasan dari pembaca yang tak istimewa. Hehehe...

Lagu Untuk Ibu, oleh Sitok Srengenge, adalah cerpen yang menyentuh. Dengan ide sederhana, kata-kata sederhana, plot cerita yang juga sederhana, penyair ternama ini membawa saya pada esensi sebuah cinta anak kepada ibunya. Mungkin sudah biasa kita disuguhi cerita tentang pengorbanan ibu pada anaknya. Mungkin karena itu juga penulis menggarap cerita sebaliknya. Bagaimana seorang anak bernama Siwi memikirkan hadiah terbaik apa yang bisa ia berikan pada saat ulang tahun ibunya, hadiah terbaik sebagai penghargaan dan cinta pada ibu. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, cerita ini mengalir mulus sampai akhir cerita. Siwi menyanyikan sebuah lagu untuk ibunya. Ia tak memberi kado apa-apa di hari ulang tahun ibu seperti ayah yang memberi kado selembar kain, atau seperti teman ibu yang memberi parfum kesukaan. Namun, ibu tetap bahagia, malah menyanjung Siwi. Siwi lega, meski ia tahu, sehebat apa pun pemberian seorang anak kepada orangtuanya, belum seberapa dibanding pengorbanan setiap orangtua untuk anaknya.(1) Barangkali, cerita ini mudah bagi Sitok Srengenge untuk menuliskannya. Ia mengangkat tema sederhana yang mudah dimengerti oleh pembaca semua umur. Kesederhanaan yang istimewa, bukan?!

Wednesday, September 28, 2011

Kisah di Balik Karpet Merah


Aku tinggal di sebuah gubuk reyot, persis di sudut negeri ini. Entah kenapa di negeri yang terkenal kaya sejagad, hanya aku beserta Ibu yang miskin. Pernah kudengar hikayat, kami dikutuk oleh penyihir jahat untuk terus melarat sampai akhir hayat. Entahlah! Tapi, aku percaya bahwa nanti nasib baik akan mendekati kami. Aku hanya bermimpi? Ah, lihat saja! Nasib kadang tak bisa ditebak. Nasib berubah dengan cara sesukanya, dengan cara karpet merah.

Suatu ketika, Ibu menghampar karpet merah panjang di depan pintu gubuk kami.
“Ini karpet merah darimana, Bu?” tanyaku, heran melihat Ibu sibuk membenahi karpet merah.
“Karpet merah bekas istana yang telah dibuang ke pelimbahan. Ibu ambil, dan Ibu cuci bersih di tepi danau,” jawab Ibu yang tampak riang.

Thursday, September 22, 2011

Review: Rise of The Planet of The Apes


Barangkali, banyak yang pikir film Rise of The Planet of The Apes tidak termasuk ke dalam Must Be Watched List. Saya salah satu di antaranya. Pertama, karena saya tak tertarik untuk melihat kera-kera beraksi di layar lebar. Kedua, karena saya pikir ceritanya biasa saja, apa yang menarik dari kera?! Tapi, ternyata film science fiction ini langsung mendapat tempat di hati saya setelah menyaksikannya. Kenapa? Karena kegantengan salah satu kera di film ini yang bernama Caesar? Hahaha..
Jadi, ceritanya bermula dari sebuah laboratorium uji coba farmasi di San Fransisco. Di sana, kera tetiba jadi kelinci! Lho? Iya, jadi kelinci percobaan tim ilmuwan di sana. Ceritanya cukup panjang diceritakan di sini. Saya sarankan cari saja sinopsisnya sendiri. Hehehe…

Friday, July 22, 2011

Tweet More, Think Less!

Alert: Ini hanya copas dari note saya di Facebook! 


Sudah lama saya tak menulis di note facebook ini. Banyak hal, kejadian, momen yang telah terlewati, namun alpa untuk dicatat. Oh ya, sudah ada media twitter! Apapun gerutuanmu, curahan hatimu, atau sekadar menyampaikan peristiwa penting tak penting, kotak 140 karakter di microblog twitter itu sanggup menampung. Begitupun saya! Seringkali kita meracau sekenanya di sana. Rasa-rasanya apa saja bisa jadi bahan kicauan. Dari keluhan pribadi, kritik berita, ngomongin orang lain--sampai lupa (sengaja) orang tersebut bisa membacanya--bahkan mau marah-marah sumpah serapah segala sampah ditampung sama Om Twitter ini! Kalau nanti ada efek yang tak enak, itu urusan nanti! Lah, namanya juga 'kalau nanti'! Yang penting resah gelisah sudah dilontarkan, ya, toh?! Biar plong, ya, toh?! Jadinya, kita ini keseringan "tweet more, think less!"

Lantas, sebenarnya saya ini mau bicara apa?! Cuma meracau? Racau yang tak cukup dengan 140 karakter? Halah! Saya ini orangnya memang ndak jelas! Kadang begini, kadang begitu! Seringkali tak konsisten apa yang diomongin, apa yang diniatkan, apa yang direncanakan. Ya sudah, daripada ketidakjelasan saya makin jelas tampak, saya undur diri saja. Saya hanya kangen menulis panjang. Daritadi di depan laptop, menunggu ilham buat lanjutin cerita bersambung Andante. Memang lagi kosong, bikin saya tak sanggup bercerita apa-apa. Harus diisi bahan bakar dulu. Biar otak sama hati bisa jalan lagi. Nggak! Saya nggak minum bensin! Bahan bakar saya hanya dengan membaca saja. Membaca tak hanya buku, bisa jadi cuma menangkap apa yang terlihat, merenungkan peristiwa-peristiwa, menyerap makna-makna kehidupan. 

Sudah! Sudah! Banyak omong! Yo wis, saya pamit dulu ya! Ya elah, mau pamit sama siapa? Kayak ada saja yang baca note menye-menye ini!

Iya, iya! 

Saya ndak nulis lagi. Saya selesaikan di kalimat ini. Habis itu titik.




Demikian catatan tersebut saya salin kembali di blog ini.

Sunday, June 19, 2011

Film Mini: Cemburu Itu Peluru

Keping DVD pelengkap buku Cemburu Itu Peluru kini di tangan saya. Buku itu saya "beli" dari salah seorang penulisnya, Oddie Frente, dengan menukarkan sebuah buku Lajang Jalang. Barter yang tak adil memang. Tapi, terima kasih yang tulus dari saya semoga bisa mencukupi. 
Suatu malam, setelah "proses barter", saya pulang. Menjelang waktu tidur, saya mainkan keping DVD itu. Saya saksikan seksama, satu per satu film mini, berdurasi tak lebih lima menit. Kira-kira setengah jam cukup untuk menonton semuanya. Ada sembilan film mini yang diadaptasi dari fiksimini, ditulis oleh kelima penulis Cemburu Itu Peluru. Berikut sedikit review, walau saya sama sekali tak mengerti tentang sinematologi. 

Wednesday, June 15, 2011

Saya dan Jejakubikel

Jejak? Ya, tahu.

Kubikel? Ya, tahu juga.

Jejakubikel? Hm, saya harus mencari tahu. Karena tempe sudah pasti nggak bisa kasih tahu. Hahaha.. Maaf, garing! Ya, namanya juga gorengan tempe dan tahu. Jadi, ini mau nulis tentang apa??? Hihihi..

Ok, serius nih ya! Entah saya pernah membaca kata ‘jejakubikel’ sebelum saya bertemu kata ini di lini masa mikroblog twitter. Coba saya ingat-ingat siapa yang berkicau tentang Jejakubikel! Oh, diaaa... lelaki dewasa tanggung! Tanggung? Saya tak mengira dia begitu narsis memajang foto-foto close-up dirinya dalam berbagai pose sebagai background profil twitternya. Jadi saya pikir saat itu, dia lelaki dewasa tanggung. Hehehe... Namanya Rendra, di twitter dengan akun @therendra, yang saya kenal lewat komunitas menulis cerita estafet online di twitter.  Lewat dialah saya sering bertemu dengan kata ‘jejakubikel’.

Awalnya, saya nggak terlalu tertarik menulis di sana. Saya masih dalam fase “spying” saja. Bulan November itu, saya mulai tahu siapa-siapa saja pencetus komunitas menulis ini. Ada tiga pria yang ternyata mereka belum bertemu satu sama lain; Rendra, Daniel, dan Mumu. Widih, keren juga nih orang-orang! Tanpa harus tatap muka, kerja sama bisa dilaksanakan dalam mengonsep blog jejakubikel. Nama lain Jejakubikel adalah Cubiculum Notatum, yang menjadi nama besar blog ini. Sempat baca alasan mereka memakai nama ini, catatan dari kubikel. Tiap orang punya kubikel sendiri ketika menghasilkan karyanya. Namanya keren ya, saudara-saudari?! Ditambah lagi dengan tagline “Surga Kecil Menulis”, benar-benar surga bagi yang doyan nulis dan baca! Dengan fasilitas blog gratis dari wordpress, Rendra, Daniel, dan Mumu memberi peluang untuk siapa saja yang ingin menulis di blog keroyokan ini. Mungkin karena itu mereka mempopulerkan November Menulis. Tiap hari ada tema yang berbeda yang dibagi ke dalam 5 kelompok besar. Sempat mikir, mereka gila apa??? Tiap hari nulis cerita yang beda??? Penulis terkenal bahkan tak sebegininya. Ya, mereka gila! Dan kegilaan mereka yang mengundang kegilaan manusia lainnya untuk mau menulis setiap hari? It sounds good actually! Kita yang hobi menulis, berniat mau jadi penulis, memang butuh penyaluran seperti itu. Ada yang memecut, mencambuk untuk terus berlatih. If you can do everyday, so why don’t you do?!

November pun berlalu, saya belum juga menulis di sana. Padahal, lumayan banyak teman-teman yang saya kenal dari hobi menulis sudah ‘setor’ tulisan ke jejakubikel.wordpress.com. Tulisan bisa dikomentari, jadi bisa sebagai wadah belajar menulis. Atau, nggak usah serius-serius amatlah, buat ajang pertemanan pun bisa. Nah, kalau kenal sama orang-orang baru, boleh juga nih, siapa tahu ketemu jodoh?! Hahaha... Oops, mudah-mudahan si pacar nggak baca blog ini! Hihihi...

Saya lupa kapan persisnya saya follow akun twitter @jejakubikel. Entah saat pertama dipromosiin sama @therendra, entah kapan. Sorry for this short term memory syndrome. Di bulan November itu, sesekali saya blog-walking ke Jejakubikel. Banyak banget yang nulis, nggak semuanya saya baca. Tapi, saya ingat saat memasuki tema ‘Lagu Inspirasi’, saya sudah mau mulai menulis sesuai lagu yang disodorkan moderator. Eh, pas baca-baca tulisan yang masuk, kok saya jadi bingung sendiri mau nulis cerita apa. Saking banyak yang bagus-bagus kali yaa?! Ya, gitu deh, jadinya urung nulis.
Tapi, pas ada tantangan menulis cerita berjumlah 111 kata di bulan berikutnya, yang diberi judul Desember Dongeng, hmm...saya merasa tertantang sekali. Jadilah, cerita pertama saya bertema rokok, resmi tayang di jejakubikel.wordpress.com. Saat itu, saya musti kirim naskahnya lewat email jejakubikel@gmail.com. Tanggal cantik 12 bulan 12 jadi hari bersejarah saya di Jejakubikel, Officially Cubinoters! Hehehe...

Sejak saat itulah, saya mulai kirim tulisan. Nggak setiap hari. Toh, kita nggak diwajibkan setor tiap hari. Kita juga nggak diwajibkan baca tulisan teman-teman lainnya, nggak wajib memberi komentar, mau asyik sendiri juga boleh. Well, namanya aja surga kecil menulis, mana ada lagi kewajiban-kewajiban kalau di surga, silakan sesuka hati, asal tahu diri, tahu etika. Nah, makanya saya mulai menyenangi menulis sesuai tema dari Jejakubikel. Walau agak sulit bagi saya untuk bisa mengatur waktu menulis setiap hari, tapi sebisa mungkin saya akan menulis sesuai tema saat itu. Nggak perlu panjang-panjang. Semacam flash fiction pun boleh. Semacam cerpen sangat pendek pun masih boleh. Semacam curahan hati pun... Oh, nggak dilarang, saudara-saudari! Yang penting menulis sesuai tema. Tema-tema yang sudah lewat tapi baru ditulis sekarang juga tetap diterima, kok! Jadi Cubinoters seperti saya pun nggak musti bayar, gratis bo’! Apalagi jadi Cubilovers, kamu-kamu yang suka blog-walking di Jejakubikel. Sejak beberapa bulan yang lalu, nama webnya nggak pake wordpress lagi. Tapi, resmi ‘berdikari’ jadi www.jejakubikel.com! Tambah cihuy, gak tuh?! Hehehe...

If you read this note, if you like writing, if you like short stories, if you are just curious, then you should visit us! “Spying” aja dulu kayak saya pertama kenal Jejakubikel. Ketertarikan bisa menyusul kemudian! Mengenal Jejakubikel tak pernah saya sesali. Mencintainya? That’s my goal!

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.



Thursday, June 9, 2011

Requiem Dante

Kanker prostat stadium empat! Bangsat! Hinakah aku? Ya Tuhan, kenapa Kau pikir aku butuh penyakit itu?! Memang aku bukan penggila seks. Kau hilangkan sekalian organ vitalku itu, aku bahkan tak akan tersiksa bila memang hanya itu yang hilang. Tapi, lihatlah! Dengan penyakit yang Kau dera padaku ini telah membuatku mati rasa. Bukan karena aku tak bisa bersenggama lagi! Semua kesempatan emas telah lewat, Tuhan! Satu-satunya yang Kau sisakan untukku hanya kesempatan surga di mana Kau janjikan aku bisa selamanya berbahagia.

Hahaha… Bagaimana mungkin aku bisa tinggal di surga-Mu? Selama hidup sehatku tak sekalipun aku menyembah-Mu, Tuhan. Tuhan? Kau baru kukenal dari pendeta yang sering bertandang ke bangsal tempat pesakitanku. Katanya, aku butuh pendampingan menuju kematian yang kian dekat. Kasarnya demikian aku menangkap maksud kedatangannya. Kupikir aku tak butuh apa-apa, selain kesembuhan. Jika orang yang akan diberi hukuman mati diberi kesempatan untuk pesan terakhir, maka aku juga ingin satu. Asal Kau tahu, diagnosa dokter yang kudengar bagai putusan hukuman mati! Jadi, bisakah Kau dengar pesanku untuk terakhir kalinya? Bisa? Pasti bisa! Maukah Kau, Tuhan? Maukah Kau dengar aku? Pesanku hanya satu, Tuhan!