Friday, December 31, 2010

Musikal Laskar Pelangi: Sekadar Ulasan, Ulasan Sekadar

Kemarin, 29 Desember 2010, saya berencana membeli tiket pertunjukkan Musikal Laskar Pelangi di ticketbox di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM). Tadinya saya dan teman ingin menyaksikan pertunjukkan itu pada hari lain. Ternyata, tiket yang dijual hanya untuk hari itu, tiket untuk hari lain bisa dibeli di ticketbox selain di TIM. Karena itu, saya dan teman akhirnya memutuskan untuk menyaksikan Musikal Laskar Pelangi pada hari itu juga, tepatnya malam pukul 19.00.

Harga tiket bervariasi dari kelas 3, 2, 1, VIP sampai VVIP. Kelas 3 dengan kursi penonton di tribun lantai 3 adalah tiket dengan harga paling murah 100.000 IDR. Kelas 2 di tribun lantai 2, 250.000 IDR. Sedangkan kelas 1, VIP, dan VVIP ada di lantai 1 yang tentunya lebih dekat panggung, dengan harga 400.000 IDR, 650.000 IDR, dan 750.000 IDR. Pertunjukkan ini digelar dari tanggal 17 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011. Harga tiket kelas 1, VIP dan VVIP ada promo khusus pelajar/mahasiswa dengan diskon 30% sampai tanggal 31 Desember saja. Harga tiket yang cukup mahal, menurut saya, sebanding dengan apa ditampilkan.

Musikal Laskar Pelangi memang berawal dari kesuksesan novelnya. Novel karya Andrea Hirata adalah novel best-seller di Indonesia. Mira Lesmana, seorang seniman film, pun memfilmkan Laskar Pelangi bersama partnernya sutrada handal Riri Riza. Film Laskar Pelangi yang digarap dengan sangat baik juga berhasil menarik masyarakat untuk menontonnya walau mungkin belum membaca novelnya, seperti saya. Saya tidak membaca satu pun novel-novel karya Andrea Hirata, entahlah, kenapa saya tak tertarik untuk membacanya, belum barangkali. Karena saya bukan pembaca Laskar Pelangi, maka saya tidak ada ekspektasi apa-apa untuk filmnya. Saya hanya berminat menonton filmnya, menjadikannya hiburan bagi saya, maka saya nikmatilah tiap adegan yang bergulir. Jadi, ketika saya memutuskan untuk menonton Laskar Pelangi (LP) dalam bentuk drama musikal, tak lain karena saya penikmat filmnya, bukan penikmat novelnya. (Well, Andrea Hirata, go away, I won't talk about you! Hihihi..)


Musikal LP juga digagas Mira Lesmana dan Riri Riza. Dari segi alur cerita, tak banyak perbedaan walau beberapa scene di film ditiadakan dalam musikalnya. Drama ini dimulai dengan intro Ikal Dewasa mempersembahkan kisah masa kecilnya di Belitong. Lalu, pabrik timah, Ibu Muslimah yang menanti 10 murid SD Muhammadiyah, si jenius Lintang yang datang dari pesisir, karnaval, cerdas cermat, pabrik timah tutup, sampai akhirnya Ikal dewasa muncul kembali dan bertemu sahabat lamanya Ikal.

Musikal! Tentunya full of music. Banyak nyanyian dengan suara-suara emas. Namun, menurut saya, beberapa musikalisasinya terkesan dipaksakan. Ada 'Dialog yang dinyanyikan' kurang enak di kuping saya, beberapa lirik lagu tak terlalu menarik walau isinya inspiratif dan edukatif. Tapi, berkat komposisi musik dari Erwin Gutawa, musikal LP terdengar indah dengan iringan orkestranya. Selain itu, tata panggungnya sangat brilian. Ketika scene hujan, air sungguhan pun disiapkan hingga benar tampak sedang hujan. Tiga ekor kambing sungguhan juga ditampilkan. Tata cahayanya pun menampilkan warna pelangi ketika diperlukan.

Overall, saya tak sia-sia menghabiskan uang ratusan ribu untuk menikmati Musikal LP. Ajaklah anak-anak anda menonton pertunjukkan ini. Sangat jarang drama musikal yang edukatif dan menghibur yang target marketnya anak-anak (di atas 5 tahun).
Apapun selera anda, novel, film, atau drama musikal, kisah Laskar Pelangi memang layak diacungi banyak jempol.



12936946961473460308
Permisi, saya numpang narsis :p


No comments:

Post a Comment