Thursday, December 9, 2010

Menembus Mainstream Media: Akses, akses, akses!

Suatu petang di hari Minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman maya yang saya kenal lewat acara “99 Writers in 9 Days” Nulisbuku.com. Niatnya adalah sama-sama mengunjungi Festival Pembaca Indonesia di Pasar Festival Kuningan. Oleh teman tersebut, saya pun dikenalkan dengan temannya yang pada hari itu mendapat penghargaan dari Goodreads Indonesia di acara Festival Pembaca Indonesia. Tak usahlah saya sebutkan siapa, tapi dia telah menelurkan 9 buku, 6 karya sendiri dan 3 karya bersama penulis lain. Setelah acara selesai, kami bertiga istirahat sebentar di food court, tentunya sambil ngobrol-ngobrol. 

Entah bermula dari topik apa, obrolan kami menjadi kian seru tentang dunia kepenulisan. Dia, sebut saja Miss X, bercerita tentang pentingnya akses dalam penerbitan, baik di media massa maupun penerbitan buku. Akses dalam pengertian orang yang dikenal untuk bisa meloloskan karya kita. Setidaknya karya kita diantara ribuan karya yang masuk meja redaksi dilirik oleh orang yang disebut “akses” itu.

“Lo bayanginlah berapa ratus karya yang masuk tiap minggunya, lo yakin karya sebanyak itu dibaca semua oleh redaksi? Mereka pasti mendahulukan karya yang udah mereka kenal namanya.” Demikian Miss X katakan tentang karya yang terbit di media massa seperti koran, majalah, ataupun media massa terkenal lainnya. Miss X menegaskan penulis yang punya akses lebih berpeluang untuk menerbitkan karya mereka.


Kata Miss X tersebut ada benarnya. Pernah kejadian di harian Kompas Minggu di bulan Oktober lalu, suatu kritikan bahkan hujatan diterima oleh penulis cerpen yang untuk pertama kalinya karyanya tembus Kompas Minggu. Dari komentar-komentar yang masuk, dapat dilihat indikasi adanya “pendayagunaan akses” tersebut. Karya penulis itu tak istimewa, tapi bisa terbit, tepat pula di hari ulang tahunnya. Disebut-sebutlah bahwa editor kenal dekat dengan penulisnya. Walaupun demikian, usaha penulis tersebut untuk menembus maistream media patut diacungi jempol. Setidaknya dia sudah punya nyali untuk menunjukkan bahwa karyanya pantas diterbitkan di media berkelas.

Begitu juga halnya dengan penerbitan buku, pihak penerbit biasanya akan mendahulukan naskah dari penulis yang sudah punya nama. Atau, penulis tersebut punya kenalan di penerbitan tersebut untuk meyakinkan kalau karya mereka tak langsung masuk tong sampah. Setidaknya dilirik dululah isi naskah tersebut. Lagi-lagi, Miss X menegaskan pentingnya akses. Akses ini bisa juga didapat dengan menyertakan endorsement dari orang-orang terkenal supaya punya nilai lebih sehingga penerbit punya nilai jual untuk karya tersebut. Hal ini terjadi pada seorang penulis novel yang juga berprofesi sebagai dokter. Siapa? Cari tahu sendiri ya! Hehehe.. Miss X ini dengan terang-terang bilang kalau novel si penulis dokter tersebut tak ada bagus-bagusnya, ceritanya tak jelas, mengambang, bahkan editor novel itu sendiri bilang kalau ia sendiri tak mengerti maksud isi novel tersebut. Hanya karena si penulis dengan penerbit telah bekerjasama dan sepakat novel tersebut diterbitkan, mau tak mau si editor tetap melaksanakan pekerjaannya. Kebetulan si editor ini kenalannya Miss X. Miss X bahkan menilai novel teenlit Dealova masih jauh lebih bagus ketimbang novel si penulis dokter yang banyak dibubuhi istilah-istilah njelimet. Si penulis dokter yang punya banyak akses meloloskan karyanya dengan menyertakan banyak endorsement dari mereka. Nah, bagaimanapun, si penulis dokter ini layak juga diacungi jempol, setidaknya dia punya self-confidence yang tinggi, meminta orang-orang terkenal untuk memberikan endorsement karyanya. Tapi tak mungkin, kan orang-orang tersebut mau memberi endorsement kalau karyanya memang jelek. Strategi donk, ah! Miss X bersemangat cerita pada saya, “Orang-orang itu belum tentu baca semua isinya, Vir! Mereka cukup menuliskan hal-hal netral yang kalaupun ternyata karya itu jelek, isi endorsement tidak akan menjatuhkan nama dan kredibilitas mereka.”

Wah, wah, demikian pentingnya akses! Saya yang ingin menembus mainstream media ini tercekat juga mendengar obrolan Miss X. Kesannya ‘life is so unfair’. “Tenang aja, Vir. Akses itu memang penting. Tapi bisa dicari, kok!” kata Miss X menyemangati saya. Saya tak meragukan kata-kata Miss X serta kualitas karyanya, toh salah satu karyanya sudah dapat pengakuan (penghargaan) dari sebuah komunitas pembaca terbesar di Indonesia. Walaupun saya sendiri belum pernah baca karya Miss X, saya bahkan tidak pernah tahu namanya dikenal sebagai penulis. Hehehe… Tapi, apa iya akses itu nomor satu untuk meloloskan karya kita ke mainstream media? Apa iya akses adalah jalan utama supaya kita bisa menerbitkan buku? Hmm, nggak juga lah ya. Miss X sendiri mengatakan ada juga nama-nama baru yang memang terseleksi ketat bisa meloloskan karya mereka. “Tapi, peluangnya berapa persen, sih, Vir?” Ah, lagi-lagi bikin saya tercekat saat itu. Tapi, beberapa hari yang lalu, cerpen saya ternyata bisa tayang di Kompas.com. Kebetulan saya dapat info cara mengirimkan cerpen ke sana, langsung saja saya kirim ke Kompas.com. Dan, tahu? Saya sama sekali tidak punya akses orang dalam buat meloloskan karya saya tersebut. Aksesnya ya cuma “email”. Hanya tinggal klik send. Hehehe… Ya, mungkin karya cerpen yang masuk Kompas.com tak sebanyak dengan karya cerpen yang masuk ke redaksi harian Minggu Kompas cetak. Jadi, kompetitor saya tak banyak. Hahaha…

Karena waktu yang terbatas, obrolan petang itu tak sampai membahas cara mencari akses. Intinya sih, kita tetap usaha terus mengirimkan karya kita ke media. Semakin intens kita berkarya dan mengirimkan karya tersebut, setidaknya dari pihak media sudah sedikit ‘ngeh’ dengan kegigihan kita. Itu saja cukup dibilang kita sudah punya akses untuk menembus mainstream media. Untuk penerbitan buku, kita bisa memulai dengan self-publishing untuk menciptakan akses. Bisa juga dengan cara mengikuti lomba-lomba/sayembara menulis cerpen atau novel. Cara-cara promosi diri sendiri di social media juga sudah bisa membuka sedikit akses ke mainstream media. Setidaknya, tiap orang itu punya peluang kok untuk menerbitkan karya mereka. Tinggal bagaimana usaha yang dijalankan.

Bagaimanapun cara kita untuk mendapatkan akses menembus mainstream media, yang paling utama sebenarnya adalah mutu karya. Kalau memang bagus, pastilah diterbitkan! Rugi juga penerbit kalau menyia-nyiakan karya bagus yang berpeluang laku di pasaran. Jadi, saya tetap percaya naskah yang masuk ke meja redaksi media massa atau penerbit besar akan diterima dan diseleksi dengan cukup adil. Setidaknya mereka pasti membaca dulu sinopsisnya atau halaman pertama dari sebuah karya, jika tidak mungkin membaca semuanya. Kalau memang ada sedikit ‘belok-belok’, ’sikut-sikut’, ya wajarlah, namanya juga kehidupan, ada seleksi alam, siapa yang kuat dia yang menang. Life is unfair, right? Hehehe…

Akses, mutu karya, lalu apalagi ya? Nah, tak kalah penting adalah kepercayaan diri! Jadi, pede aja lagi! Kalau sudah berkarya, tunjukkin donk karya itu! Harus percaya diri kalau karya kita layak dibaca dan diterbitkan! Seperti penulis dokter itu, dia pede banget menyodorkan karyanya pada orang-orang terkenal supaya diberi endorsement. Miss X saja salut sama penulis dokter yang sangat pede itu.

Mungkin ada yang idealis, bilang, menulis ya menulis saja… urusan terbit tak terbit itu belakangan. Ya, benar juga. Tapi, percaya deh, tiap manusia itu eksistensinya makin kuat dengan adanya pengakuan. Manusia itu butuh pengakuan. Dan, bagi penulis, pengakuan itu bisa dilihat dari karyanya yang diterbitkan oleh mainstream media. Jadi, teman-teman penulis, tetap usaha terus ya menembus mainstream media. Semangaaat!!!

2 comments:

  1. waw.. tulisannya bagus banget mbak.. membuka mata kita tentang dunia media dan penerbitan..:) tapi saya tetap sepakat dengan mbak vira, usaha sendiri tanpa akses lebih membahagiakan daripada mengandalkan koneksi orang dalam..:) salam kenal mbak..:)

    ReplyDelete
  2. yup, betul, klo memang bagus, malah penerbit/media yg nyari2 tulisan itu. hehehe..
    salam kenal.. :)

    ReplyDelete