Monday, December 20, 2010

Itu Melulu! Variasi, donk! Biar Nikmat!

Pernahkah sang ayam jantan bosan berkokok setiap fajar menyingsing? Saking bosannya, si ayam ogah-ogahan memulai rutinitasnya. Bayangkan seandainya ayam tidak berkokok pada suatu hari. Saat fajar ayam tetap tidur, menjelang siang keluyuran keluar dari kandang, sampai senja tidak juga balik ke asal, malah tetap jalan-jalan dengan buta mencicipi udara bebas malam. Bayangkanlah! Karena nyatanya belum ada ayam jantan kelayapan malam-malam. Setiap hari, ayam selalu melakukan kegiatan yang sama. Saya tidak akan bertanya lagi pada ayam apakah ia bosan. Ayam tak punya akal. Jadi saya akan bertanya pada diri sendiri saja. Ya, saya bosan kalau hari demi hari melakukan hal yang sama, itu-itu saja.

Andaikan saya adalah ayam jantan. Ketika bosan, saya tidak akan membangunkan orang-orang dari tidur malam panjang. Saya langsung membenamkan muka dalam seember air biar segar. Lalu cari makan. Perut pun kenyang. Segera bertandang ke kandang-kandang ayam betina seantero kampung. Mengawininya ekor per ekor. Sampai malam pun di saat tak bisa melihat, terus tebar pesona. Hingga kelak seluruh ayam betina melahirkan telur-telur hasil ovulasi dengan benih saya si ayam jantan perkasa. Mengenyahkan rutinitas. Betapa nikmatnya.

Perandaian yang sangat tidak logis dan realistis. Baiklah, mencoba untuk masuk akal. Saya sendiri pasti akan cepat bosan jadi ayam jantan normal. Tidak pernah libur sehari saja seumur hidupnya untuk tidak berkokok. Untungnya, di dunia manusia, dalam seminggu kita punya dua hari untuk tidak menjalankan rutinitas. Weekend selalu dinanti. Di hari inilah kita bisa melepas penat. Keluar dari pekerjaan harian. Me-refresh jiwa dengan kegiatan yang menyenangkan. Ya, begini wajarnya hidup kita. Weekdays bekerja, weekend berlibur. Dan ternyata itulah ritme hidup yang terus berulang dari minggu ke minggunya. Hampir saja saya menyamakan kita dengan si ayam jantan. Tapi, tentu kita berbeda! Sangat berbeda dengan ayam! Kita diberi akal untuk memutuskan apakah akan tetap mengulang rutinitas atau mencoba hal-hal baru. Layaknya seks, pasti akan jenuh jika tiap malam pakai gaya missionaris terus. Begitu juga hidup, akan jenuh jika itu melulu yang dilakukan. Ada kalanya kita mencoba variasi lain, walaupun mengharuskan kita keluar dari comfort zone.


Saya teringat film Into The Wild (2007), dimana tokoh utamanya melepaskan diri dari zona nyamannya untuk berpetualang ke Alaska. Menjalani kehidupan bersama alam, pun bertarung melawan kerasnya alam liar. Melupakan masyarakat sosial. Saya tidak akan membahas film tersebut di sini. Saya mencoba mencari contoh saja. Terkadang, kita memang perlu mencoba hal-hal yang tidak biasa kita lakukan. Tidak perlulah seekstrim Christopher McCandless yang membakar uangnya, menggunting semua kartu kredit dan kartu identitas, berkano tanpa lisensi di sungai Colorado yang liar, dan menghabiskan sisa hidup dalam keganasan Alaska. Tapi itulah variasi yang diinginkannya. Ia menikmatinya. Lalu variasi hidup apa yang bisa saya ataupun anda nikmati tanpa berakhir tragis seperti McCandless? Mencoba mereka-reka. Yang pasti, saya tidak akan melakukan rutinitas tanpa ada jeda dimana saya bisa bereksperimen dengan hal-hal baru, hal-hal yang berbeda. Tidak berkutat dengan hal yang sama walau sudah nyaman. Mungkin suatu saat nanti, saya akan berhenti dari pekerjaan di kota, lalu menjadi guru anak-anak pedalaman Asmat di Papua. Mungkin saja. Tapi untuk saat ini, saya bisa melukis wajah Soeharto walau bentuknya abstrak. Atau, memainkan piano walau bunyinya tak karuan. Belajar bahasa Rusia. Menjadi baby sitter sehari. Mengamen di metromini. Mencari jembatan yang menyeberangi jurang, lalu ber-bungee jumping. Mendaki ke puncak Mahameru, lalu mengibarkan bendera merah putih. Ber-paralayang dari Bukit Langkisau menikmati biru laut dari angkasa. Apapun, selagi cara variasi menikmati hidup itu tidak di luar batas agama, norma sosial, adat dan budaya, saya akan coba melakukan. Tidak akan berkutat dengan hal yang sama. Tidak akan itu melulu. Akan selalu ada variasi. Agar hidup ini terasa nikmat. Agar tidak seperti ayam jantan.

ENJOY OUR LIFE, PEOPLE!


Repost dari Kompasiana, 3 November 2009 http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/03/itu-melulu-variasi-donk-biar-nikmat/

No comments:

Post a Comment