Friday, December 31, 2010

Cerita Pagi Ini di "Negeri Para Bedebah"

Pagi ini (4 November 2009, 07:15 wib), lagi saya berangkat ke RSCM via FKUI. Dari kost di salemba tengah, tentunya saya harus berjalan melewati jembatan penyeberangan salemba UI. Sebenarnya ini bukanlah kebiasaan saya sehari-hari sebelum batas jalan di bawahnya dipagari. Hohoho… Seringkali saya bandel menyeberang di tempat yang tidak seharusnya, dengan alasan lebih cepat dan tidak capek naik turun tangga. Ma’aaaaffff…

Ternyata, dengan menyeberang di jembatan ini, tidak hanya kelelahan fisik yang saya dapat. Disana saya melihat semakin banyak saja orang yang meminta-minta. Mulai dari tangga naik, persis di jembatannya, sampai tangga turun. Saya hitung totalnya ada 6 peminta pagi ini. Kelelahan batin juga jadinya melihat keadaan itu. Makin banyak saja. Kapan rakyat jelata di “Negeri Para Bedebah” ini akan sejahtera ya?

Saya ingat-ingat lagi malam ini, dari 6 orang itu, hanya seorang saja perempuan. Orang (saya tidak menyebut pengemis, karena mereka hanya menunggu kedermawanan orang-orang yang lewat untuk memberi sereceh uang) pertama yang saya lihat adalah seorang pemuda lusuh sangat dekil duduk terpakur beralaskan pantat di tangga naik. Lalu 4 orang di jembatan, satu diantaranya lelaki berpakaian rapi menyodorkan amplop-amplop kosong yang katanya infak untuk masjid, dan tiga lainnya mempunyai tampilan hampir mirip dengan orang pertama di tangga naik dengan satu diantaranya perempuan tua. Kemudian satu orang laki-laki di tangga turun. Ohya, ada tambahan satu lagi, orang kedua dari ‘orang amplop’ yang akan mengambil kembali amplop dari pejalan yang lewat di jembatan. Apakah kosong atau berisi yang penting amplop tidak boleh dibawa pulang! Jadi, totalnya ada 7 peminta di jembatan penyeberangan UI pagi ini. Menurut saya, ini total terbanyak yang saya lihat dalam satu jembatan penyeberangan.


Saya tidak akan mempertanyakan kenapa mereka meminta-minta. Saya hanya merasa keadaan sepertinya semakin buruk di negeri ini, di kota ini, kota tempat para penguasa hidup bermewahan, tempat para mahasiswa naik turun mobil untuk kuliah, tempat para koruptor tanpa hati nurani. Saya tidak begitu memperhatikan raut muka mereka peminta tersebut. Mungkin mereka memang tak berdaya lagi untuk menaklukkan kejamnya ibukota. Ah, entahlah, saya tidak mau menilai dan berkata-kata lebih jauh lagi. Saya pun tidak tahu, bagaimana seharusnya bertindak demi naiknya kesejahteraan para gepeng. Hanya bisa prihatin tanpa berbuat apa-apa. Yah, beginilah cerita saya pagi ini. Berharap keadaan di negeri ini semakin baik. Dukung KPK! *lho?*

Ada satu lagi pesan moral pagi ini bagi saya, kalau senyum itu tidak perlu mikir, apa harus senyum atau tidak. Ketika sudah sampai di kampus, ketemu adik kelas jalan berpas-pasan. Saya memang tidak terlalu kenal dan akrab, tapi hanya tahu saja bahwa kita sealmamater. Jadi, begitu ia melihat ke arah saya yang telah duluan melihatnya, ia tampak bingung mau senyum atau tidak pada saya. Padahal saya sudah kasih senyum lho. Hahaha… Senyum saya tak berbalas. Lagian, mau senyum aja kok mikir??? Yuk, ngguyuuuu… :)


*repost dari: www.kompasiana.com/classic 5 November 2009

3 comments:

  1. Bu Dokter yang merangkap jurnalis, tulisannya bagus dan berpesan... top

    ReplyDelete
  2. To mas Sis & anonymous: Makasiii.. :)

    ReplyDelete