Saturday, November 20, 2010

Unpredictable Onrop

Life is unpredictable! Tak segalanya yang direncanakan terjadi sedemikian rupa. Tak segalanya yang terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan. Apa yang telah terjadi kadang merupakan hal-hal yang tak kita duga sebelumnya. Hidup itu tak menentu, tentu saja! Hidup itu aneh? Bisa jadi! Well, whatever, that’s a life! 

Hari Jumat tanggal 19 bulan 11 tahun 2010, mungkin adalah hari yang aneh bagi saya dan seorang teman, Cyndi. Sepertinya apa yang terjadi seharian itu adalah hasil dari menuruti intuisi. Kami berencana ini anu, tapi kami sama sekali nggak tahu apakah rencana itu akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hari yang aneh tersebut bermula dari sekedar wacana ‘pengen nonton’!

Di kampus, saya dan Cyndi sudah kepengen nonton film. Film apa? Hmm... yang baru dan bagus tentunya! Oh, Harry Potter! Ya, ya, ya.. akhirnya kami memang sepakat akan nonton Harry Potter. Dimana? Dekat kampus aja! Metropole atau TIM? Dari kampus, sudah memutuskan nonton di Metropole, berhubung saya sudah cukup bosan nonton di TIM. Jadi, dari kampus, kami merencanakan nonton Harry Potter di Metropole. Tetapi, di tengah perjalanan  menuju Metropole, saya periksa lagi situs 21 Cineplex, lalu mengetahui kalau di Metropole hanya tersedia dua studio yang memutar Harry Potter, sedangkan di TIM memanfaatkan tiga studionya untuk Harry Potter. Maka, berubahlah rencana semula, karena takut kehabisan tiket nonton di Metropole yang cuma sedia dua studio padahal hari itu adalah premier tayang Harry Potter. Then, here we go... TIM!


Belum juga masuk area TIM, masih di depan gerbangnya, saya teringat tentang Onrop Musikal karya Joko Anwar. Kebetulan, terpampang spanduk besar Onrop di depan gerbang TIM itu. Karena sejak lama mendengar info Onrop dan memang ingin nonton, saya mencetuskan usul buat nonton Onrop. Gayung bersambut, Cyndi setuju. Rencana mulai melenceng. Lagi. Setelah parkir, kami pun segera cari poster Onrop dan petunjuk untuk mendapatkan tiket. Ternyata, buat hari itu, Onrop dimulai jam 8 malam, dan ticket box dibuka jam 5 sore. Sedangkan saat itu, masih jam 2 siang. Well, kami sangat excited kepengen nonton Onrop. Akhirnya, kami berniat dan berencana akan menonton Onrop malam itu juga, walaupun harus menunggu beberapa jam. 

Selesai makan di salah satu ‘kape’ di TIM, kami mengademkan diri dalam bioskop. Duduk-duduk di sana menanti waktu berjalan detik demi detik. Bahkan waktu pun seperti merayap, terasa lama sekali. Bosan. Lalu, kami keluar, ingin melihat-lihat kampus IKJ yang ada di belakang bioskop. Baru saja berjalan depan bioskop, ada yang longgar terasa di kaki kiri saya. Oh no, sol sepatu saya copot! Makin dipakai jalan, makin menganga sepatu itu. Saya pun berusaha cari toko yang setidaknya jual sendal jepit. Di seputaran kampus IKJ, saya tak menemukannya. Untunglah saya terus mencari sampai ke area depan TIM, dan ketemu toko suvenir dan kerajinan tangan, sangat berharap di sana jual sendal. Alhamdulillah, sendal etnik yang simpel akhirnya jadi milik saya, langsung ‘diperawanin’ saat itu juga. Benar-benar nggak terduga insiden sepatu ini! Padahal ‘kan mau nonton teater Onrop... hehehe... Kecapaian jalan muter-muter kompleks TIM, kami pun kembali ke dalam bioskop. Biasa deh, numpang ngadem! Hahaha... Untung nggak diusir security-nya, bolak-balik ke bioskop. Lagi, kami menunggu waktu menunjukkan jam 5, masih satu jam lebih. Udah nggak tahu mau ngapain lagi, jadi terpaksa bersabar, demi ONROP. Oh ya, yang nggak saya duga adalah Cyndi ternyata bisa membaca terbalik kata ‘onrop’ itu. Waktu pertama kali ke tempat ticket box, Cyndi berujar ‘PORNO’. Oh I see, jadi ONROP itu... Walaupun sering saya baca tweets tentang Onrop, saya sama sekali nggak kepikiran tentang kata apakah ‘onrop’ itu. Tahu demikian, tambah semangatlah saya kepengen nonton Onrop. Masa, suka nulis cerita ‘selangkangan’ nggak nonton Onrop. Makanya rela nunggu lama nih, hehehe...
Nggak mau nunggu lebih lama lagi, akhirnya pukul 4.25, saya dan Cyndi sepakat langsung nunggu di ticket box. Di depan teater besar TIM itu, telah ada sebaris orang yang antri di depan loket. Cukup kaget, nggak nyangka bakal ada yang antri beberapa menit sebelum ticket box dibuka. Mulailah kami khawatir kehabisan tiket. Tak lama sebelum ticket box benar-benar dibuka, seorang panitia mengumumkan bahwa tiket tinggal Gold. Saya dan Cyndi patah hati.

Kami sepakat untuk beli tiket yang paling murah Bronze. Kalau memang nggak ada, kami masih mau beli tiket Silver. Kalau sudah Gold, kami nyerah. Lain kali saja kalau begitu, hingga kami berharap tiket Bronze atau Silver untuk hari Minggu masih ada. Masih dalam antrian, kami dag dig dug. Tak menyangka, penantian kami sia-sia. Ingin sekali nonton malam itu, tapi apa daya tiketnya tinggal Gold.  Setelah berunding kecil-kecilan, saya dan Cyndi memutuskan untuk keluar dari antrian, walaupun dengan muka tebal. Malu! Huhuhu... Langsung ngacir menjauh dari antrian. 

Jadi, kami berunding lagi. Menurut saya, sebaiknya kami tetap menunggu di sana. Kemungkinan tiket Gold yang bersisa tidak akan sold-out  malam itu. Kemungkinan tiket Gold yang tak terjual akan diobral. Kalaupun tak dapat tiket untuk malam itu, masih ada kemungkinan kami beli tiket Bronze atau Silver untuk hari Minggu. Kesimpulannya, senja itu kami masih mau menunggu sampai pukul 8, waktu pertunjukan dimulai. Alhasil, kami khawatir rencana-rencana tak ada yang direalisasi satu pun!

Menunggu di cafe XXI, saya dan Cyndi ngalor-ngidul dulu sembari menunggu. Kebetulan tanpa direncana, saya diajak seorang teman @cerfet di twitter buat kopdar di TIM. Wow, kebetulan sekali! Waktunya pun samaan dengan waktu saya menunggu pukul 8. Selain cerfeters, juga banyak fiksiminiers yang datang kopdar. Di sanalah saya bertemu teman-teman yang selama ini saya hanya bisa melihat rangkaian kata-kata ajaib mereka di timeline twitter saya.

Nah, kemudian saya dengar info ‘get 1 free 1 for students’ dari salah seorang teman kopdar, saya dan Cyndi kembali bersemangat ngedapetin tiket Onrop. Langsung saja kami kembali ke ticket box, ketemu si kasir, bilang mau tiket Onrop Bronze. Ia menjawab, tinggal Gold. Kami bertanya, harga promo buat mahasiswa masih ada? Jawaban mengecewakan yang kami dapat, sudah nggak ada. Saya dan Cyndi sudah nyerah tapi masih menyimpan secuil harapan kemungkinan tiket Gold Onrop dijual murah. Jadi, kami tetap menunggu jelang detik-detik pertunjukan dimulai. Kami kembali ke cafe XXI, tempat para fiksiminiers dan cerfeters berkumpul. Ternyata, ada berkahnya menunggu, selain silaturahim, saya juga menjual si ‘Lajang Jalang’ yang sengaja saya bawa berlebih kalau-kalau ada teman di kampus yang mau beli. Tiga ‘Lajang Jalang’ terjual! Hehehe...

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba, saya dan Cyndi kembali ke lokasi Teater Besar. Berharap di depan loket tiket, terpampang pengumuman tiket Gold diobral! Bener-bener ngarep deh! Hehehe... Eh, nggak tahunya, malah seorang bapak menawarkan dua tiket pada kami, tetapi pertunjukan hari sabtu, itu pun Gold. Yah, kami sudah nyadar saja kalau dia calo tiket. Sama sekali nggak kepikiran bakal beli tiket lewat calo, lho. Tapi, kami tetap melanjutkan tanya tiket ke Bapak itu. Dia terus menawarkan tiket Gold buat hari Sabtu, tapi kami ngotot maunya nonton malam itu. Dan, tak diduga ternyata dia menawarkan dua tiket Gold pada kami!!! Yah... mahaaal!!! Eh, malah Bapaknya nawarin harga nego! Kita sempat bingung mau nawar tiket Gold berapa. Tadinya si Bapak itu nego harga di atas harga tiket Silver tapi tetap lebih murah dari harga asli tiket Gold. Kita masih belum mampu, akhirnya Bapak itu pasrah menjual tiket Gold seharga tiket Silver. Yaiy! Deal! Tak lupa nanya mbak yang di ticket box tentang keaslian tiket Gold di tangan kami, dan ya, it’s original Gold tickets Onrop! Dengan hati riang, kami pun masuk ke dalam teater besar TIM. Yihaa... Onrop, here we come!

Puas menonton Onrop, kami pulang dengan perasaan lega sekaligus merasakan keanehan-keanehan yang terjadi seharian kami menunggu. Apa yang terjadi, semuanya benar-benar di luar rencana. Kami boleh berusaha ini itu, berdoa sungguh-sungguh, hasilnya tetap keputusan mutlak Tuhan. Walaupun proses yang kami jalani benar-benar diluar ekspektasi, tapi tujuan itu tetap kami dapatkan. Ya, hidup itu penuh kejutan, kadang muncul hal-hal yang tak diduga, walau demikian, tetap hidup itu tetap indah adanya. Apalah nikmatnya hidup kalau datar-datar saja, teratur terencana tanpa benturan-benturan yang membuat kita menyadari ada tangan ajaib yang menjadikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Well, hari Jumat tanggal 19 bulan 11 tahun 2010, adalah hari yang melelahkan, aneh, sekaligus menyenangkan bagi saya dan Cyndi, dan itu semua gara-gara PORNO!!! Eh... ONROP! Hehehe...

Onrop ends...


PS: Kami mahasiswi coass bertekad, kelak saat Onrop menggelar lagi pertunjukkan di tahun 2012, kami sudah lulus dan jadi dokter gigi. Jadi, kami tak perlu repot-repot lagi membeli tiket Gold. Hehehe...

PSS: Review Onrop akan saya tulis nanti. Segera menyusul.

No comments:

Post a Comment