Friday, November 26, 2010

Tak Berencana

Sebuah gubuk di pinggir rel kereta api penghubung pulau Jawa. Sebuah gubuk di antara sesak hunian di belantara kota Jakarta. Sebuah gubuk yang dipenuhi sesak anak-anak tidur tindih-menindih. Sebuah gubuk dengan satu ranjang reyot berdecit-decit karena lenguh desah Adun dan Inah.

Langit masih suram. Semburat fajar di ufuk timur memang sudah tampak. Terlalu pagi bagi sebagian orang untuk bangun dari kasur. Tapi sudah waktunya mencari makan bagi Adun. Ada enam perut yang harus dibuat kenyang hari ini. Dirinya, Inah si istri, dan empat anaknya yang masih kecil. Kecil pun tetap harus disuruh bekerja.

Adun yang masih berusia kepala tiga akan membangunkan Jalu si sulung. Mereka akan berangkat ke stasiun kereta terdekat. Tak lupa ia membawa kotak asongan berisi berbagai minuman ringan dan rokok. Sedangkan Jalu dengan kotak semir sepatunya. Lima tahun sudah ia tak lagi ke sekolah. Hanya setahun mengecap bangku SD. Jalu harus membantu keluarga, begitu Adun bertitah pada anak tertuanya. Berdua mereka bertanggungjawab mencari sesuap nasi. Tak perlu mandi untuk itu, cukup lepaskan hajat di kali terdekat. Mereka siap menantang penat.


Inah telah selesai pula melaksanakan tugas sepagi itu. Menyajikan minuman teh ke dalam segelas cangkir besar. Menyeduhnya dari bekas kantong teh hari kemarin. Hanya menambah dua sendok teh biar sedikit manis. Air panas yang ia jarang dari panci berpantat hangus. Tak ada gas elpiji pembagian pemerintah. Api ia dapat dari sampah-sampah yang ia bakar dengan sebatang korek. Apa pun caranya, teh tetap bisa disajikan buat suami dan anak-anaknya. Berbagi di satu cangkir besar. Tak lupa ia beli gorengan gopek dari Mak Ati yang tinggal di gubuk sebelah. Lima ribu rupiah sisa uang yang dijatahkan Adun. Sepuluh biji cukup menyumpal perut-perut. Ia dan Teni si bungsu sudah kenyang dengan satu gorengan saja. Yang lain boleh dapat dua.

Alit dan Ayit, dua bocah lelaki yang sering menggaduh dalam gubuk akhirnya disuruh pergi juga oleh Inah. Umur mereka sudah 8 dan 7 tahun. Tapi mereka bukan hendak pergi ke sekolah. Matahari sudah menyinari sepenuh langit. Jadi, saatnya mereka berjalan kaki ke terminal, lalu mulai bergelayut di pintu angkutan umum. Menyanyikan nada-nada sumbang diiringin gemerincing tutup botol limun. Selalu berdua. Mereka tak boleh pisah, pinta Inah. Biar mereka tetap selamat berdua sampai kembali ke pelukan Inah.

Waktu terus bergulir. Kelam kembali tampak di ufuk timur. Inah dan Teni seharian menjelajah tempat pembuangan akhir, memulung apa pun yang bisa dijual kembali. Mereka yang terakhir meninggalkan gubuk, tapi yang pertama tiba di gubuk. Siap menyambut Adun, Jalu, Alit dan Ayit yang semoga mengantongi uang. Mereka semua harus segera makan malam. Siang hari hanya makan seadanya dari penjaja makanan murahan, sesuai dengan jumlah angka yang didapat sampai tengah hari itu.

“Mak, bibir Alit luka.” Ayit merengek pada Inah seketika sampai di gubuk derita mereka. Inah panik.

“Kamu kenapa, nak?” Inah menyambut Alit dengan khawatir. Darah di sudut bibir sudah kering. Alit enggan bicara. Tampak mata merah dan paras geram di wajah Alit.

“Alit tadi dipukul preman di terminal. Gara-gara Alit nggak mau ngasih duit hasil ngamen kami, mak. Padahal Ayit udah bilang jangan ngelawan. Alitnya bandel, mak.”

“Itu duit kita, Yit. Mana mau gue kasih preman itu yang cuma ongkang-ongkang kaki! Enak aja malak gue!”

“Kalau mau aman, ya lo musti kasih, Lit! Dia nggak minta semua, kok!” Ayit tak kalah berargumen.

“Sudah…sudah…” sergah Inah. “T'rus, sekarang berapa sisa uang kalian?”

Alit dan Ayit diam. Tak ada uang dibawa pulang. Mereka terima tak dapat jatah makan nanti malam. Apalagi kalau Adun dan Jalu hanya membawa uang seadanya.

“Nggak ada uang?” tanya Inah memastikan. Alit dan Ayit menggeleng. “Besok kalian nggak usah ngamen. Ikut Mak aja mulung! Ya sudah tunggu sini, Mak ambilkan air.” Inah pun berpaling dari Alit dan Ayit.

Dalam hati, ada sesal yang Inah rasa. Bukan seperti ini yang ia impikan. Tapi semua telah berjalan tanpa berencana. Tak seharusnya Inah tega pada anak-anaknya, memeras peluh anaknya sendiri. Sesungguhnya Inah tak ingin anak-anaknya perlu banting tulang. Setidaknya ia ingin anak-anaknya cukup makan dari jerih parahnya sendiri. Tapi, apa daya, empat perut yang dikasihi itu harus bekerja dulu sebelum bisa makan.

Sebentar lagi suaminya dan Jalu pulang. Inah berharap mereka bisa memanen uang sedikit berlebih. Biar tak ada yang kelaparan malam ini. Biar Teni pun bisa dibelikan sekotak susu ultra cair siap minum.

Di kejauhan sepanjang rel kereta berkarat, sosok Adun dan Jalu berjalan lambat. Kotak yang Adun sandang di depan sudah tak banyak isinya. Mungkin dagangannya laku. Mereka tampak bercengkrama sambil melempar senyum. Terlihat wajah mereka disinari lampu-lampu temaram. Melihat itu, Inah sudah bisa sedikit senang. Ah, entah apa pembicaraan ayah dan anak itu, batin Inah.

“Bapaaak,” panggil suara kecil Teni yang digendong Inah. Adun segera mencium pipi mulus Teni. Tubuh kurus tinggi dengan kulit legam terbakar matahari yang tetap dinanti Inah, perempuan berkulit coklat yang jelas tak terawat, dengan paras kemayu yang memudar, dan tubuh yang menggembrot walau tak banyak makan. Pasangan nikah muda yang siap hidup bersama sampai akhir hayat dalam keadaan apa pun. Hanya saja mereka tak berencana.

“Anak-anak, udah pada lapar semua ya?” celoteh pertama Adun malam itu, kemudian ia duduk bersandar di sisi ranjang. Ia melepas kotak asongannya, mengeluarkan kantong permen yang berisi uang. “Hari ini, Bapak dapat lumayan. Jalu juga ya, Lu?” berkata sambil melirik Jalu. “Alit sama Ayit gimana?” tanya Adun. Tak ada jawaban.

“Dipalak preman, Pak.” Inah yang menjawab. Adun prihatin. Ada marah, ada kecewa, juga sesal. Tak begini yang ia impikan ketika melamar Inah dulu. Tapi semua memang telah berjalan tanpa berencana.

“Mak juga dapat sedikit uang, Pak. Ada di saku celananya Teni, nih. Lumayan, dua belas rebu,” kata Inah sumringah.

“Wah, kalau gitu, kita semua bisa makan sebungkus warteg malam ini. Kalau dihitung-hitung uangnya masih bisa bersisa buat beli nasi uduk besok pagi.” Jelas Adun tampak senang, tak ada yang kelaparan malam ini, dan untuk besok pun berencana ada makan pagi. Inah lega, tidur nanti bisa tenang pikiran. Siapa tahu ia bisa terpuaskan malam ini bila Adun minta jatah lagi. Eh, tapi ia jadi ingat mual-mual tadi pagi. Sudah dua bulan tak ada yang menyambangi. Terlambat! Ah, begini kalau berencana suntik KB di posyandu keliling tak dijalani.

“Pak, aku hamil lagi,” kata Inah sendu mengakhiri malam.

sumber gambar: http://www.drdidispog.com/2008/08/natural-family-planning.html

PS: Cerpen ini ditulis untuk tema SPASI bulan Oktober 'Keluarga Berencana'. Lihat http://kumpulanspasi.wordpress.com

PPS: Dan, dimuat juga di rubrik Oase Kompas.com 7 Desember 2010 http://oase.kompas.com/read/2010/12/07/00523521/Tak.Berencana

No comments:

Post a Comment