Thursday, November 4, 2010

Langkah Pertama

dijual!
Langkah pertama. Biasanya masih suka jatuh pada bayi yang mulai menatah. Begitu juga saya yang baru pertama kali melangkahkan kaki di dunia penerbitan buku. Apalagi urusannya sudah self-publishing begini. Semuanya saya yang kerjakan. Pihak luar yang membantu mencetak tampaknya tak bisa sepenuhnya membantu saya memasarkan buku pertama ini, si Lajang Jalang. Yah, siapa saya jika harus diprioritaskan?! Banyak penulis lainnya sampai 100 lebih yang harus ditangani oleh tim Nulisbuku.com sebagai media penerbitan buku saya. Totally, dari segi ide dan format buku, desain sampul, penentuan harga buku, sampai menjualnya, adalah kerjaan saya. Ketika pertama melangkah itulah saya mulai merasa sedikit down. Ah, apa bisa ya? Apa bisa saya melakukan semuanya itu sendirian?

Ide dan format isi buku serta desain sampul adalah hal pertama yang ternyata bisa saya selesaikan dengan baik. Saya cukup puas dengan hasilnya. Secara keseluruhan produk yang saya ciptakan dari pemikiran saya sendiri tersebut telah berhasil menjadi sesuatu yang bisa saya banggakan untuk saat ini, dan mungkin di kemudian hari. Untuk karya pertama yang dirancang sendiri tentu menjadi kepuasan bagi saya walau mungkin tak bisa memuaskan selera banyak orang. Maka tak pantaslah saya berkeluh kesah mengenai isi buku dan desain sampul.

Lalu si karya diproduksi. Penentuan harga pun harus dipertimbangkan dengan baik. Tadinya saya tentukan harga buku saya 33.000 rupiah. Setelah dikurangi ongkos produksi, kira-kira bersisa 13.000 rupiah yang nanti dibagi 60% sebagai royalti untuk saya dan 40% untuk nulisbuku.com. Tapi, kemudian saya ganti harga, saya naikkan jadi 35.000 rupiah supaya bulat dan royalti sedikit meningkat. Alasannya tak sekedar ingin membulatkan. Dengan menaikkan harga, saya juga ingin menghargai "keringat" saya. Ingat ya! Ini self-publishing. Saya tak sekedar butuh royalti karena karya saya dijual. Tapi, saya juga mengeluarkan waktu dan tenaga lebih untuk memasarkan buku ini hingga sampai ke tangan pembeli/pembaca. Namun, ketika seorang calon pembeli berharap minta diskon (apalagi gratis?!), potongan harga mana lagi yang harus saya berikan? Saya tahu, buku dengan jumlah keseluruhan 94 halaman ini lebih pantas dijual 25.000 rupiah, paling mahal juga 30.000 rupiah. Kadang saya jadi sedikit putus asa kalau sudah begini; oh ya sudahlah, siapa saja yang mau beli nanti juga bakal beli... --> "down stase 1"


Saya ceritakan juga kendala yang mendukung down stase 1 di atas, yaitu ongkos produksi yang bisa lebih besar ketimbang share yang didapat penulis dan tim nulisbuku.com. Kami tidak memproduksi massal sehingga ongkos produksi bisa ditekan serendah mungkin. Kami mencetak buku sesuai jumlah pemesanan, dikenal juga dengan sistem Print on Demand (PoD) dengan cetak digital. Jadi, bisa dimengerti kan kenapa harga buku self-publishing lebih mahal daripada buku kebanyakan yang ada di toko-toko buku? Nah, karena PoD ini, tentu saja harus ada yang pesan dulu supaya naskah dicetak. Naaah, supaya ada yang pesan, itu derita penulis?!! Hahaha... 

Setelah naskah yang saya kirim ke nulisbuku.com layak cetak, saya pun berjibaku bagaimana mempromosikan karya saya. Mulailah saya ber-"silat-kata" di dunia maya. Mulai dari social media Kompasiana, Twitter dan Facebook saya jelajahi. Dari sanalah saya mengundang peminat-peminat calon pembeli. Ya, syukur-syukur ada yang pesan dan cepat-cepat transfer nominal uang ke rekening saya, maka saya pun bisa segera pesan cetak ke nulisbuku. Karena nulisbuku tidak akan mencetak buku sebelum uang ditransfer ke rekening mereka. Nah, kalau belum ada calon pembeli? Ya, tunggu saja sampai laku sendiri! Saya pribadi langsung pesan ke nulisbuku pakai uang tabungan saya. Saya mengira jumlah orang yang sudah memesan walau belum transfer uang ke saya. Dengan demikian saya meminimalisir waktu tunggu calon pembeli. Jika buku sudah di tangan saya, maka saya bisa langsung kirim via pos atau langsung ketemu orangnya bila memungkinkan. Saya usahakan cara seperti ini karena saya tahu banget bagaimana rasanya menunggu pemesanan buku yang belum sampai juga di tangan kita. Butuh lebih kurang 1 minggu dari waktu transfer sudah dikonfirmasi pihak nulisbuku sampai buku tersebut tiba di rumah saya. Bayangkan bila ada calon pembeli yang komplain kelamaan karena ini??? --> "down stase 2"

Di sini saya mencoba untuk sedia modal buat produksi buku, karena tidak semua yang pesan yang sudah transfer uang. Nah, kalau buku sudah di tangan, ya saya harus bisa menjualnya pada calon pembeli yang sudah pesan ke saya. Harus bersiap-siap juga bila ada yang membatalkan pemesanan. Bagaimana pun buku tersebut harus ada yang beli. Nggak mau rugi, 'kan?! Hehehe...

Oops, walaupun sudah terjual, tetap bisa rugi lho! Hati-hati menentukan biaya ongkos kirim bila menggunakan jasa pengiriman barang! Kita bisa cek lewat situs online jasa manapun itu, apakah pos indonesia ataupun tiki dkk. Saya pun berusaha untuk sedikit tegaan bilang biaya ongkos kirim pada calon pembeli saya. Bayangkan ya! Harga buku 35.000 rupiah, untuk pengiriman 1 buku itu ke wilayah jabodetabek saja kena biaya kirim 6.500 rupiah. Jumlahkan saja berapa yang harus ditransfer pembeli buku saya! Bisa lebih 40.000 rupiah untuk 1 buku saja yang cuma 94 halaman itu!!! Pasti pada mikir banget kan kalau mau beli buku saya? Tapi, daripada saya kehilangan  pembeli, ya diskon dikit lah ongkos kirim, bisa tambal sulam dengan royalti buku. Ingat juga lho sama harga amplop buat mengirimnya!!! Hahaha... derita deh! --> kemungkinan "down stase 3"

Bagaimana pun, ini masih langkah pertama, dan wajar bila kita masih sering jatuh. Ada kalanya saya merasa letih sendiri dengan apa yang saya impikan. Tapi, hei... mana ada yang mudah mewujudkan impian?!! Sebelum bisa berjalan seorang bayi merasakan jatuh berkali-kali, hingga kemudian dari berjalan ia bisa berlari. Bukankah begitu indahnya proses itu?! Saya tetap senang menjalani semua ini. Toh, saya ini memang masih penulis "bayi". Belum dikenal oleh siapa-siapa! Ini hanya pembuka jalan untuk tetap menjejakkan langkah di jalur kepenulisan. Teman saya ada yang nyeletuk, "Minta tandatangan donk sebelum terkenal!". Ah, ada-ada saja! Terkenal itu bonus dari apa yang sebenarnya diimpikan, ketika karya kita dibaca banyak orang dan mereka terpuaskan, ketika karya kita benar-benar diapresiasi.

Tetap semangat, calon penulis besar!

7 comments:

  1. suka deh sama semangat kamu vir :D
    ayo ayo.. beli bukunya veecla

    ReplyDelete
  2. Kelak perjuangan Vira ini akan menunjukkan buahnya. Tulisan Vira kuat, berkarakter. Mungkin ke depan, Vira bisa duduk di deretan penulis Indonesia ke depan meski perjuangan untuk itu memang terasa berat

    ReplyDelete
  3. kang hadi: makasi..memang hrs semangat! ayo beli jg kang hadiii... :))

    kak zul: makasi..amiin, mdh2an aja bisa. stdknya saya sudah mulai mencoba. :)

    ReplyDelete
  4. belum sempet buacaaaa.... Nunggu ditandatangan langsung sm penulisnya :D

    ReplyDelete
  5. Mbak Briii... hahaha...sori ya takut bgt mau buka plastiknya.. nanti ya.. mau donk kritik saran! okay?! ;)

    ReplyDelete
  6. hmmm. jika Anda mengaku sebagai orang padang, jangan pernah menyerah terhadap nasip, tundukkan nasip itu hingga mau bersimpuh di hadapanmu, INGAT!! tidak ada orang yang mengaku sebagai orang PADANG merantau dengan MEMBAWA MODAL, camkan itu ADIKU.....!!!! yakin kamu bisa, dan jika suatu saat nanti jika mo menulis lagi nanti saya bantu dengan pendisainan COVER nya..., (GRATIS....)

    salam
    si"lidahmalakat"
    pensiunan

    ReplyDelete
  7. @abuhabib: waduh, dicamkan bener2 deh, da! hehehe.. asiik, mdh2an msh bisa terus produktif nulis. :D

    ReplyDelete