Friday, November 26, 2010

Tak Berencana

Sebuah gubuk di pinggir rel kereta api penghubung pulau Jawa. Sebuah gubuk di antara sesak hunian di belantara kota Jakarta. Sebuah gubuk yang dipenuhi sesak anak-anak tidur tindih-menindih. Sebuah gubuk dengan satu ranjang reyot berdecit-decit karena lenguh desah Adun dan Inah.

Langit masih suram. Semburat fajar di ufuk timur memang sudah tampak. Terlalu pagi bagi sebagian orang untuk bangun dari kasur. Tapi sudah waktunya mencari makan bagi Adun. Ada enam perut yang harus dibuat kenyang hari ini. Dirinya, Inah si istri, dan empat anaknya yang masih kecil. Kecil pun tetap harus disuruh bekerja.

Adun yang masih berusia kepala tiga akan membangunkan Jalu si sulung. Mereka akan berangkat ke stasiun kereta terdekat. Tak lupa ia membawa kotak asongan berisi berbagai minuman ringan dan rokok. Sedangkan Jalu dengan kotak semir sepatunya. Lima tahun sudah ia tak lagi ke sekolah. Hanya setahun mengecap bangku SD. Jalu harus membantu keluarga, begitu Adun bertitah pada anak tertuanya. Berdua mereka bertanggungjawab mencari sesuap nasi. Tak perlu mandi untuk itu, cukup lepaskan hajat di kali terdekat. Mereka siap menantang penat.

Sunday, November 21, 2010

Standing Ovation for "ONROP! Musikal"

Apresiasi luar biasa dari saya untuk Joko Anwar, maestro film Indonesia yang namanya cukup mendunia karena karya-karyanya yang hebat. Salah satunya Pintu Terlarang masuk dalam daftar film-film terbaik dunia oleh The British Institute. Dan di tahun 2010, dengan benih sebuah ide yang tercetus dari berbagai peristiwa di Indonesia, Joko Anwar melahirkan teater musikal ONROP!

Ini pertama kalinya saya nonton teater musikal, dan tampaknya ONROP! menjadi kesuksesan pertama di Indonesia yang menggelar teater musikal seperti Teater Broadway-nya Amerika. Saya bahkan tidak tahu seperti apa sesungguhnya Broadway, tapi mungkin saya bisa merujuk pertunjukkan Moulin Rouge, sebuah pentas drama musikal yang terkenal. Okay, saya tidak akan mencoba mengritisi teater musikal ONROP! sebegitu dalam. Saya memang tidak mengerti apa-apa tentang teater. Sebelumnya saya pernah beberapa kali nonton teater, tapi saya hanya jadi penikmat. Maka di tulisan ini, saya cukup sedikit menggambarkan apa itu ONROP! dan kenapa banyak orang yang mengacungkan jempol untuk karya Joko Anwar ini.

Pertunjukkan ini bernama resmi “ONROP! Musikal”, bisa saya lihat dari tiket dan booklet yang dibagikan sebelum pertunjukkan. Digelar di teater besar Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki dengan harga tiket yang tidak murah, ONROP! menjadi hiburan yang cukup ekslusif. Tapi, hampir semua segmen berminat menonton teater ini, tidak hanya orang-orang pecinta seni teater. Mungkin, karena promosi yang gencar lewat media sosial seperti twitter. Maka, tak salah ONROP! Musikal menjadi populer.

Saturday, November 20, 2010

Unpredictable Onrop

Life is unpredictable! Tak segalanya yang direncanakan terjadi sedemikian rupa. Tak segalanya yang terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan. Apa yang telah terjadi kadang merupakan hal-hal yang tak kita duga sebelumnya. Hidup itu tak menentu, tentu saja! Hidup itu aneh? Bisa jadi! Well, whatever, that’s a life! 

Hari Jumat tanggal 19 bulan 11 tahun 2010, mungkin adalah hari yang aneh bagi saya dan seorang teman, Cyndi. Sepertinya apa yang terjadi seharian itu adalah hasil dari menuruti intuisi. Kami berencana ini anu, tapi kami sama sekali nggak tahu apakah rencana itu akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hari yang aneh tersebut bermula dari sekedar wacana ‘pengen nonton’!

Di kampus, saya dan Cyndi sudah kepengen nonton film. Film apa? Hmm... yang baru dan bagus tentunya! Oh, Harry Potter! Ya, ya, ya.. akhirnya kami memang sepakat akan nonton Harry Potter. Dimana? Dekat kampus aja! Metropole atau TIM? Dari kampus, sudah memutuskan nonton di Metropole, berhubung saya sudah cukup bosan nonton di TIM. Jadi, dari kampus, kami merencanakan nonton Harry Potter di Metropole. Tetapi, di tengah perjalanan  menuju Metropole, saya periksa lagi situs 21 Cineplex, lalu mengetahui kalau di Metropole hanya tersedia dua studio yang memutar Harry Potter, sedangkan di TIM memanfaatkan tiga studionya untuk Harry Potter. Maka, berubahlah rencana semula, karena takut kehabisan tiket nonton di Metropole yang cuma sedia dua studio padahal hari itu adalah premier tayang Harry Potter. Then, here we go... TIM!

Thursday, November 4, 2010

Langkah Pertama

dijual!
Langkah pertama. Biasanya masih suka jatuh pada bayi yang mulai menatah. Begitu juga saya yang baru pertama kali melangkahkan kaki di dunia penerbitan buku. Apalagi urusannya sudah self-publishing begini. Semuanya saya yang kerjakan. Pihak luar yang membantu mencetak tampaknya tak bisa sepenuhnya membantu saya memasarkan buku pertama ini, si Lajang Jalang. Yah, siapa saya jika harus diprioritaskan?! Banyak penulis lainnya sampai 100 lebih yang harus ditangani oleh tim Nulisbuku.com sebagai media penerbitan buku saya. Totally, dari segi ide dan format buku, desain sampul, penentuan harga buku, sampai menjualnya, adalah kerjaan saya. Ketika pertama melangkah itulah saya mulai merasa sedikit down. Ah, apa bisa ya? Apa bisa saya melakukan semuanya itu sendirian?

Ide dan format isi buku serta desain sampul adalah hal pertama yang ternyata bisa saya selesaikan dengan baik. Saya cukup puas dengan hasilnya. Secara keseluruhan produk yang saya ciptakan dari pemikiran saya sendiri tersebut telah berhasil menjadi sesuatu yang bisa saya banggakan untuk saat ini, dan mungkin di kemudian hari. Untuk karya pertama yang dirancang sendiri tentu menjadi kepuasan bagi saya walau mungkin tak bisa memuaskan selera banyak orang. Maka tak pantaslah saya berkeluh kesah mengenai isi buku dan desain sampul.

Lalu si karya diproduksi. Penentuan harga pun harus dipertimbangkan dengan baik. Tadinya saya tentukan harga buku saya 33.000 rupiah. Setelah dikurangi ongkos produksi, kira-kira bersisa 13.000 rupiah yang nanti dibagi 60% sebagai royalti untuk saya dan 40% untuk nulisbuku.com. Tapi, kemudian saya ganti harga, saya naikkan jadi 35.000 rupiah supaya bulat dan royalti sedikit meningkat. Alasannya tak sekedar ingin membulatkan. Dengan menaikkan harga, saya juga ingin menghargai "keringat" saya. Ingat ya! Ini self-publishing. Saya tak sekedar butuh royalti karena karya saya dijual. Tapi, saya juga mengeluarkan waktu dan tenaga lebih untuk memasarkan buku ini hingga sampai ke tangan pembeli/pembaca. Namun, ketika seorang calon pembeli berharap minta diskon (apalagi gratis?!), potongan harga mana lagi yang harus saya berikan? Saya tahu, buku dengan jumlah keseluruhan 94 halaman ini lebih pantas dijual 25.000 rupiah, paling mahal juga 30.000 rupiah. Kadang saya jadi sedikit putus asa kalau sudah begini; oh ya sudahlah, siapa saja yang mau beli nanti juga bakal beli... --> "down stase 1"

Wednesday, November 3, 2010

Lajang Jalang Dijual

Sampul depan Lajang Jalang

Kumpulan Cerita Pendek dan Sangat Pendek:
14 Kisah LAJANG JALANG
oleh Vira Cla
(94 halaman)


Buku ini berisi cerita-cerita tentang cinta, patah hati, seks, sampai kegilaan. Sekumpulan derita dari ‘lajang’ dan ‘jalang’. Petikan pesan yang mengentak dari tiap kisah.

Diawali dengan kisah seorang ‘cer-Penis’ di Negeri Sastra, menceritakan tentang cintanya pada sastra. Cinta yang diwujudkan dengan menulis cerita-cerita yang katanya tentang seonggok daging di belahan paha. Kemudian, lahirlah kisah berjudul ‘Labia’. Bibir itu menawan, bukan? Atau, menggoda?

“Bulat, pejal, menggemaskan.” Kutipan dari kisah ‘Puting’.