Monday, October 25, 2010

"Hurt people hurt people."

Kutipan yang saya ambil dari sebuah dialog dalam film 'Greenberg'. Tokoh utamanya adalah si Mr. Greenberg yang diperankan oleh Ben Stiller. Film ini alurnya datar, bisa dibilang cukup membosankan. Saya sendiri tak terlalu paham konflik ceritanya. Mungkin hanya konflik batin Greenberg yang pernah kecanduan narkoba, menghilang dari teman-teman mudanya, lalu sempat diinapkan di rumah sakit jiwa. Tapi, kemudian, ia kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan teman-teman yang ia tinggalkan dulu. Greenberg yang akhirnya berkata "Hurt people hurt people." Orang-orang yang tersakiti pun menyakiti orang lain.


Jadi, inilah yang ingin saya kisahkan, tentang orang-orang yang demikian. "Hurt people hurt people." Sekilas bisa saja frase ini diartikan secara Indonesia sebagai "double hurt people". Dua orang tersakiti. Atau dua orang menyakiti? Entahlah! Mungkin begini maksudnya, misal; ada perempuan yang pernah tersakiti oleh kekasihnya. Namun, setelah bertemu dengan kekasih baru, si perempuanlah yang sekarang menyakiti kekasihnya. "Hurt people hurt people" atau "Double hurt people"?


Mungkin kamu juga pernah tersakiti? Dan menyakiti? Hmm... Well, ketika menjalin suatu hubungan dengan orang lain, sepantasnya hanya kasih sayang yang menguatkan jalinan itu. Tapi, hidup tak selamanya mulus. Ada riak yang membuat kita menjadi lebih emosional barangkali. Saat emosional itulah yang terkadang tanpa sadar kita tengah menyakiti orang lain; apakah teman sendiri, keluarga, pacar, orang tak dikenal sekalipun.

Menyakiti dan tersakiti. Oke, mari kita bicara tentang hati. Hati itu kadang begitu rapuh. Ia bisa tampak keras, tapi dibasahi sedikit menjadi hancur. Mungkin dibasahi airmata. Hati yang begini biasanya mudah sekali untuk tersakiti. Namun, ada juga yang punya hati keras dan kuat. Barangkali hati seperti ini yang sering menyakiti. Tapi, bisa jadi kebalikannya. Dan, bisa jadi inilah yang namanya, "Hurt people hurt people".

Dahulu, saya pernah tersakiti oleh orang yang saya sayangi sepenuh hati. Apapun saya lakukan demi dirinya. Apapun yang ia minta saya berikan. Hanya saja keadaan menjadi tak memungkinkan untuk kami bersama. Akhirnya ia memilih untuk meninggalkan saya dengan caranya yang tak saya sukai. Well, saya ditinggalkan. Dan, saya tersakiti.

Itu telah lalu... Sedangkan ini belum lama berlalu, giliran saya yang menyakiti orang lain. Orang yang terang-terang menyayangi saya segenap jiwanya. Ya, saya rasakan bagaimana perhatian dan kasih sayangnya. Usaha yang ia lakukan untuk buat saya bahagia. Hanya saja, lagi, keadaan menjadi tak memungkinkan untuk kami bersama. Akhirnya saya memilih untuk meninggalkannya dengan cara saya yang pastinya tak ia inginkan. Well, saya meninggalkan. Dan, saya menyakiti.

"Hurt people hurt people." Ada kalanya kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang pernah menyakiti kita. Mungkin sebelum bertemu kita, orang itu pernah tersakiti juga, entah oleh siapa yang tak kita ketahui. Seharusnya, dengan pengalaman tersakiti bisa menjadikan kita untuk berhati-hati dalam berhubungan supaya tak ikut-ikutan pula menyakiti orang lain. Toh, kita tahu pasti bagaimana rasanya tersakiti. Apalagi sama orang yang menyayangi kita ataupun orang yang kita sayangi. Lalu, bagaimana bisa terjadi "hurt people hurt people"?

Apakah dendam? Well... kenapa malah menyakiti orang lain? Kenapa tak menyakiti orang yang pernah menyakiti kita itu dulu? Rasanya, kurang pas kalau saya bilang dendam sebagai alasan. Tapi, tergantung pribadi masing-masing orang juga. Ada orang yang cenderung tidak mau kalah. "Lo nyakitin gue? Ok, fine! Lihat aja! Gue juga bisa kok kayak lo!" contohnya begitu. Asli, ada orang ngomong begini, saya tabok juga deh! Hehehe...

Atau apakah luka lama mengendap di dasar hatinya? Dan ketika situasi menjadi goncang, luka itu menyesak kemana-mana hingga akhirnya mengenai hati yang lain. Menyakiti. Apakah seperti itu adanya "hurt people hurt people"?

Entahlah...

Saya sendiri pun tak tahu pasti apa yang menyebabkan saya menjadi salah seorang dari "hurt people hurt people". Satu sisi saya tak mau menyakitinya, karena saya tahu pasti bagaimana rasanya tersakiti. Tapi, di satu sisi, keadaan menjadi tak bisa saya kendalikan hingga saya harus memilih meninggalkan yang ujung-ujungnya menyakiti. Ah... Suatu kebingungan yang menjadi pilihan yang menyakitkan, buatnya... Buat saya juga. Saya pun tersakiti lagi... Tampaknya sudah menjadi siklus. Menyakiti lalu tersakiti kemudian menyakiti lagi dan seterusnya.

4 comments:

  1. memang iya... Karena kita masih menyimpan rasa sakit pada orang yg menyakiti kita...tapi gak bisa kita protes atau bilang ke dia... Dan gak bisa dirubah keadaan itu... Akhirnya tanpa sadar kita jadi melampiaskan ke orang lain... And so on... bener buanget!

    ReplyDelete
  2. hidup mmg bagaikan lingkaran setan, sll berulang, tinggal mencari cara utk keluar dr lingkaran setan itu... Bila tdk mau msk k lingkaran setan, mk jangan hidup. Ps. Bukan ngajarin spy mati. :p -henny-

    ReplyDelete
  3. Saia lbh menilik hakekat dari hal tsb.. 'tersakiti', saia definisikan sbg perasaan manusia ketika tak terima karna gagal mendapatkan keinginannya.. Tak perlulah kita libatkan 'subyek' dalam hal ini.. Tak perlu 'aku', 'dia' atau 'kamu'.. Toh kerikil aja sanggup menggagalkan seorang pelari meraih garis finish.. Mau apa? Sakitkah karna gagal? Silakan 'babab' kerikilnya! Hehe.. Yakini aja bahwa Dia akan memberi apa yang kita butuhkan, tak selalu yg diinginkan.. Begitu menurut saia.. -kntnk-

    ReplyDelete
  4. Terimakasih buat komen2nya ya... :)

    ReplyDelete