Friday, July 2, 2010

L A B I A

Ada dua. Atas dan bawah. Bentuknya beda. Lekukannya beda. Tapi, dua itu bisa menyatu jadi indah. Daya tarik yang menjeratku untuk mendekatimu. Kamu si perempuan cantik berbibir ranum. Manis berwarna merah jambu. Lihatlah lekuk garis bibir atas itu. Tepat di bawah filtrum si ceruk di bawah hidung. Banyak yang menamainya dengan Cupid Bow. Lekuk seperti busur yang selalu dibawa oleh Dewa Cinta, Cupid. Mungkin dengan busur di bibir atasmu itu Sang Cupid memanah hatiku hingga berhasrat padamu. Bibirmu membuatku menginginkanmu.
Bibir… Bibirku ingin beradu dengan bibirmu. Aku ingin hasrat yang bergelora di dada ini sampai ke bibirmu. Biar kamu merasakan getaran yang sama. Biar bibirmu menyampaikan ke dalam hatimu bahwa hati dan seluruh jiwa ragaku bergetar karenamu. Getaran cinta. Tahukah kamu itu? Mendekatlah! Biar kamu tahu… Biar kamu yakin dengan rasa yang kurasa.
Ah, kamu masih saja sibuk dengan percakapan di telpon itu. Gerakan bibirmu yang kompleks mengucap kata-kata yang tak jelas maknanya bagiku. Pikiranku tak mencerna suaramu. Pikiranku sedang mengkhayalkan gerakan bibir itu melumat bibirku. Kubayangkan nikmatnya. Namun berakhir dengan tepukan tanganmu di bahuku.
“Pulang yuk!” ajakmu sembari berdiri di sampingku. Kita selalu pulang bersama. Aku, si kekasih baik hati, yang setia mengantar perempuan cantikku sampai di rumah dengan selamat.
“Telpon dari siapa?” tanyaku sedikit cemburu.
“Teman.” Itu saja jawabmu. Lalu bibirmu membuat semburat lengkung yang indah. Sebuah senyuman yang selalu bisa membuatmu makin cantik. Bibir yang makin hari makin menggodaku untuk menciumnya.
Aku tak bicara lagi. Kulanjutkan menggandeng tanganmu ke tempat parkir mobil. Aku tak mau kamu bicara lagi. Itu hanya membuatku memandang bibirmu yang manis. Hanya membuatku ingin menciumnya bertubi-tubi. Ah, cintakah ini?
Di dalam mobil, kamu kembali bicara. Berceloteh entah apa. Telingaku seperti tak mendengar. Masih saja kupandangi bibir ranummu. Aku mendekat. Deru nafasku memburu. Entah apa yang menarik diriku. Cobalah… suara entah darimana.
Kamu tergugu, namun kemudian mendorong bahuku pelan. Aku kembali bersandar di jok depan mobil ini. Aku tergagap, entah ingin bicara apa. Aku tertunduk.
“Sayaaang… Jangan dulu ya! Aku nggak mau saat inginmu tercapai mencium labia oris-ku, inginmu akan meminta lebih lagi! Memangnya kamu mau labia genitalia-ku yang malahan nanti ingin kamu ciumi?! Nggak, kan! Ada waktunya nanti… Sabar ya sampai kita akhirnya menikah!”
Senyuman itu kembali hadir dari bibirmu. Aku makin tertunduk. Bibir itu telah mengeluarkan kata-kata saktinya. Spontanitasmu berpendapat, ketegasanmu melarang hanya membuat kelelakianku terusik. Sesungguhnya aku tersinggung. Tapi, dengan begitu, kamu tampak menjadi perempuan cantik dengan bibir indah. Bibir indah karena kata-kata kebaikan darinya. Bibir itu telah mengingatkanku. Ya, caraku salah meluapkan cinta yang harusnya suci. Aku telah menodainya dengan nafsu yang menggeliat di benakku. Maaf ya, sayang.
Bibirmu memang indah.
Bibir… Labia oris
Jkt, 2 Juli 2010.
Hanya cerita singkat tentang Labia the lips. Masih adakah gadis seperti perempuan dalam cerita yang saya kisahkan ini? Masih ada ya… Dan semoga masih banyak.
Jangan sembarangan berciuman bibir. Berilah ciuman itu hanya pada seorang yang dipercaya, seorang yang tepat, seorang yang halal. Ciuman bibir akan sangat melibatkan perasaan perempuan (mungkin juga lelaki). Hati-hati jika nanti patah hati setelah berciuman lalu ditinggal pergi. Tapi, silakan saja kalau mau mencoba. Nikmatilah (resikonya)… Hehehe…

23 comments:

  1. kalo labia genitalia apaan bu dokter??

    ReplyDelete
  2. Pesan moral yang oke, vir.. Nice :)

    ReplyDelete
  3. hanya perempuan yg punya... sarung favorit kelaminmu... hehehe

    ReplyDelete
  4. semoga sampai ya pesannya bagi yg baca... makasi, yas.. :)

    ReplyDelete
  5. Ehem..... gue suka gaya cerita loe.
    Lanjutkannnnnn...... ;)

    ReplyDelete
  6. Seperti biasa,cerpennya menjurus tapi bagus hehehe :)

    ReplyDelete
  7. ehem...makasi mbak febbie... :D

    ReplyDelete
  8. hehehe....iya nih menjurus melulu yaa, bunda nanda... makasi ya... :)

    ReplyDelete
  9. ahaha...
    LABIA...? aku pikir apaan....
    Lucu skali judulnya...
    karena labia ada banyak...
    n_n

    untuk organ reproduksi wanita bagian eksternal namanya juga LABIA...
    sangat hati2 menggunakan istilah ini...
    Lips.. nampaknya lebih tepat...
    n_n

    ReplyDelete
  10. hehe..kebetulan saya kuliah kedokteran gigi, mbak. Labia itu bahasa latin utk bibir, bentuk jamak dari labium/bibir. jd labia itu bisa dipake utk menunjukkan bibir mana saja. klo di mulut, lebih jelas disebut dgn labia oris, klo yg hanya punya wanita itu ya labia genitalia... ada labia mayora dan labia majora dan labia minora...

    di kampus, kita biasa nyebut bibir sbg labia kok, atau bagian dekat bibir sbg labial... :D

    yg saya bingung, knapa mbak bilang harus hati2 menggunakan istilah itu? hehehe

    ReplyDelete
  11. ehehe... iya... benar... labia oris dan genitalis. bisa2 aja.

    hmmm... tapi, waktu kita menggoogling “ANATOMI LABIA” pasti yang kluar sebagai Labia itu adalah genitalia eksterna wanita. Silahkan dicoba dan liat gambarnya.

    Dalam ensiklopedi bebas Labium memang kata latin untuk bibir.
    Dalam bahasa inggris merujuk kepada:
    1. Labium (kemaluan), bagian dari alat kelamin perempuan
    2. Labium (serangga, sebuah bagian mulut serangga (yang lebih rendah “bibir”)
    3. Labium (genus), genus dari tawon dalam keluarga ichneumonidae
    4. Labium : (seperti perekam)

    Kalo diGoogling, ketik “Labia”, semua yg muncul langsung menjurus ke arah genitalia eksterna wanita.

    Entahlah, mungkin kata labia sudah mengalami penyempitan makna? Kalo ga salah dalam bahasa Indonesia disebut sebagai peyorasi. Jadi, kata labia hampir slalu menjurus ke organ genitalia eksterna wanita. Entahlah…
    TFS.
    n_n

    ReplyDelete
  12. kalo berpikir sempit ya bisa jadi begitu...

    sebelum menulis ini, saya jg riset googling dulu. dan, ternyata, benarlah kata dosen saya, jgn hanya mengandalkan google dlm mencari sesuatu, selalu referensi pd textbook. dan yang anda copas tsb adalah dr wikipedia. makasih sudah menambah keterangan ttg labia di kolom komen saya ya. :)

    lagian, untuk cerita ini, saya membebaskan pembaca menafsir sendiri arti LABIA sbg judul cerita. toh, esensi cerita ini jg menyangkut keduanya, baik labia oris maupun labia genitalis. jadi, ya, saya kembalikan ke pembaca saja.. :)

    cuman, kok, mbak e gak menjawab pertanyaan saya kenapa mbak bilang 'HATI-HATI MENGGUNAKAN ISTILAH INI'... kenapa ya? apa salah dgn menggunakan kata LABIA???

    ReplyDelete
  13. ihihi...
    karena sudah terjawab sebelumnya,

    "ahaha...
    LABIA...? aku pikir apaan....
    Lucu skali judulnya...
    karena labia ada banyak..."

    karena labia ada banyak hati2 menggunakan istilah ini...

    saya pikir dirimu mengucapkan pertanyaan retoris...
    jadi ndak saya jawab lagi.
    TFS
    n_n

    ReplyDelete
  14. anda hanya terlalu khawatir dgn penggunaan istilah ini. justru saya ingin memancing pembaca buat mikir 'Labia' secara luas, tdk serta merta menudingnya dgn satu arti saja. saya rasa, yg penting ber'hati-hati'lah di jalan raya... :D

    ReplyDelete
  15. ihihi...
    menuding? iya kah?
    ya sudah...
    ahaha...

    oiye, benarr...
    yang penting hati2 naek motorr...
    karena rodanya cuman dua...
    KqKqKq...
    n_n

    ReplyDelete
  16. kalo gak khawatir, trus knapa bilang hati-hati... nah looo...

    ReplyDelete
  17. ihihi... sah2 aja menafsirkannya...
    mungkin ini wujud nyata dari sebuah kewaspadaan bukan kekhawatiran...
    Who Knows...?
    yah kan...?
    n_n

    ReplyDelete
  18. lebih parah tuh... waspada napa jeng? hehehe....

    ReplyDelete
  19. iyyah... kalo lagi nulis baeknya alert...
    kalo tidur yah lepaskan kewaspadaan... ikhlashkan kehidupan...
    kalo VeecLa mo Bobo duluan yah udah...
    Met Bobo...
    Biar kuliahnya AlErt...
    ehehe...
    jangan kayak saya... kuliah ga fokus euh... udah capek gawe. tapi, mungkin ini hnya salah satu bentuk rasionalisasi.
    see y.
    n_n

    ReplyDelete