Wednesday, July 14, 2010

Cer-Penis 1001 Kata: Negeri Sastra


                Saya bukanlah seorang pencipta karya sastra. Mungkin hanya seorang penikmat sastra. Tentunya bukan seorang kritikus sastra, yang katanya tak banyak ada di negeri ini. Negeri ini penuh dengan orang-orang yang menulis sastra, lalu orang-orang yang membaca sastra, untuk kemudian mengkritiknya sesuai selera subyektif. Hatta, siapalah saya?
                Inilah saya yang sedang berada di negeri sastra. Bukan siapa-siapa. Hanya pecundang yang senang berada di negeri sastra yang jumlah kritikus sastra kompetennya makin menciut. Saya si pecundang mencoba memberi angin segar pada atmosfir kesusastraan yang lama kelamaan hambar tanpa rasa. Akan membuat sedih jika sastra di negeri ini menjadi melempem. Di sini saya, di negeri sastra, mencoba mencipta sastra. Baiklah, saya mulai saja dengan menulis cerita.
                Pendek saja! Tak perlu panjang untuk menikmati sastra, walau panjang katanya lebih enak. Saya tidak peduli. Yang saya bisa, menulis pendek saja. Cerita pendek pembaharuan di negeri sastra. Begitulah saya dengan kosombongan saya yang bukan siapa-siapa ini. Padahal otak saya ber-IQ jongkok. Makanya saya tak sanggup menulis panjang-panjang. Panjang berarti berpikir lebih panjang. Jadi, inilah saya. Belum layak disebut sastrawan. Mungkin seorang cer-Penis saja.
                Kenapa? Ada yang salah dengan penulisan saya? Memang begitulah saya. Cerita pendek saya tak jauh dari masalah seonggok daging di belahan paha Adam. Bukankah dari sebuah barang itu lahir berbagai ragam masalah? Saya ngelindur? Saya ngelantur? Sudahlah! Tidak usah dibicarakan kenapa saya menjadi cer-Penis.
                Negeri ini, akan saya persembahkan sebuah karya sastra luar biasa suatu saat nanti. Tentang barang punya Adam itu. Ingatkah tentang tugu Monas yang sekarang tinggal puing? Sejak kelompok militan berkuasa di negeri ini, tugu itu dihancurkan! Karena katanya tugu itu simbol dari phallus! Pembela Monas bertahan dengan menyarungkannya dengan sebuah kolor, supaya tak tampak lagi seronok bagi kelompok militan. Tapi, yang berkuasa selalu menang. Tidak menggubris siapa saja yang menentang. Penis yang mencuat itu diledakkan. Negeri ini pun tak sama lagi sejak ‘sang phallus raksasa’ luluh-lantak.
                Pembela Monas histeris. Mereka tidak terima dengan peristiwa leburnya Monas. Simbol kejayaan proklamator mereka. Militan tak ambil pusing. Pembela monas yang melawan dihajar, dipukul, dibantai. Militan hanya tahu satu kebenaran. Tak suatu hal pun boleh vulgar di negeri ini! Pembela Monas tak terima. Mereka berdalih bahwa itu adalah karya seni! Kalah kekuatan, karena militan begitu agresif, Pembela Monas pun bergerilya.
                Negeri ini tak lagi sama. Negeri sastra ini hanya terkukung oleh sastra keterbatasan. Terbatas pada sastra itu-itu saja, padahal dulu begitu banyak sastrawan dengan pemikiran tajam dan menantang. Saya ke negeri sastra hendak mencari mereka yang diam-diam masih berkarya. Meminta bantu supaya satu karya yang telah saya siapkan untuk disebarluaskan di negeri ini. Karya seorang cer-Penis.
                “Gila, kau!” teriak salah seorang dari mereka. “Kau cari mati di sini?” tambahnya lagi. Tampaknya ia yang mengepalai perkumpulan sastrawan terlarang ini. Oh, ia pencipta Sukab. Sayang sekali jika sastrawan hebat sepertinya harus membekap karya-karyanya. Ah, militan sialan!
                “Tapi, mau sampai kapan begini terus?”
                “Kau tahu, karyaku yang menyelipkan satu kata kelamin saja dilarang! Diberanguskan! Apalagi, karya kau yang judulnya saja sudah memancing kerusuhan?! Bisa-bisa kau dirajam sama mereka!”
                “Mereka harus dilawan!” teriak saya lantang! Saya si pecundang tengil! Mereka terbahak-bahak kemudian.
                “Pemerintahan mereka kuasai, angkatan bersenjata mereka taklukkan, pers mereka komandoi, semuanya ada tangan-tangan mereka! Kau pengkhayal, berani bilang lawan dengan tangan kosong! Kalau kau benar mau jadi sastrawan di negeri ini, tak cukup hanya dengan berkhayal! Berpikirlah!”
                Saya membatu. Entah saya percaya pada katanya. Mungkin memang saya tak sanggup melawan hanya dengan sebuah karya. Tapi, bukankah ini negeri sastra? Seharusnya mereka yang berkuasa, para sastrawan besar itu?! Militan itu hanya punya kekuatan fisik. Sedangkan, mereka punya kekuatan pikir. Tidak cukupkah itu untuk melawan militan? Tidak mampukah kekuatan pikir mereka merubah haluan negeri ini kembali kepada kejayaan sastra? Tak malukah mereka sastra di negeri ini hanya sastra itu melulu, sastra yang disenangi militan?
                Saya si pecundang! Si cer-Penis yang mencoba melahirkan karya yang membuat militan itu takzim. Bahwa bukan satu kebenaran mereka saja yang patut diapresiasi. Inilah sastra dengan keberagamannya. Walau hanya tentang seonggok daging di belahan paha. Negeri sastra ini harus bangkit lagi!
                “Kau tahu pikir saya? Lawan! Itu saja! Lalu bertindaklah!” Itu saja cukup untuk membuat mereka pikir ulang.
                Dalam tempo singkat, semua karya para sastrawan yang dilarang, diproduksi sebanyak dua kali jumlah rakyat negeri ini. Semua pencipta sastra bergerilya mengedarkan semua karya itu. Pastilah penikmat-penikmat sastra di negeri ini terobati dahaga mereka akan sastra yang telah lama mendekam terpenjara.
                Para sastrawan besar pun menyusup ke dalam gedung-gedung pemerintahan, termasuk gedung wakil rakyat yang akan dihancurkan kaum militan. Kata mereka itu simbol barangnya perempuan di belahan paha. Tidak senonoh! Harus direnovasi dengan bentuk kubah! Pikiran mono mereka sungguh tak beralasan. Tak tahukah mereka pemaknaannya jauh melebihi kelamin?!
                Sastrawan besar diam-diam menyumpal otak kosong penguasa militan dengan karya mereka yang ajaib. Bagai terhipnotis, para militan begitu terkesima dengan karya itu. Lihat! Mereka memang hanya kuat fisik! Pikir mereka sangat kosong hingga sastrawan besar begitu mudah menenggelamkan otak mereka dalam dunia imaji penuh warna. Penguasa militan pun di bawah kontrol para sastrawan. Karya sastra yang beragam kembali menghiasi negeri sastra. Semua militan telah dicuci otak!
                “Sastra berjaya! Ragam sastra berwarna!” bagai baru terlahir negeri ini menyerukan kemerdekaan berkreasi mereka yang pernah disita. Rakyat berhamburan ke luar rumah, bersuka cita menanti karya-karya para sastrawan yang kembali diproduksi massal. Variasi sastra hidup kembali! Ya, beginilah harusnya negeri sastra!
                Saya akan terus menetap di sini, di negeri sastra. Satu karya saya tentang seonggok daging di belahan paha itu batal disebarluaskan. Kata si pencipta Sukab, saya masih harus belajar. “Kau bisa saja menulis dengan aliran itu. Kau hanya perlu berlatih menulis lebih sering. Kelak, kau akan jadi sastrawan besar di negeri sastra yang kau cinta ini. Mungkin saja nanti kau pengganti Jassin yang telah tiada, atau Sapardi yang telah menua. Hahaha...”
                “Menjadi kritikus sastra??? Hahaha... Itu diluar bayangan saya! Sementara ini, saya sedang mewujudkan impian saya menjadi cer-Penis. Seonggok daging di belahan paha tak melulu vulgar dan porno. Saya pun enggan menulis cerita menjijikkan, tapi ini tak sekedar cerita mesum. Saya ingin menulis cerita pendek saja. Sementara ini, tentang seonggok daging di belahan paha dahulu. Sementara ini, jadi cer-Penis saja. Hahaha...”


Catatan: boleh dihitung, cerita ini berjumlah 1001 kata.. sila kritik.. :D
Gambar dari sini

Friday, July 2, 2010

L A B I A

Ada dua. Atas dan bawah. Bentuknya beda. Lekukannya beda. Tapi, dua itu bisa menyatu jadi indah. Daya tarik yang menjeratku untuk mendekatimu. Kamu si perempuan cantik berbibir ranum. Manis berwarna merah jambu. Lihatlah lekuk garis bibir atas itu. Tepat di bawah filtrum si ceruk di bawah hidung. Banyak yang menamainya dengan Cupid Bow. Lekuk seperti busur yang selalu dibawa oleh Dewa Cinta, Cupid. Mungkin dengan busur di bibir atasmu itu Sang Cupid memanah hatiku hingga berhasrat padamu. Bibirmu membuatku menginginkanmu.
Bibir… Bibirku ingin beradu dengan bibirmu. Aku ingin hasrat yang bergelora di dada ini sampai ke bibirmu. Biar kamu merasakan getaran yang sama. Biar bibirmu menyampaikan ke dalam hatimu bahwa hati dan seluruh jiwa ragaku bergetar karenamu. Getaran cinta. Tahukah kamu itu? Mendekatlah! Biar kamu tahu… Biar kamu yakin dengan rasa yang kurasa.
Ah, kamu masih saja sibuk dengan percakapan di telpon itu. Gerakan bibirmu yang kompleks mengucap kata-kata yang tak jelas maknanya bagiku. Pikiranku tak mencerna suaramu. Pikiranku sedang mengkhayalkan gerakan bibir itu melumat bibirku. Kubayangkan nikmatnya. Namun berakhir dengan tepukan tanganmu di bahuku.
“Pulang yuk!” ajakmu sembari berdiri di sampingku. Kita selalu pulang bersama. Aku, si kekasih baik hati, yang setia mengantar perempuan cantikku sampai di rumah dengan selamat.
“Telpon dari siapa?” tanyaku sedikit cemburu.
“Teman.” Itu saja jawabmu. Lalu bibirmu membuat semburat lengkung yang indah. Sebuah senyuman yang selalu bisa membuatmu makin cantik. Bibir yang makin hari makin menggodaku untuk menciumnya.
Aku tak bicara lagi. Kulanjutkan menggandeng tanganmu ke tempat parkir mobil. Aku tak mau kamu bicara lagi. Itu hanya membuatku memandang bibirmu yang manis. Hanya membuatku ingin menciumnya bertubi-tubi. Ah, cintakah ini?
Di dalam mobil, kamu kembali bicara. Berceloteh entah apa. Telingaku seperti tak mendengar. Masih saja kupandangi bibir ranummu. Aku mendekat. Deru nafasku memburu. Entah apa yang menarik diriku. Cobalah… suara entah darimana.
Kamu tergugu, namun kemudian mendorong bahuku pelan. Aku kembali bersandar di jok depan mobil ini. Aku tergagap, entah ingin bicara apa. Aku tertunduk.
“Sayaaang… Jangan dulu ya! Aku nggak mau saat inginmu tercapai mencium labia oris-ku, inginmu akan meminta lebih lagi! Memangnya kamu mau labia genitalia-ku yang malahan nanti ingin kamu ciumi?! Nggak, kan! Ada waktunya nanti… Sabar ya sampai kita akhirnya menikah!”
Senyuman itu kembali hadir dari bibirmu. Aku makin tertunduk. Bibir itu telah mengeluarkan kata-kata saktinya. Spontanitasmu berpendapat, ketegasanmu melarang hanya membuat kelelakianku terusik. Sesungguhnya aku tersinggung. Tapi, dengan begitu, kamu tampak menjadi perempuan cantik dengan bibir indah. Bibir indah karena kata-kata kebaikan darinya. Bibir itu telah mengingatkanku. Ya, caraku salah meluapkan cinta yang harusnya suci. Aku telah menodainya dengan nafsu yang menggeliat di benakku. Maaf ya, sayang.
Bibirmu memang indah.
Bibir… Labia oris
Jkt, 2 Juli 2010.
Hanya cerita singkat tentang Labia the lips. Masih adakah gadis seperti perempuan dalam cerita yang saya kisahkan ini? Masih ada ya… Dan semoga masih banyak.
Jangan sembarangan berciuman bibir. Berilah ciuman itu hanya pada seorang yang dipercaya, seorang yang tepat, seorang yang halal. Ciuman bibir akan sangat melibatkan perasaan perempuan (mungkin juga lelaki). Hati-hati jika nanti patah hati setelah berciuman lalu ditinggal pergi. Tapi, silakan saja kalau mau mencoba. Nikmatilah (resikonya)… Hehehe…