Saturday, June 12, 2010

Bipolar Attack

Melodi Bellaluna mengalun indah dalam kamar Gadis. Suara Jason Mraz dalam lagu itu menyaru dengan suara bass Gilang. Gilang berlutut di depan Gadis yang sedang duduk di kasurnya. Saling berpandangan. Gadis takluk pada sorot mata Gilang yang tajam. Gilang bangkit hingga sejajar dengan Gadis. Wajah mereka saling mendekat. Kening mereka saling berhimpit. Hidung mereka masih berjarak. Bibir mereka ingin bersentuhan. Tangan mereka saling menggenggam. Hati mereka bergetar, berdesir, mungkin menahan hasrat gelora rasa.
“Dis, sesuatu dalam hatiku sedang berlonjak girang. Membuat hatiku tak bisa tenang. Dis, aku cinta kamu.” Gilang tak bernyanyi lagi. Senandungnya berganti curahan hati. Gadis hanya tersenyum. Lengkung bibirnya indah. Sekejap kemudian, tak ada Gilang dalam kamar Gadis.
Gadis terpana melihat kekosongan di depan matanya. Hatinya hancur. Remuk yang tak terperikan. Gadis membaringkan badannya. Merentangkan tangannya. Ilusi yang menyesakkan. “Kenapa kehadiran Gilang tak bisa jadi nyata?” batin Gadis. Gadis bersedih. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu sampai kapan kesedihan ini didera. Gadis menangis. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu kenapa matanya tak pernah kering. Gadis terisak. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu kenapa Gilang tak bisa merasakan kesedihannya. Kenapa Gilang belum datang padanya? Tanda tanya yang membuat Gadis semakin larut dalam depresi kehilangan jejak Gilang.
***
“Ah, ia hanya pergi sebentar. Sementara itu, saya akan melakukan apa saja yang membuat saya senang. Saya bisa berbahagia, meski tanpa ia.” Gadis bicara pada bayangannya di cermin. Ia duduk lama memandang raut muka yang sekarang cerah karena perona pipi. Hitam di kantung mata telah hilang. Ia cantik. Dan ia pun tersenyum.
Gadis dalam kamar. Pemutar musik dinyalakan. Musik yang menghentak. Membuat Gadis menggerakkan badannya. Ia menari mengikuti irama. Kepalanya digoyangkan. Tangannya di udara. Kakinya melangkah kesana kemari. Ia berputar. Terus berputar. Seperti hanyut dalam fase trans. Musik berhenti. Gadis tetap menari. “Saya sedang berbahagia. Saya akan terus menari.” Gadis bergumam dengan nafas tersengal. Ia letih. Dan, ia terus menari.
“Saya hanya tidak ingin bersedih lagi tiap malam, dalam pembaringan menjelang terlelap tidur, karena mengingat kita; saya dan kamu.” Kata hatinya. Gadis melanjutkan tariannya. Sekarang, ia ingin bersenang-senang. Ia tak ingin mengingat duka yang pernah ia rasakan. Gadis selalu berharap ia amnesia, bisa melupakan masa lalunya, lalu menjalani hari-hari selanjutnya dengan damai dan bahagia.
Nyatanya, Gadis tak bisa hidup tenang sampai saat ini. Ia merasa bisa mengendalikan suasana hatinya. Padahal ia tidak pernah tahu kesedihan yang mendalam selalu saja bisa mendatanginya tiap saat kapan saja. Gadis tak pernah tahu gangguan bipolar akan selalu menghantuinya.
***

Mengenai Bipolar Disorder atau Gangguan Bipolar (Manic-Depressive Disorder) dapat dibaca disini.

Tuesday, June 1, 2010

Cinta Semusim

I’ll never be the same
If we ever meet again
Satu musim telah saya lewati tanpa kehadirannya. Ya, baru satu musim. Daun-daun kering kerontang habis dari ranting. Gugur demi bertahan hidup si pohon. Daun-daun yang rela melepaskan diri, lalu mati berserak menjadi sampah tersebar di atas tanah. Tapi, sampah dedaunan masih berarti. Seseorang yang peduli akan mengumpulkannya lalu menjadikannya pupuk kompos yang dipakai lagi untuk menghidupi daun-daun yang baru.
Saya tak seperti dedaunan yang berguguran. Walau saya tahu bahwa hati saya telah kering diperas rindu yang sangat padanya. Ingin rasanya, saya melepaskan diri dari perasaan ini. Namun, hati itu masih menggantung di sana, di tempat cinta pernah disemai. Di sana, ketika ia masih ada memeluk erat hati saya tanpa pernah lepas. Di sana, ketika ia begitu mencintai saya. Mengisi hati saya dengan rindu dan cinta. Rindu yang selalu ada. Cinta yang sekarang entah ia bawa kemana.
“Saya pernah bilang padanya, saat ia kembali nanti, saya tidak akan melepasnya pergi lagi.”
“Apa maksudmu, Ndis?” Bagas menyeruput kopi panasnya. Di balkon rumah, saya dan Bagas duduk santai menikmati angin sejuk musim gugur. Sebentar lagi musim dingin datang.
“Saya tidak akan melepasnya pergi. Saya akan memintanya tinggal.”
“Hahaha… Gendis, Gendis!” Gelak tawa Bagas membuat saya enggan untuk bicara lagi dengannya. “Kau masih ingat sama si tolol itu? Ya, ya… Saya tahu Adrian adalah kekasihmu. Tidak mungkin kamu melupakannya, bahkan ketika ia telah pergi meninggalkan kamu. Heh…” Bagas menghela napas dalam. Saya masih enggan bicara.
“Musim panas yang membara. Tapi, bara cinta kalian lebih panas dari hawa musim itu. Kalian terlalu jauh menjelajah rasa. Kalian hanya paham saat itu kalian saling jatuh cinta. Kamu tidak peduli bahwa ia sementara saja di sini. Ah, sudah berapa kali kukatakan ini padamu, Ndis.” Bagas memalingkan mukanya dari wajah saya. Ia beranjak dari bangku yang ia duduki dari tadi. Membalikkan badannya pada saya, lalu bersandar di pilar balkon yang selebar bahunya.
“Ndis, Adrian hanya memanfaatkan kamu selama ia liburan di sini.” kata Bagas pelan tapi dalam. “Musim panas tahun depan ia tidak akan kembali ke Long Island.”
“Bohong! Tahu dari mana kamu?” Muka saya panas. Semu merah karena marah.
“Adrian telah mendapatkan kerjaan tetap di Amsterdam. Ia kembali ke kampungnya, Ndis. Seperti kamu nanti, setelah lulus kuliah, akan kembali ke Jawa.”
Bagas tak peduli dengan kegundahan saya. “Adrian akan kembali ke sini, jika saya tak memaksanya untuk tinggal, jika saya melepasnya. Karena ia akan kembali. Itu kata Adrian pada saya, Bagas.”
“Ndis, kamu perempuan modern! Masih tertipu dengan gombalan pria? Hahaha… “
“Jangan meledekku seperti itu!” kata saya geram.
“Kalau benar ia akan kembali, ia tidak akan menggantungmu tanpa pesan apa pun. Ia akan mengabarimu setiba ia di Amsterdam. Ia akan membalas berpuluh emailmu. Semusim hampir habis, Ndis. Tak lama lagi, musim berganti. Sampai kembali ke musim panas pun, ia tak akan kembali.”
“Kalau ia tak akan kembali, kenapa kamu membiarkan saya kenal dengannya? Kenapa kamu membiarkan saya jatuh cinta pada Adrian?” Mata saya berkaca-kaca. Kenapa saya menyalahkan Bagas? Bagas bahkan tak meminta saya kenalan dengan pria yang sekampus dengannya di Massachuset itu.
Bagas diam. Bukan! Ini bukan salah Bagas. Ini bukan salah siapa-siapa. Adrian hanya ingin berlibur di New York, lalu mampir ke Long Island bertemu Bagas, sepupu saya satu-satunya yang menjaga saya hidup di negeri Paman Sam. Pertemuan yang hanya direncanakan sekali, berubah menjadi pertemuan yang terus-menerus untuk bertemu saya, walau dua jam perjalanan Manhattan-Long Island.
Cinta tak pernah salah. Ketika saya dan Adrian saling jatuh cinta, hanya waktu saja yang tak tepat. Awal musim panas yang indah, lalu berakhir dengan kesedihan dan perpisahan. Hanya semusim. Cinta mampu membuat saya jatuh terlalu jauh. Dan, saya percaya Adrian merasakan getaran yang sama. Adrian tak menghubungi saya sekarang karena ia tak mau lagi waktu yang tak tepat.
Saya tak meragukan cinta Adrian pada saya.
Saya tak meragukan bahwa saya dan Adrian memang saling jatuh cinta.
Saya percaya bahwa cinta semusim itu nyata ada.
Adrian akan kembali pada saya, walau harus bermusim-musim menunggu. Walau hati saya telah kering diperas rindu, rasa cinta saya tak pernah gugur. Karena bila cinta ini gugur, hati ini tak akan berarti lagi. Adrian akan kembali. Ketika ia kembali nanti, saya tak lagi perempuan yang sama seperti dulu, yang pasrah akan kepergiannya. Ketika ia kembali nanti, akan saya curahkan segala rasa dan rindu yang tertahan. Ketika ia kembali nanti, saya tidak akan melepasnya pergi lagi.
If we ever meet again
I’ll have much more to say
If we ever meet again
I won’t let you go away
Jkt, 01062010
- Semoga ia kembali lagi ya… -
Terinspirasi dari lagu Timbaland, ‘If We Ever Meet Again