Friday, December 31, 2010

Cerita Pagi Ini di "Negeri Para Bedebah"

Pagi ini (4 November 2009, 07:15 wib), lagi saya berangkat ke RSCM via FKUI. Dari kost di salemba tengah, tentunya saya harus berjalan melewati jembatan penyeberangan salemba UI. Sebenarnya ini bukanlah kebiasaan saya sehari-hari sebelum batas jalan di bawahnya dipagari. Hohoho… Seringkali saya bandel menyeberang di tempat yang tidak seharusnya, dengan alasan lebih cepat dan tidak capek naik turun tangga. Ma’aaaaffff…

Ternyata, dengan menyeberang di jembatan ini, tidak hanya kelelahan fisik yang saya dapat. Disana saya melihat semakin banyak saja orang yang meminta-minta. Mulai dari tangga naik, persis di jembatannya, sampai tangga turun. Saya hitung totalnya ada 6 peminta pagi ini. Kelelahan batin juga jadinya melihat keadaan itu. Makin banyak saja. Kapan rakyat jelata di “Negeri Para Bedebah” ini akan sejahtera ya?

Saya ingat-ingat lagi malam ini, dari 6 orang itu, hanya seorang saja perempuan. Orang (saya tidak menyebut pengemis, karena mereka hanya menunggu kedermawanan orang-orang yang lewat untuk memberi sereceh uang) pertama yang saya lihat adalah seorang pemuda lusuh sangat dekil duduk terpakur beralaskan pantat di tangga naik. Lalu 4 orang di jembatan, satu diantaranya lelaki berpakaian rapi menyodorkan amplop-amplop kosong yang katanya infak untuk masjid, dan tiga lainnya mempunyai tampilan hampir mirip dengan orang pertama di tangga naik dengan satu diantaranya perempuan tua. Kemudian satu orang laki-laki di tangga turun. Ohya, ada tambahan satu lagi, orang kedua dari ‘orang amplop’ yang akan mengambil kembali amplop dari pejalan yang lewat di jembatan. Apakah kosong atau berisi yang penting amplop tidak boleh dibawa pulang! Jadi, totalnya ada 7 peminta di jembatan penyeberangan UI pagi ini. Menurut saya, ini total terbanyak yang saya lihat dalam satu jembatan penyeberangan.

Musikal Laskar Pelangi: Sekadar Ulasan, Ulasan Sekadar

Kemarin, 29 Desember 2010, saya berencana membeli tiket pertunjukkan Musikal Laskar Pelangi di ticketbox di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM). Tadinya saya dan teman ingin menyaksikan pertunjukkan itu pada hari lain. Ternyata, tiket yang dijual hanya untuk hari itu, tiket untuk hari lain bisa dibeli di ticketbox selain di TIM. Karena itu, saya dan teman akhirnya memutuskan untuk menyaksikan Musikal Laskar Pelangi pada hari itu juga, tepatnya malam pukul 19.00.

Harga tiket bervariasi dari kelas 3, 2, 1, VIP sampai VVIP. Kelas 3 dengan kursi penonton di tribun lantai 3 adalah tiket dengan harga paling murah 100.000 IDR. Kelas 2 di tribun lantai 2, 250.000 IDR. Sedangkan kelas 1, VIP, dan VVIP ada di lantai 1 yang tentunya lebih dekat panggung, dengan harga 400.000 IDR, 650.000 IDR, dan 750.000 IDR. Pertunjukkan ini digelar dari tanggal 17 Desember 2010 sampai 9 Januari 2011. Harga tiket kelas 1, VIP dan VVIP ada promo khusus pelajar/mahasiswa dengan diskon 30% sampai tanggal 31 Desember saja. Harga tiket yang cukup mahal, menurut saya, sebanding dengan apa ditampilkan.

Musikal Laskar Pelangi memang berawal dari kesuksesan novelnya. Novel karya Andrea Hirata adalah novel best-seller di Indonesia. Mira Lesmana, seorang seniman film, pun memfilmkan Laskar Pelangi bersama partnernya sutrada handal Riri Riza. Film Laskar Pelangi yang digarap dengan sangat baik juga berhasil menarik masyarakat untuk menontonnya walau mungkin belum membaca novelnya, seperti saya. Saya tidak membaca satu pun novel-novel karya Andrea Hirata, entahlah, kenapa saya tak tertarik untuk membacanya, belum barangkali. Karena saya bukan pembaca Laskar Pelangi, maka saya tidak ada ekspektasi apa-apa untuk filmnya. Saya hanya berminat menonton filmnya, menjadikannya hiburan bagi saya, maka saya nikmatilah tiap adegan yang bergulir. Jadi, ketika saya memutuskan untuk menonton Laskar Pelangi (LP) dalam bentuk drama musikal, tak lain karena saya penikmat filmnya, bukan penikmat novelnya. (Well, Andrea Hirata, go away, I won't talk about you! Hihihi..)

Monday, December 20, 2010

Itu Melulu! Variasi, donk! Biar Nikmat!

Pernahkah sang ayam jantan bosan berkokok setiap fajar menyingsing? Saking bosannya, si ayam ogah-ogahan memulai rutinitasnya. Bayangkan seandainya ayam tidak berkokok pada suatu hari. Saat fajar ayam tetap tidur, menjelang siang keluyuran keluar dari kandang, sampai senja tidak juga balik ke asal, malah tetap jalan-jalan dengan buta mencicipi udara bebas malam. Bayangkanlah! Karena nyatanya belum ada ayam jantan kelayapan malam-malam. Setiap hari, ayam selalu melakukan kegiatan yang sama. Saya tidak akan bertanya lagi pada ayam apakah ia bosan. Ayam tak punya akal. Jadi saya akan bertanya pada diri sendiri saja. Ya, saya bosan kalau hari demi hari melakukan hal yang sama, itu-itu saja.

Andaikan saya adalah ayam jantan. Ketika bosan, saya tidak akan membangunkan orang-orang dari tidur malam panjang. Saya langsung membenamkan muka dalam seember air biar segar. Lalu cari makan. Perut pun kenyang. Segera bertandang ke kandang-kandang ayam betina seantero kampung. Mengawininya ekor per ekor. Sampai malam pun di saat tak bisa melihat, terus tebar pesona. Hingga kelak seluruh ayam betina melahirkan telur-telur hasil ovulasi dengan benih saya si ayam jantan perkasa. Mengenyahkan rutinitas. Betapa nikmatnya.

Perandaian yang sangat tidak logis dan realistis. Baiklah, mencoba untuk masuk akal. Saya sendiri pasti akan cepat bosan jadi ayam jantan normal. Tidak pernah libur sehari saja seumur hidupnya untuk tidak berkokok. Untungnya, di dunia manusia, dalam seminggu kita punya dua hari untuk tidak menjalankan rutinitas. Weekend selalu dinanti. Di hari inilah kita bisa melepas penat. Keluar dari pekerjaan harian. Me-refresh jiwa dengan kegiatan yang menyenangkan. Ya, begini wajarnya hidup kita. Weekdays bekerja, weekend berlibur. Dan ternyata itulah ritme hidup yang terus berulang dari minggu ke minggunya. Hampir saja saya menyamakan kita dengan si ayam jantan. Tapi, tentu kita berbeda! Sangat berbeda dengan ayam! Kita diberi akal untuk memutuskan apakah akan tetap mengulang rutinitas atau mencoba hal-hal baru. Layaknya seks, pasti akan jenuh jika tiap malam pakai gaya missionaris terus. Begitu juga hidup, akan jenuh jika itu melulu yang dilakukan. Ada kalanya kita mencoba variasi lain, walaupun mengharuskan kita keluar dari comfort zone.

Friday, December 17, 2010

Ia di Dalam Kepala

Ia ada dalam kepala saya. Ia bisa berupa apa saja dan bermakna semau ia. Ia tetap ada dalam kepala dan akan terus ada. Meneror saya siang malam tanpa jera. Ia bosan di dalam dan ingin keluar. Tapi kepala ini bagai berpagar. Dibatasi perasaan saya yang melarang ia bebas. Ia pun makin memberi saya teror keras.

Ia terus memaksa hingga saya lelah. Memaki saya seorang lemah. Menghujat saya seorang pengecut. Mungkin karena ia ingin menjadikan saya penurut. Karena ia ingin berkuasa. Meracuni pikiran saya, mengeruhkan jernihnya rasa. Saya tertunduk, entah takut entah malu. Mungkin terhina dalam perasaan semu.

Saya kalah, namun kalah dalam kepuasan nyata. Ya, puas telah membebaskan ia ke secarik kertas. Tak lagi saya pedulikan penilaian manusia. Ia telah bebas, ia pun merasa puas. Padahal pernah saya pikir ia tak punya rasa. Dan kini, biarlah ia makin menyesak, saya relakan ia keluar, walau tetap ada ia dalam kepala. Karena ia tak bisa punah, ia akan selalu ada. Karena ia adalah kata.


Jakarta, 8 Oktober 2009, 13:30

Thursday, December 16, 2010

Rokok, Lipstick dan Ponsel

HITAM

Aku tak suka lihat kamu begitu. Sana, mandi segera!

Hah? Nanti? Tunggu apa lagi?

Lihat mukamu kusam tanpa rona, hampir serupa warna hitam. Cuci debu dan asap yang menempel di wajahmu itu. Sungguh, aku tak sudi tidur seranjang denganmu kalau kau tak bersihkan diri.
Apa? Sebentar lagi?

Apa kubilang, jangan bergantung sama si batangan hitam kau itu! Bisa-bisanya si hitam itu mengalihkan dirimu dari kekasih hatimu.

Bercerminlah, sayang! Kumuh dari jalanan, kau tambah dengan asap pekat dari si hitammu, bukannya cepat-cepat memelukku. Hatimu sudah dikuasai si hitam.

Rokok jahanam! Barangkali sudah ia buat pula paru-paru kekasihku serupa warna hitam.

Hei, jangan kau tambah lagi menghisap batangan hitam itu! Aargh, dua-duanya sialan!

Thursday, December 9, 2010

Menembus Mainstream Media: Akses, akses, akses!

Suatu petang di hari Minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman maya yang saya kenal lewat acara “99 Writers in 9 Days” Nulisbuku.com. Niatnya adalah sama-sama mengunjungi Festival Pembaca Indonesia di Pasar Festival Kuningan. Oleh teman tersebut, saya pun dikenalkan dengan temannya yang pada hari itu mendapat penghargaan dari Goodreads Indonesia di acara Festival Pembaca Indonesia. Tak usahlah saya sebutkan siapa, tapi dia telah menelurkan 9 buku, 6 karya sendiri dan 3 karya bersama penulis lain. Setelah acara selesai, kami bertiga istirahat sebentar di food court, tentunya sambil ngobrol-ngobrol. 

Entah bermula dari topik apa, obrolan kami menjadi kian seru tentang dunia kepenulisan. Dia, sebut saja Miss X, bercerita tentang pentingnya akses dalam penerbitan, baik di media massa maupun penerbitan buku. Akses dalam pengertian orang yang dikenal untuk bisa meloloskan karya kita. Setidaknya karya kita diantara ribuan karya yang masuk meja redaksi dilirik oleh orang yang disebut “akses” itu.

“Lo bayanginlah berapa ratus karya yang masuk tiap minggunya, lo yakin karya sebanyak itu dibaca semua oleh redaksi? Mereka pasti mendahulukan karya yang udah mereka kenal namanya.” Demikian Miss X katakan tentang karya yang terbit di media massa seperti koran, majalah, ataupun media massa terkenal lainnya. Miss X menegaskan penulis yang punya akses lebih berpeluang untuk menerbitkan karya mereka.

Friday, November 26, 2010

Tak Berencana

Sebuah gubuk di pinggir rel kereta api penghubung pulau Jawa. Sebuah gubuk di antara sesak hunian di belantara kota Jakarta. Sebuah gubuk yang dipenuhi sesak anak-anak tidur tindih-menindih. Sebuah gubuk dengan satu ranjang reyot berdecit-decit karena lenguh desah Adun dan Inah.

Langit masih suram. Semburat fajar di ufuk timur memang sudah tampak. Terlalu pagi bagi sebagian orang untuk bangun dari kasur. Tapi sudah waktunya mencari makan bagi Adun. Ada enam perut yang harus dibuat kenyang hari ini. Dirinya, Inah si istri, dan empat anaknya yang masih kecil. Kecil pun tetap harus disuruh bekerja.

Adun yang masih berusia kepala tiga akan membangunkan Jalu si sulung. Mereka akan berangkat ke stasiun kereta terdekat. Tak lupa ia membawa kotak asongan berisi berbagai minuman ringan dan rokok. Sedangkan Jalu dengan kotak semir sepatunya. Lima tahun sudah ia tak lagi ke sekolah. Hanya setahun mengecap bangku SD. Jalu harus membantu keluarga, begitu Adun bertitah pada anak tertuanya. Berdua mereka bertanggungjawab mencari sesuap nasi. Tak perlu mandi untuk itu, cukup lepaskan hajat di kali terdekat. Mereka siap menantang penat.

Sunday, November 21, 2010

Standing Ovation for "ONROP! Musikal"

Apresiasi luar biasa dari saya untuk Joko Anwar, maestro film Indonesia yang namanya cukup mendunia karena karya-karyanya yang hebat. Salah satunya Pintu Terlarang masuk dalam daftar film-film terbaik dunia oleh The British Institute. Dan di tahun 2010, dengan benih sebuah ide yang tercetus dari berbagai peristiwa di Indonesia, Joko Anwar melahirkan teater musikal ONROP!

Ini pertama kalinya saya nonton teater musikal, dan tampaknya ONROP! menjadi kesuksesan pertama di Indonesia yang menggelar teater musikal seperti Teater Broadway-nya Amerika. Saya bahkan tidak tahu seperti apa sesungguhnya Broadway, tapi mungkin saya bisa merujuk pertunjukkan Moulin Rouge, sebuah pentas drama musikal yang terkenal. Okay, saya tidak akan mencoba mengritisi teater musikal ONROP! sebegitu dalam. Saya memang tidak mengerti apa-apa tentang teater. Sebelumnya saya pernah beberapa kali nonton teater, tapi saya hanya jadi penikmat. Maka di tulisan ini, saya cukup sedikit menggambarkan apa itu ONROP! dan kenapa banyak orang yang mengacungkan jempol untuk karya Joko Anwar ini.

Pertunjukkan ini bernama resmi “ONROP! Musikal”, bisa saya lihat dari tiket dan booklet yang dibagikan sebelum pertunjukkan. Digelar di teater besar Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki dengan harga tiket yang tidak murah, ONROP! menjadi hiburan yang cukup ekslusif. Tapi, hampir semua segmen berminat menonton teater ini, tidak hanya orang-orang pecinta seni teater. Mungkin, karena promosi yang gencar lewat media sosial seperti twitter. Maka, tak salah ONROP! Musikal menjadi populer.

Saturday, November 20, 2010

Unpredictable Onrop

Life is unpredictable! Tak segalanya yang direncanakan terjadi sedemikian rupa. Tak segalanya yang terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan. Apa yang telah terjadi kadang merupakan hal-hal yang tak kita duga sebelumnya. Hidup itu tak menentu, tentu saja! Hidup itu aneh? Bisa jadi! Well, whatever, that’s a life! 

Hari Jumat tanggal 19 bulan 11 tahun 2010, mungkin adalah hari yang aneh bagi saya dan seorang teman, Cyndi. Sepertinya apa yang terjadi seharian itu adalah hasil dari menuruti intuisi. Kami berencana ini anu, tapi kami sama sekali nggak tahu apakah rencana itu akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Hari yang aneh tersebut bermula dari sekedar wacana ‘pengen nonton’!

Di kampus, saya dan Cyndi sudah kepengen nonton film. Film apa? Hmm... yang baru dan bagus tentunya! Oh, Harry Potter! Ya, ya, ya.. akhirnya kami memang sepakat akan nonton Harry Potter. Dimana? Dekat kampus aja! Metropole atau TIM? Dari kampus, sudah memutuskan nonton di Metropole, berhubung saya sudah cukup bosan nonton di TIM. Jadi, dari kampus, kami merencanakan nonton Harry Potter di Metropole. Tetapi, di tengah perjalanan  menuju Metropole, saya periksa lagi situs 21 Cineplex, lalu mengetahui kalau di Metropole hanya tersedia dua studio yang memutar Harry Potter, sedangkan di TIM memanfaatkan tiga studionya untuk Harry Potter. Maka, berubahlah rencana semula, karena takut kehabisan tiket nonton di Metropole yang cuma sedia dua studio padahal hari itu adalah premier tayang Harry Potter. Then, here we go... TIM!

Thursday, November 4, 2010

Langkah Pertama

dijual!
Langkah pertama. Biasanya masih suka jatuh pada bayi yang mulai menatah. Begitu juga saya yang baru pertama kali melangkahkan kaki di dunia penerbitan buku. Apalagi urusannya sudah self-publishing begini. Semuanya saya yang kerjakan. Pihak luar yang membantu mencetak tampaknya tak bisa sepenuhnya membantu saya memasarkan buku pertama ini, si Lajang Jalang. Yah, siapa saya jika harus diprioritaskan?! Banyak penulis lainnya sampai 100 lebih yang harus ditangani oleh tim Nulisbuku.com sebagai media penerbitan buku saya. Totally, dari segi ide dan format buku, desain sampul, penentuan harga buku, sampai menjualnya, adalah kerjaan saya. Ketika pertama melangkah itulah saya mulai merasa sedikit down. Ah, apa bisa ya? Apa bisa saya melakukan semuanya itu sendirian?

Ide dan format isi buku serta desain sampul adalah hal pertama yang ternyata bisa saya selesaikan dengan baik. Saya cukup puas dengan hasilnya. Secara keseluruhan produk yang saya ciptakan dari pemikiran saya sendiri tersebut telah berhasil menjadi sesuatu yang bisa saya banggakan untuk saat ini, dan mungkin di kemudian hari. Untuk karya pertama yang dirancang sendiri tentu menjadi kepuasan bagi saya walau mungkin tak bisa memuaskan selera banyak orang. Maka tak pantaslah saya berkeluh kesah mengenai isi buku dan desain sampul.

Lalu si karya diproduksi. Penentuan harga pun harus dipertimbangkan dengan baik. Tadinya saya tentukan harga buku saya 33.000 rupiah. Setelah dikurangi ongkos produksi, kira-kira bersisa 13.000 rupiah yang nanti dibagi 60% sebagai royalti untuk saya dan 40% untuk nulisbuku.com. Tapi, kemudian saya ganti harga, saya naikkan jadi 35.000 rupiah supaya bulat dan royalti sedikit meningkat. Alasannya tak sekedar ingin membulatkan. Dengan menaikkan harga, saya juga ingin menghargai "keringat" saya. Ingat ya! Ini self-publishing. Saya tak sekedar butuh royalti karena karya saya dijual. Tapi, saya juga mengeluarkan waktu dan tenaga lebih untuk memasarkan buku ini hingga sampai ke tangan pembeli/pembaca. Namun, ketika seorang calon pembeli berharap minta diskon (apalagi gratis?!), potongan harga mana lagi yang harus saya berikan? Saya tahu, buku dengan jumlah keseluruhan 94 halaman ini lebih pantas dijual 25.000 rupiah, paling mahal juga 30.000 rupiah. Kadang saya jadi sedikit putus asa kalau sudah begini; oh ya sudahlah, siapa saja yang mau beli nanti juga bakal beli... --> "down stase 1"

Wednesday, November 3, 2010

Lajang Jalang Dijual

Sampul depan Lajang Jalang

Kumpulan Cerita Pendek dan Sangat Pendek:
14 Kisah LAJANG JALANG
oleh Vira Cla
(94 halaman)


Buku ini berisi cerita-cerita tentang cinta, patah hati, seks, sampai kegilaan. Sekumpulan derita dari ‘lajang’ dan ‘jalang’. Petikan pesan yang mengentak dari tiap kisah.

Diawali dengan kisah seorang ‘cer-Penis’ di Negeri Sastra, menceritakan tentang cintanya pada sastra. Cinta yang diwujudkan dengan menulis cerita-cerita yang katanya tentang seonggok daging di belahan paha. Kemudian, lahirlah kisah berjudul ‘Labia’. Bibir itu menawan, bukan? Atau, menggoda?

“Bulat, pejal, menggemaskan.” Kutipan dari kisah ‘Puting’.

Friday, October 29, 2010

A Special Getting Older

I'm getting older!

26 Oktober 2010. Pagi ketika burung berkicau di dahan pohon depan teras rumah. Pagi ketika matahari tertutup awan kelabu. Pagi ketika saya bertambah umur. Tak ada yang istimewa. Saya tetap berangkat ke kampus. Tak ada surprise party. Hanya 2 orang teman saja yang mengucapkan selamat ulang tahun pada pagi itu. Tak riuh. Hening saja. Pagi adalah kesibukan individu memulai hari. Tiap tanggal 26 Oktober dari tahun ke tahun tak pernah berubah. Saya selalu berulangtahun sendiri di pagi hari, siang hari, sampai sore hari. Seharian itu, hitungan jari saja sms yang masuk ke handphone saya. Semuanya sahabat dan keluarga saya! Itu cukup! Setidaknya saya mendapatkan ucapan ketulusan dari orang-orang terdekat dan orang-orang yang saya sayangi. Bukan sekedar ucapan basa-basi karena saya pernah memberi ucapan selamat ulangtahun basa-basi pula. Ya, saya memang pelit berbasa-basi mengucapkan selamat ulangtahun pada orang lain yang tak dekat.

Monday, October 25, 2010

"Hurt people hurt people."

Kutipan yang saya ambil dari sebuah dialog dalam film 'Greenberg'. Tokoh utamanya adalah si Mr. Greenberg yang diperankan oleh Ben Stiller. Film ini alurnya datar, bisa dibilang cukup membosankan. Saya sendiri tak terlalu paham konflik ceritanya. Mungkin hanya konflik batin Greenberg yang pernah kecanduan narkoba, menghilang dari teman-teman mudanya, lalu sempat diinapkan di rumah sakit jiwa. Tapi, kemudian, ia kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan teman-teman yang ia tinggalkan dulu. Greenberg yang akhirnya berkata "Hurt people hurt people." Orang-orang yang tersakiti pun menyakiti orang lain.

Sunday, October 24, 2010

Cerita di Balik "99 Writers in 9 Days"

Jumat, 8 Oktober 2010. Sore, saya telah bersiap untuk berangkat ke Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan. Tidak seperti biasa untuk berbelanja buku, hari ini istimewa karena untuk pertama kalinya saya menghadiri acara launching buku saya sendiri. Hmm… buku saya? Ya! Buku pertama saya akhirnya diterbitkan melalui nulisbuku.com dengan acara “99 Writers in 9 Days”.


Lajang Jalang oleh Vira Cla


Wednesday, July 14, 2010

Cer-Penis 1001 Kata: Negeri Sastra


                Saya bukanlah seorang pencipta karya sastra. Mungkin hanya seorang penikmat sastra. Tentunya bukan seorang kritikus sastra, yang katanya tak banyak ada di negeri ini. Negeri ini penuh dengan orang-orang yang menulis sastra, lalu orang-orang yang membaca sastra, untuk kemudian mengkritiknya sesuai selera subyektif. Hatta, siapalah saya?
                Inilah saya yang sedang berada di negeri sastra. Bukan siapa-siapa. Hanya pecundang yang senang berada di negeri sastra yang jumlah kritikus sastra kompetennya makin menciut. Saya si pecundang mencoba memberi angin segar pada atmosfir kesusastraan yang lama kelamaan hambar tanpa rasa. Akan membuat sedih jika sastra di negeri ini menjadi melempem. Di sini saya, di negeri sastra, mencoba mencipta sastra. Baiklah, saya mulai saja dengan menulis cerita.
                Pendek saja! Tak perlu panjang untuk menikmati sastra, walau panjang katanya lebih enak. Saya tidak peduli. Yang saya bisa, menulis pendek saja. Cerita pendek pembaharuan di negeri sastra. Begitulah saya dengan kosombongan saya yang bukan siapa-siapa ini. Padahal otak saya ber-IQ jongkok. Makanya saya tak sanggup menulis panjang-panjang. Panjang berarti berpikir lebih panjang. Jadi, inilah saya. Belum layak disebut sastrawan. Mungkin seorang cer-Penis saja.
                Kenapa? Ada yang salah dengan penulisan saya? Memang begitulah saya. Cerita pendek saya tak jauh dari masalah seonggok daging di belahan paha Adam. Bukankah dari sebuah barang itu lahir berbagai ragam masalah? Saya ngelindur? Saya ngelantur? Sudahlah! Tidak usah dibicarakan kenapa saya menjadi cer-Penis.
                Negeri ini, akan saya persembahkan sebuah karya sastra luar biasa suatu saat nanti. Tentang barang punya Adam itu. Ingatkah tentang tugu Monas yang sekarang tinggal puing? Sejak kelompok militan berkuasa di negeri ini, tugu itu dihancurkan! Karena katanya tugu itu simbol dari phallus! Pembela Monas bertahan dengan menyarungkannya dengan sebuah kolor, supaya tak tampak lagi seronok bagi kelompok militan. Tapi, yang berkuasa selalu menang. Tidak menggubris siapa saja yang menentang. Penis yang mencuat itu diledakkan. Negeri ini pun tak sama lagi sejak ‘sang phallus raksasa’ luluh-lantak.
                Pembela Monas histeris. Mereka tidak terima dengan peristiwa leburnya Monas. Simbol kejayaan proklamator mereka. Militan tak ambil pusing. Pembela monas yang melawan dihajar, dipukul, dibantai. Militan hanya tahu satu kebenaran. Tak suatu hal pun boleh vulgar di negeri ini! Pembela Monas tak terima. Mereka berdalih bahwa itu adalah karya seni! Kalah kekuatan, karena militan begitu agresif, Pembela Monas pun bergerilya.
                Negeri ini tak lagi sama. Negeri sastra ini hanya terkukung oleh sastra keterbatasan. Terbatas pada sastra itu-itu saja, padahal dulu begitu banyak sastrawan dengan pemikiran tajam dan menantang. Saya ke negeri sastra hendak mencari mereka yang diam-diam masih berkarya. Meminta bantu supaya satu karya yang telah saya siapkan untuk disebarluaskan di negeri ini. Karya seorang cer-Penis.
                “Gila, kau!” teriak salah seorang dari mereka. “Kau cari mati di sini?” tambahnya lagi. Tampaknya ia yang mengepalai perkumpulan sastrawan terlarang ini. Oh, ia pencipta Sukab. Sayang sekali jika sastrawan hebat sepertinya harus membekap karya-karyanya. Ah, militan sialan!
                “Tapi, mau sampai kapan begini terus?”
                “Kau tahu, karyaku yang menyelipkan satu kata kelamin saja dilarang! Diberanguskan! Apalagi, karya kau yang judulnya saja sudah memancing kerusuhan?! Bisa-bisa kau dirajam sama mereka!”
                “Mereka harus dilawan!” teriak saya lantang! Saya si pecundang tengil! Mereka terbahak-bahak kemudian.
                “Pemerintahan mereka kuasai, angkatan bersenjata mereka taklukkan, pers mereka komandoi, semuanya ada tangan-tangan mereka! Kau pengkhayal, berani bilang lawan dengan tangan kosong! Kalau kau benar mau jadi sastrawan di negeri ini, tak cukup hanya dengan berkhayal! Berpikirlah!”
                Saya membatu. Entah saya percaya pada katanya. Mungkin memang saya tak sanggup melawan hanya dengan sebuah karya. Tapi, bukankah ini negeri sastra? Seharusnya mereka yang berkuasa, para sastrawan besar itu?! Militan itu hanya punya kekuatan fisik. Sedangkan, mereka punya kekuatan pikir. Tidak cukupkah itu untuk melawan militan? Tidak mampukah kekuatan pikir mereka merubah haluan negeri ini kembali kepada kejayaan sastra? Tak malukah mereka sastra di negeri ini hanya sastra itu melulu, sastra yang disenangi militan?
                Saya si pecundang! Si cer-Penis yang mencoba melahirkan karya yang membuat militan itu takzim. Bahwa bukan satu kebenaran mereka saja yang patut diapresiasi. Inilah sastra dengan keberagamannya. Walau hanya tentang seonggok daging di belahan paha. Negeri sastra ini harus bangkit lagi!
                “Kau tahu pikir saya? Lawan! Itu saja! Lalu bertindaklah!” Itu saja cukup untuk membuat mereka pikir ulang.
                Dalam tempo singkat, semua karya para sastrawan yang dilarang, diproduksi sebanyak dua kali jumlah rakyat negeri ini. Semua pencipta sastra bergerilya mengedarkan semua karya itu. Pastilah penikmat-penikmat sastra di negeri ini terobati dahaga mereka akan sastra yang telah lama mendekam terpenjara.
                Para sastrawan besar pun menyusup ke dalam gedung-gedung pemerintahan, termasuk gedung wakil rakyat yang akan dihancurkan kaum militan. Kata mereka itu simbol barangnya perempuan di belahan paha. Tidak senonoh! Harus direnovasi dengan bentuk kubah! Pikiran mono mereka sungguh tak beralasan. Tak tahukah mereka pemaknaannya jauh melebihi kelamin?!
                Sastrawan besar diam-diam menyumpal otak kosong penguasa militan dengan karya mereka yang ajaib. Bagai terhipnotis, para militan begitu terkesima dengan karya itu. Lihat! Mereka memang hanya kuat fisik! Pikir mereka sangat kosong hingga sastrawan besar begitu mudah menenggelamkan otak mereka dalam dunia imaji penuh warna. Penguasa militan pun di bawah kontrol para sastrawan. Karya sastra yang beragam kembali menghiasi negeri sastra. Semua militan telah dicuci otak!
                “Sastra berjaya! Ragam sastra berwarna!” bagai baru terlahir negeri ini menyerukan kemerdekaan berkreasi mereka yang pernah disita. Rakyat berhamburan ke luar rumah, bersuka cita menanti karya-karya para sastrawan yang kembali diproduksi massal. Variasi sastra hidup kembali! Ya, beginilah harusnya negeri sastra!
                Saya akan terus menetap di sini, di negeri sastra. Satu karya saya tentang seonggok daging di belahan paha itu batal disebarluaskan. Kata si pencipta Sukab, saya masih harus belajar. “Kau bisa saja menulis dengan aliran itu. Kau hanya perlu berlatih menulis lebih sering. Kelak, kau akan jadi sastrawan besar di negeri sastra yang kau cinta ini. Mungkin saja nanti kau pengganti Jassin yang telah tiada, atau Sapardi yang telah menua. Hahaha...”
                “Menjadi kritikus sastra??? Hahaha... Itu diluar bayangan saya! Sementara ini, saya sedang mewujudkan impian saya menjadi cer-Penis. Seonggok daging di belahan paha tak melulu vulgar dan porno. Saya pun enggan menulis cerita menjijikkan, tapi ini tak sekedar cerita mesum. Saya ingin menulis cerita pendek saja. Sementara ini, tentang seonggok daging di belahan paha dahulu. Sementara ini, jadi cer-Penis saja. Hahaha...”


Catatan: boleh dihitung, cerita ini berjumlah 1001 kata.. sila kritik.. :D
Gambar dari sini

Friday, July 2, 2010

L A B I A

Ada dua. Atas dan bawah. Bentuknya beda. Lekukannya beda. Tapi, dua itu bisa menyatu jadi indah. Daya tarik yang menjeratku untuk mendekatimu. Kamu si perempuan cantik berbibir ranum. Manis berwarna merah jambu. Lihatlah lekuk garis bibir atas itu. Tepat di bawah filtrum si ceruk di bawah hidung. Banyak yang menamainya dengan Cupid Bow. Lekuk seperti busur yang selalu dibawa oleh Dewa Cinta, Cupid. Mungkin dengan busur di bibir atasmu itu Sang Cupid memanah hatiku hingga berhasrat padamu. Bibirmu membuatku menginginkanmu.
Bibir… Bibirku ingin beradu dengan bibirmu. Aku ingin hasrat yang bergelora di dada ini sampai ke bibirmu. Biar kamu merasakan getaran yang sama. Biar bibirmu menyampaikan ke dalam hatimu bahwa hati dan seluruh jiwa ragaku bergetar karenamu. Getaran cinta. Tahukah kamu itu? Mendekatlah! Biar kamu tahu… Biar kamu yakin dengan rasa yang kurasa.
Ah, kamu masih saja sibuk dengan percakapan di telpon itu. Gerakan bibirmu yang kompleks mengucap kata-kata yang tak jelas maknanya bagiku. Pikiranku tak mencerna suaramu. Pikiranku sedang mengkhayalkan gerakan bibir itu melumat bibirku. Kubayangkan nikmatnya. Namun berakhir dengan tepukan tanganmu di bahuku.
“Pulang yuk!” ajakmu sembari berdiri di sampingku. Kita selalu pulang bersama. Aku, si kekasih baik hati, yang setia mengantar perempuan cantikku sampai di rumah dengan selamat.
“Telpon dari siapa?” tanyaku sedikit cemburu.
“Teman.” Itu saja jawabmu. Lalu bibirmu membuat semburat lengkung yang indah. Sebuah senyuman yang selalu bisa membuatmu makin cantik. Bibir yang makin hari makin menggodaku untuk menciumnya.
Aku tak bicara lagi. Kulanjutkan menggandeng tanganmu ke tempat parkir mobil. Aku tak mau kamu bicara lagi. Itu hanya membuatku memandang bibirmu yang manis. Hanya membuatku ingin menciumnya bertubi-tubi. Ah, cintakah ini?
Di dalam mobil, kamu kembali bicara. Berceloteh entah apa. Telingaku seperti tak mendengar. Masih saja kupandangi bibir ranummu. Aku mendekat. Deru nafasku memburu. Entah apa yang menarik diriku. Cobalah… suara entah darimana.
Kamu tergugu, namun kemudian mendorong bahuku pelan. Aku kembali bersandar di jok depan mobil ini. Aku tergagap, entah ingin bicara apa. Aku tertunduk.
“Sayaaang… Jangan dulu ya! Aku nggak mau saat inginmu tercapai mencium labia oris-ku, inginmu akan meminta lebih lagi! Memangnya kamu mau labia genitalia-ku yang malahan nanti ingin kamu ciumi?! Nggak, kan! Ada waktunya nanti… Sabar ya sampai kita akhirnya menikah!”
Senyuman itu kembali hadir dari bibirmu. Aku makin tertunduk. Bibir itu telah mengeluarkan kata-kata saktinya. Spontanitasmu berpendapat, ketegasanmu melarang hanya membuat kelelakianku terusik. Sesungguhnya aku tersinggung. Tapi, dengan begitu, kamu tampak menjadi perempuan cantik dengan bibir indah. Bibir indah karena kata-kata kebaikan darinya. Bibir itu telah mengingatkanku. Ya, caraku salah meluapkan cinta yang harusnya suci. Aku telah menodainya dengan nafsu yang menggeliat di benakku. Maaf ya, sayang.
Bibirmu memang indah.
Bibir… Labia oris
Jkt, 2 Juli 2010.
Hanya cerita singkat tentang Labia the lips. Masih adakah gadis seperti perempuan dalam cerita yang saya kisahkan ini? Masih ada ya… Dan semoga masih banyak.
Jangan sembarangan berciuman bibir. Berilah ciuman itu hanya pada seorang yang dipercaya, seorang yang tepat, seorang yang halal. Ciuman bibir akan sangat melibatkan perasaan perempuan (mungkin juga lelaki). Hati-hati jika nanti patah hati setelah berciuman lalu ditinggal pergi. Tapi, silakan saja kalau mau mencoba. Nikmatilah (resikonya)… Hehehe…

Saturday, June 12, 2010

Bipolar Attack

Melodi Bellaluna mengalun indah dalam kamar Gadis. Suara Jason Mraz dalam lagu itu menyaru dengan suara bass Gilang. Gilang berlutut di depan Gadis yang sedang duduk di kasurnya. Saling berpandangan. Gadis takluk pada sorot mata Gilang yang tajam. Gilang bangkit hingga sejajar dengan Gadis. Wajah mereka saling mendekat. Kening mereka saling berhimpit. Hidung mereka masih berjarak. Bibir mereka ingin bersentuhan. Tangan mereka saling menggenggam. Hati mereka bergetar, berdesir, mungkin menahan hasrat gelora rasa.
“Dis, sesuatu dalam hatiku sedang berlonjak girang. Membuat hatiku tak bisa tenang. Dis, aku cinta kamu.” Gilang tak bernyanyi lagi. Senandungnya berganti curahan hati. Gadis hanya tersenyum. Lengkung bibirnya indah. Sekejap kemudian, tak ada Gilang dalam kamar Gadis.
Gadis terpana melihat kekosongan di depan matanya. Hatinya hancur. Remuk yang tak terperikan. Gadis membaringkan badannya. Merentangkan tangannya. Ilusi yang menyesakkan. “Kenapa kehadiran Gilang tak bisa jadi nyata?” batin Gadis. Gadis bersedih. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu sampai kapan kesedihan ini didera. Gadis menangis. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu kenapa matanya tak pernah kering. Gadis terisak. Lagi, untuk kesekian kalinya. Dan, ia tak tahu kenapa Gilang tak bisa merasakan kesedihannya. Kenapa Gilang belum datang padanya? Tanda tanya yang membuat Gadis semakin larut dalam depresi kehilangan jejak Gilang.
***
“Ah, ia hanya pergi sebentar. Sementara itu, saya akan melakukan apa saja yang membuat saya senang. Saya bisa berbahagia, meski tanpa ia.” Gadis bicara pada bayangannya di cermin. Ia duduk lama memandang raut muka yang sekarang cerah karena perona pipi. Hitam di kantung mata telah hilang. Ia cantik. Dan ia pun tersenyum.
Gadis dalam kamar. Pemutar musik dinyalakan. Musik yang menghentak. Membuat Gadis menggerakkan badannya. Ia menari mengikuti irama. Kepalanya digoyangkan. Tangannya di udara. Kakinya melangkah kesana kemari. Ia berputar. Terus berputar. Seperti hanyut dalam fase trans. Musik berhenti. Gadis tetap menari. “Saya sedang berbahagia. Saya akan terus menari.” Gadis bergumam dengan nafas tersengal. Ia letih. Dan, ia terus menari.
“Saya hanya tidak ingin bersedih lagi tiap malam, dalam pembaringan menjelang terlelap tidur, karena mengingat kita; saya dan kamu.” Kata hatinya. Gadis melanjutkan tariannya. Sekarang, ia ingin bersenang-senang. Ia tak ingin mengingat duka yang pernah ia rasakan. Gadis selalu berharap ia amnesia, bisa melupakan masa lalunya, lalu menjalani hari-hari selanjutnya dengan damai dan bahagia.
Nyatanya, Gadis tak bisa hidup tenang sampai saat ini. Ia merasa bisa mengendalikan suasana hatinya. Padahal ia tidak pernah tahu kesedihan yang mendalam selalu saja bisa mendatanginya tiap saat kapan saja. Gadis tak pernah tahu gangguan bipolar akan selalu menghantuinya.
***

Mengenai Bipolar Disorder atau Gangguan Bipolar (Manic-Depressive Disorder) dapat dibaca disini.

Tuesday, June 1, 2010

Cinta Semusim

I’ll never be the same
If we ever meet again
Satu musim telah saya lewati tanpa kehadirannya. Ya, baru satu musim. Daun-daun kering kerontang habis dari ranting. Gugur demi bertahan hidup si pohon. Daun-daun yang rela melepaskan diri, lalu mati berserak menjadi sampah tersebar di atas tanah. Tapi, sampah dedaunan masih berarti. Seseorang yang peduli akan mengumpulkannya lalu menjadikannya pupuk kompos yang dipakai lagi untuk menghidupi daun-daun yang baru.
Saya tak seperti dedaunan yang berguguran. Walau saya tahu bahwa hati saya telah kering diperas rindu yang sangat padanya. Ingin rasanya, saya melepaskan diri dari perasaan ini. Namun, hati itu masih menggantung di sana, di tempat cinta pernah disemai. Di sana, ketika ia masih ada memeluk erat hati saya tanpa pernah lepas. Di sana, ketika ia begitu mencintai saya. Mengisi hati saya dengan rindu dan cinta. Rindu yang selalu ada. Cinta yang sekarang entah ia bawa kemana.
“Saya pernah bilang padanya, saat ia kembali nanti, saya tidak akan melepasnya pergi lagi.”
“Apa maksudmu, Ndis?” Bagas menyeruput kopi panasnya. Di balkon rumah, saya dan Bagas duduk santai menikmati angin sejuk musim gugur. Sebentar lagi musim dingin datang.
“Saya tidak akan melepasnya pergi. Saya akan memintanya tinggal.”
“Hahaha… Gendis, Gendis!” Gelak tawa Bagas membuat saya enggan untuk bicara lagi dengannya. “Kau masih ingat sama si tolol itu? Ya, ya… Saya tahu Adrian adalah kekasihmu. Tidak mungkin kamu melupakannya, bahkan ketika ia telah pergi meninggalkan kamu. Heh…” Bagas menghela napas dalam. Saya masih enggan bicara.
“Musim panas yang membara. Tapi, bara cinta kalian lebih panas dari hawa musim itu. Kalian terlalu jauh menjelajah rasa. Kalian hanya paham saat itu kalian saling jatuh cinta. Kamu tidak peduli bahwa ia sementara saja di sini. Ah, sudah berapa kali kukatakan ini padamu, Ndis.” Bagas memalingkan mukanya dari wajah saya. Ia beranjak dari bangku yang ia duduki dari tadi. Membalikkan badannya pada saya, lalu bersandar di pilar balkon yang selebar bahunya.
“Ndis, Adrian hanya memanfaatkan kamu selama ia liburan di sini.” kata Bagas pelan tapi dalam. “Musim panas tahun depan ia tidak akan kembali ke Long Island.”
“Bohong! Tahu dari mana kamu?” Muka saya panas. Semu merah karena marah.
“Adrian telah mendapatkan kerjaan tetap di Amsterdam. Ia kembali ke kampungnya, Ndis. Seperti kamu nanti, setelah lulus kuliah, akan kembali ke Jawa.”
Bagas tak peduli dengan kegundahan saya. “Adrian akan kembali ke sini, jika saya tak memaksanya untuk tinggal, jika saya melepasnya. Karena ia akan kembali. Itu kata Adrian pada saya, Bagas.”
“Ndis, kamu perempuan modern! Masih tertipu dengan gombalan pria? Hahaha… “
“Jangan meledekku seperti itu!” kata saya geram.
“Kalau benar ia akan kembali, ia tidak akan menggantungmu tanpa pesan apa pun. Ia akan mengabarimu setiba ia di Amsterdam. Ia akan membalas berpuluh emailmu. Semusim hampir habis, Ndis. Tak lama lagi, musim berganti. Sampai kembali ke musim panas pun, ia tak akan kembali.”
“Kalau ia tak akan kembali, kenapa kamu membiarkan saya kenal dengannya? Kenapa kamu membiarkan saya jatuh cinta pada Adrian?” Mata saya berkaca-kaca. Kenapa saya menyalahkan Bagas? Bagas bahkan tak meminta saya kenalan dengan pria yang sekampus dengannya di Massachuset itu.
Bagas diam. Bukan! Ini bukan salah Bagas. Ini bukan salah siapa-siapa. Adrian hanya ingin berlibur di New York, lalu mampir ke Long Island bertemu Bagas, sepupu saya satu-satunya yang menjaga saya hidup di negeri Paman Sam. Pertemuan yang hanya direncanakan sekali, berubah menjadi pertemuan yang terus-menerus untuk bertemu saya, walau dua jam perjalanan Manhattan-Long Island.
Cinta tak pernah salah. Ketika saya dan Adrian saling jatuh cinta, hanya waktu saja yang tak tepat. Awal musim panas yang indah, lalu berakhir dengan kesedihan dan perpisahan. Hanya semusim. Cinta mampu membuat saya jatuh terlalu jauh. Dan, saya percaya Adrian merasakan getaran yang sama. Adrian tak menghubungi saya sekarang karena ia tak mau lagi waktu yang tak tepat.
Saya tak meragukan cinta Adrian pada saya.
Saya tak meragukan bahwa saya dan Adrian memang saling jatuh cinta.
Saya percaya bahwa cinta semusim itu nyata ada.
Adrian akan kembali pada saya, walau harus bermusim-musim menunggu. Walau hati saya telah kering diperas rindu, rasa cinta saya tak pernah gugur. Karena bila cinta ini gugur, hati ini tak akan berarti lagi. Adrian akan kembali. Ketika ia kembali nanti, saya tak lagi perempuan yang sama seperti dulu, yang pasrah akan kepergiannya. Ketika ia kembali nanti, akan saya curahkan segala rasa dan rindu yang tertahan. Ketika ia kembali nanti, saya tidak akan melepasnya pergi lagi.
If we ever meet again
I’ll have much more to say
If we ever meet again
I won’t let you go away
Jkt, 01062010
- Semoga ia kembali lagi ya… -
Terinspirasi dari lagu Timbaland, ‘If We Ever Meet Again

Monday, March 15, 2010

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

SAJAK KECIL TENTANG CINTA

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaimu harus menjelma aku

***


PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

***


NOKTURNO

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya
gelisah

tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

***


KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA

ketika jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

ketika jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

***


HUTAN KELABU

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

***


HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

***


HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

***


GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…

***


DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…

***


DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

***


BUAT NING

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

***


AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

***


sumber: http://manuskripkesunyian.wordpress.com
sumber foto: http://www.mundopoesia.com
/foros/members/silencio-nocturno-albums-silencio-nocturno-picture8668-mar-nocturno.html