Saturday, January 24, 2009

Senyuman Bapak Tua di Stasiun

Saat ku lihat senyuman seorang bapak tua di stasiun kereta, aku tersentak. Ketiga kalinya dia menawarkan jualan pin-pin mungil dalam nampan kecilnya. "Gopek, mbak." tawarnya padaku. Sudah tiga kali. Tiga kali pula dia tersenyum. Dan ketiga kali ini, aku baru membalas senyumannya dgn gelengan kepala.

Terus saja ku perhatikan bapak tua dgn pakaian lusuh itu. Dgn tas ransel yg koyak disandangnya, dgn sepatu hitam yg benar2 sudah tak layak pakai, langkah si bapak tetap semangat walau jelas terlihat penat.
Kasihan, pikirku.

Beban si bapak pastilah berat. Setua itu dia masih bekerja keras. Tapi lihatlah.. Dia masih bisa tersenyum.
Ku terus berpikir.. Aku yg masih muda begini, pasti bisa menanggung beban seberat apapun. Aku pasti bisa untuk tersenyum. Aku tak harus menunggu membalas senyuman orang pada kali ketiga. Hidup ini memang berat ketika beban itu datang. Tapi yakinlah, Tuhan pasti memberi beban yg tak akan melebihi kemampuan kita. Dan aku yakin, aku masih bisa terus tersenyum.

Friday, January 23, 2009

Surat untuk Calon Suami

Calon suami yg kusayang..
Kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja. Ada hal yg ingin kusampaikan melalui surat ini. Hal-hal yg enggan aku katakan langsung padamu. Hal-hal yg intinya hanya tentang aku...perempuan.

Dari kecil perempuan ini dirawat dan dijaga ayah ibu. Tak seorang lelaki pun dibiarkan mendekatiku sampai aku pantas utk didekati. Dan nasehat-nasehat itu tak pernah bosan meluncur dr mulut mereka.

Aku slalu ingat utk menjaga auratku.. Aku slalu ingat utk menjaga hatiku.. Aku slalu ingat utk tidak membiarkan lelaki berjalan berdua dgnku. Aku slalu ingat utk menjaga tanganku dr genggaman lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga pipiku dr belaian lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga bibirku dr kecupan lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga seluruh tubuhku dari tipu daya lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga KEHORMATAN PEREMPUAN. Aku slalu ingat.. Kecuali saat pertemuan itu.

Kubiarkan kain penutup kepala itu terlepas. Kubiarkan hatiku menguasai akal sehat. Kubiarkan utk berdua saja. Kubiarkan genggamannya. Kubiarkan belaiannya. Kubiarkan kecupannya. Kubiarkan seluruh tubuhku dijamahnya. Kubiarkan kehormatan perempuan dirampasnya.

Kepada calon suami yg tak menerimaku lagi karna nafsumu.. Aku minta maaf. Diriku tak kau dapati suci lagi. Aku memang tak pantas.

Kepada calon suami sahabatku.. Selamat utkmu telah menemukan perempuan suci sbg istrimu.

Salam,
perempuan yg kau campakkan karna tak pantas menjadi istrimu

(I dedicate this words to all moslem girls)

Sunday, January 18, 2009

Batu Besar

Jalan ini buntu..
Apa aku harus berbalik?
Tapi lampu jalan dibelakang telah padam
Aku takut kembali kesana.
Kemana ku kan melangkah?
Haruskah ku diam di tempat?
Menunggu seseorang menyusulku disini? Dan bersama kembali kesana? Menunggu sampai kapan?
Aku berdoa dgn khusyuk dan dgn sangat memohon.. Sampai kulihat secercah sinar menerobos tembok kebuntuan ini..
Sinar dari satu celah.. Bukan.. Ada beberapa.. Aku melongok mengintip salah satunya.. Benderang.. Terang.. Seperti sinar sang surya menyilaukan..
Lihatlah.. Semakin terang.. Aku terus berdoa.. Berharap bisa keluar dari kebuntuan ini..
Lagi.. Semakin benderang.. Semakin meninggi sinar itu.. Tampak bulat..mataku perih..
Benar.. Matahari..
Kulihat lg yg menghalangiku.. Memang buntu.. Namun..
Ini hanya BATU BESAR..
Aku bisa berputar mengelilinginya..
Aku bisa berbelok kanan sedikit lalu jalan lurus..
Aku bisa berbelok kiri sedikit lalu jalan lurus..
Aku bisa mengambil palu memecahkan batu..
Aku pun bisa berbalik arah saja, kembali ke jalan semula..
Sebesar apapun batu itu.. Aku punya banyak pilihan..
Tak lagi buntu

*perempuan yang mulai merangkak dari kejatuhan