Thursday, October 8, 2009

Ia di dalam kepala!

Ia ada dalam kepala saya. Ia bisa berupa apa saja dan bermakna semau ia. Ia tetap ada dalam kepala dan akan terus ada. Meneror saya siang malam tanpa jera. Ia bosan di dalam dan ingin keluar. Tapi kepala ini bagai berpagar. Dibatasi perasaan saya yang melarang ia bebas. Ia pun makin memberi saya teror keras.

Ia terus memaksa hingga saya lelah. Memaki saya seorang lemah. Menghujat saya seorang pengecut. Mungkin karena ia ingin menjadikan saya penurut. Karena ia ingin berkuasa. Meracuni pikiran saya, mengeruhkan jernihnya rasa. Saya tertunduk, entah takut entah malu. Mungkin terhina dalam perasaan semu.

Saya kalah, namun kalah dalam kepuasan nyata. Ya, puas telah membebaskan ia ke secarik kertas. Tak lagi saya pedulikan penilaian manusia. Ia telah bebas, ia pun merasa puas. Padahal pernah saya pikir ia tak punya rasa. Dan kini, biarlah ia makin menyesak, saya relakan ia keluar, walau tetap ada ia dalam kepala. Karena ia tak bisa punah, ia akan selalu ada. Karena ia adalah kata.

Jakarta, 8 Oktober 2009, 13:30

Thursday, August 13, 2009

Dua Sisi

Saat gelap lihatlah berjuta bintang.
Saat terang lihatlah satu bayangan.
Di ruang tandus, gelap terang berganti terus.
Disanalah kau berdiri, dalam dua sisi.
Tampak menawan dalam gelapnya hitam.
Menyejukkan dalam terangnya putih.
Dan aku mengerti, selalu ada dua sisi; hitam dan putih.

Thursday, June 18, 2009

PEDULI SETAN!

Awalnya tidak ada yang peduli sampai dia menghilang. Mereka bertanya-tanya, "Apa yang terjadi dengannya? Kemana dia pergi?"

Ah, paling mereka itu cuma pura-pura peduli, biar tetap dianggap makhluk sosial. Makhluk sosial yang bernama manusia...yang katanya saling membutuhkan. Tapi, apa yang mereka butuhkan dari dia? Menurutku, peduli setan dia menghilang! Kenapa sekarang mereka mencari-cari? Tidak ingat dulu mereka pun tak menoleh saat dia jalan berpas-pasan dengan mereka?

Dia sudah pergi. Aku yakin tak seorang pun yang merasa kehilangan. Ah, masih saja mereka ingin tau! Apa urusan mereka dengannya? Terus saja mereka penasaran. Dan terus ku mengumpat, peduli setan! Biarkan saja dia pergi tanpa perlu kalian berkata-kata lagi! Masih saja mereka beranggapan penting membicarakan kepergiannya yang misterius itu. Sudahlah, kalian itu menghabiskan waktu untuk mengira-ngira. Kalian tak kenal dia. Jangan mengata-ngatainya lagi. Ah, masih saja aku mengumpat! Kenapa sih mereka tak diam saja? Biarlah dia menghilang, biarlah dia pergi kemana dia mau. Mereka toh tetap bisa melangkah tanpa dia. Ada dia tiada dia, tak ada yang berubah dari mereka. Cuma berubah jadi pembicara-pembicara kotor.

Mereka pikir dia itu aneh. Setauku, merekalah yang aneh, peduli dengan ke-tiada-annya tapi acuh dengan ke-ada-annya. Berhentilah! Biarkan dia dengan ke-apa-ada-annya!

Saturday, February 7, 2009

Karena Saya Perempuan

Tadinya saya pikir, dengan menjilbabkan aurat, saya tidak akan melakukan dosa-dosa yang 'wajar' saya lakukan saat belum berjilbab.
Tadinya saya pikir, dosa besar pun tak kan terulang jika saya menjilbabkan aurat.
Tadinya saya pikir, saat berjilbab aurat, saya bisa menghapus dosa saya dengan pahala.
Tadinya pun saya pikir, dengan berjilbab aurat, saya akan jadi perempuan baik dan lebih baik..

Pikir saya.. Begitu naif.

Saya telah berjilbab aurat, dan ternyata tidak cukup sampai titik tersebut..
Saya telah berjilbab aurat, dan ternyata saya tak juga menambah amal..
Saya telah berjilbab aurat, dan ternyata saya masih saja sama seperti tak berjilbab..
Saya telah berjilbab aurat, dan ternyata saya belum juga jadi perempuan lebih baik, bahkan perempuan baik pun belum..

Jilbab aurat hanya langkah awal..
Jilbab hati adalah krusial..
Tak kan bisa berjilbab hati jika belum berjilbab aurat..
Telah berjilbab aurat saatnya menjilbabkan hati..

Karena saya telah berjilbab aurat.. Saatnya saya mulai menjilbabkan hati..
Karena saya perempuan..

(I dedicate this words to my best friend, Viharsi, who already wear hijab)

Saturday, January 24, 2009

Senyuman Bapak Tua di Stasiun

Saat ku lihat senyuman seorang bapak tua di stasiun kereta, aku tersentak. Ketiga kalinya dia menawarkan jualan pin-pin mungil dalam nampan kecilnya. "Gopek, mbak." tawarnya padaku. Sudah tiga kali. Tiga kali pula dia tersenyum. Dan ketiga kali ini, aku baru membalas senyumannya dgn gelengan kepala.

Terus saja ku perhatikan bapak tua dgn pakaian lusuh itu. Dgn tas ransel yg koyak disandangnya, dgn sepatu hitam yg benar2 sudah tak layak pakai, langkah si bapak tetap semangat walau jelas terlihat penat.
Kasihan, pikirku.

Beban si bapak pastilah berat. Setua itu dia masih bekerja keras. Tapi lihatlah.. Dia masih bisa tersenyum.
Ku terus berpikir.. Aku yg masih muda begini, pasti bisa menanggung beban seberat apapun. Aku pasti bisa untuk tersenyum. Aku tak harus menunggu membalas senyuman orang pada kali ketiga. Hidup ini memang berat ketika beban itu datang. Tapi yakinlah, Tuhan pasti memberi beban yg tak akan melebihi kemampuan kita. Dan aku yakin, aku masih bisa terus tersenyum.

Friday, January 23, 2009

Surat untuk Calon Suami

Calon suami yg kusayang..
Kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja. Ada hal yg ingin kusampaikan melalui surat ini. Hal-hal yg enggan aku katakan langsung padamu. Hal-hal yg intinya hanya tentang aku...perempuan.

Dari kecil perempuan ini dirawat dan dijaga ayah ibu. Tak seorang lelaki pun dibiarkan mendekatiku sampai aku pantas utk didekati. Dan nasehat-nasehat itu tak pernah bosan meluncur dr mulut mereka.

Aku slalu ingat utk menjaga auratku.. Aku slalu ingat utk menjaga hatiku.. Aku slalu ingat utk tidak membiarkan lelaki berjalan berdua dgnku. Aku slalu ingat utk menjaga tanganku dr genggaman lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga pipiku dr belaian lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga bibirku dr kecupan lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga seluruh tubuhku dari tipu daya lelaki. Aku slalu ingat utk menjaga KEHORMATAN PEREMPUAN. Aku slalu ingat.. Kecuali saat pertemuan itu.

Kubiarkan kain penutup kepala itu terlepas. Kubiarkan hatiku menguasai akal sehat. Kubiarkan utk berdua saja. Kubiarkan genggamannya. Kubiarkan belaiannya. Kubiarkan kecupannya. Kubiarkan seluruh tubuhku dijamahnya. Kubiarkan kehormatan perempuan dirampasnya.

Kepada calon suami yg tak menerimaku lagi karna nafsumu.. Aku minta maaf. Diriku tak kau dapati suci lagi. Aku memang tak pantas.

Kepada calon suami sahabatku.. Selamat utkmu telah menemukan perempuan suci sbg istrimu.

Salam,
perempuan yg kau campakkan karna tak pantas menjadi istrimu

(I dedicate this words to all moslem girls)

Sunday, January 18, 2009

Batu Besar

Jalan ini buntu..
Apa aku harus berbalik?
Tapi lampu jalan dibelakang telah padam
Aku takut kembali kesana.
Kemana ku kan melangkah?
Haruskah ku diam di tempat?
Menunggu seseorang menyusulku disini? Dan bersama kembali kesana? Menunggu sampai kapan?
Aku berdoa dgn khusyuk dan dgn sangat memohon.. Sampai kulihat secercah sinar menerobos tembok kebuntuan ini..
Sinar dari satu celah.. Bukan.. Ada beberapa.. Aku melongok mengintip salah satunya.. Benderang.. Terang.. Seperti sinar sang surya menyilaukan..
Lihatlah.. Semakin terang.. Aku terus berdoa.. Berharap bisa keluar dari kebuntuan ini..
Lagi.. Semakin benderang.. Semakin meninggi sinar itu.. Tampak bulat..mataku perih..
Benar.. Matahari..
Kulihat lg yg menghalangiku.. Memang buntu.. Namun..
Ini hanya BATU BESAR..
Aku bisa berputar mengelilinginya..
Aku bisa berbelok kanan sedikit lalu jalan lurus..
Aku bisa berbelok kiri sedikit lalu jalan lurus..
Aku bisa mengambil palu memecahkan batu..
Aku pun bisa berbalik arah saja, kembali ke jalan semula..
Sebesar apapun batu itu.. Aku punya banyak pilihan..
Tak lagi buntu

*perempuan yang mulai merangkak dari kejatuhan